Kuasa Cuaca Ekstrem di Afghanistan Membunuh 61 Korban Jiwa dalam Tiga Hari Berikutnya. Situasi Capai Level Chaos, Banyak Rumah Hancur dan Hewan Mati.
Pada tiga hari terakhir, gelombang cuaca ekstrem yang melanda Afghanistan telah menghantam lebih dari 60 orang dan menyebabkan ribuan lainnya terluka. Berdasarkan laporan Otoritas Penanggulangan Bencana Nasional, sedikitnya 61 korban jiwa meninggal dunia akibat hujan lebat dan salju tebal yang melanda negara tersebut. Selain itu, ratusan rumah warga hancur, ribuan hewan ternak mati, dan banyak komunitas di daerah terpencil tidak memiliki perlindungan memadai dari cuaca ekstrem.
"Korban jiwa lebih dari 61 orang meninggal dunia, sedangkan 110 korban lainnya mengalami luka-luka," kata Yousaf Hammad, juru bicara Otoritas Penanggulangan Bencana Nasional. "Selain itu, 458 rumah hancur total atau sebagian, dan ratusan hewan ternak mati."
Cuaca ekstrem yang berkepanjangan telah memperparah kondisi Afghanistan yang sudah rentan terhadap kejadian cuaca ekstrem. Salju tebal dan hujan deras kerap memicu banjir bandang yang dalam, sehingga banyak korban jiwa yang meninggal dunia.
Pada tahun 2024 lalu, lebih dari 300 orang dilaporkan meninggal dunia akibat banjir bandang yang terjadi pada musim semi. Dampak bencana makin berat karena Afghanistan masih dibebani konflik berkepanjangan, infrastruktur yang buruk, kondisi ekonomi yang rapuh, deforestasi, dan dampak perubahan iklim yang semakin intens.
Situasi tersebut membuat banyak komunitas, terutama di daerah terpencil, tidak memiliki perlindungan memadai dari cuaca ekstrem. Banyak rumah warga dibangun dari tanah liat, yang sangat rentan rusak ketika diterjang hujan lebat atau tertimbun salju.
Di bagian timur negara itu, sejumlah provinsi masih berjuang pulih dari gempa bumi besar yang terjadi tahun lalu, pada akhir Agustus dan kembali mengguncang pada November. Gempa tersebut menghancurkan banyak desa dan menewaskan lebih dari 2.200 orang.
Warga yang kehilangan tempat tinggal akibat gempa kini menjadi kelompok paling rentan menghadapi cuaca dingin ekstrem. Pada Desember lalu, UNICEF menyatakan sekitar 270.000 anak-anak di wilayah terdampak gempa berada dalam kondisi "sangat berisiko terkena penyakit yang mengancam jiwa akibat cuaca dingin".
Krisis kemanusiaan di Afghanistan juga diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. Awal bulan ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan Afghanistan akan "tetap menjadi salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia pada 2026".
Pada tiga hari terakhir, gelombang cuaca ekstrem yang melanda Afghanistan telah menghantam lebih dari 60 orang dan menyebabkan ribuan lainnya terluka. Berdasarkan laporan Otoritas Penanggulangan Bencana Nasional, sedikitnya 61 korban jiwa meninggal dunia akibat hujan lebat dan salju tebal yang melanda negara tersebut. Selain itu, ratusan rumah warga hancur, ribuan hewan ternak mati, dan banyak komunitas di daerah terpencil tidak memiliki perlindungan memadai dari cuaca ekstrem.
"Korban jiwa lebih dari 61 orang meninggal dunia, sedangkan 110 korban lainnya mengalami luka-luka," kata Yousaf Hammad, juru bicara Otoritas Penanggulangan Bencana Nasional. "Selain itu, 458 rumah hancur total atau sebagian, dan ratusan hewan ternak mati."
Cuaca ekstrem yang berkepanjangan telah memperparah kondisi Afghanistan yang sudah rentan terhadap kejadian cuaca ekstrem. Salju tebal dan hujan deras kerap memicu banjir bandang yang dalam, sehingga banyak korban jiwa yang meninggal dunia.
Pada tahun 2024 lalu, lebih dari 300 orang dilaporkan meninggal dunia akibat banjir bandang yang terjadi pada musim semi. Dampak bencana makin berat karena Afghanistan masih dibebani konflik berkepanjangan, infrastruktur yang buruk, kondisi ekonomi yang rapuh, deforestasi, dan dampak perubahan iklim yang semakin intens.
Situasi tersebut membuat banyak komunitas, terutama di daerah terpencil, tidak memiliki perlindungan memadai dari cuaca ekstrem. Banyak rumah warga dibangun dari tanah liat, yang sangat rentan rusak ketika diterjang hujan lebat atau tertimbun salju.
Di bagian timur negara itu, sejumlah provinsi masih berjuang pulih dari gempa bumi besar yang terjadi tahun lalu, pada akhir Agustus dan kembali mengguncang pada November. Gempa tersebut menghancurkan banyak desa dan menewaskan lebih dari 2.200 orang.
Warga yang kehilangan tempat tinggal akibat gempa kini menjadi kelompok paling rentan menghadapi cuaca dingin ekstrem. Pada Desember lalu, UNICEF menyatakan sekitar 270.000 anak-anak di wilayah terdampak gempa berada dalam kondisi "sangat berisiko terkena penyakit yang mengancam jiwa akibat cuaca dingin".
Krisis kemanusiaan di Afghanistan juga diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. Awal bulan ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan Afghanistan akan "tetap menjadi salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia pada 2026".