Dampak konflik AS-Venezuela masih terbatas, kata ahli. Peneliti Senior Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan mengatakan risiko konflik dengan Venezuela bagi Indonesia dan negara-negara lain di dunia sangat bergantung pada transisi pemerintahan di Venezuela. Jika transisi itu berjalan mulus, maka dampaknya masih terbatas.
Namun, jika Venezuela diambil alih oleh Presiden AS Donald Trump, dalam situasi yang krisis seperti Iran, maka dampaknya akan menjadi besar. Pasokan harga minyak dunia bisa terhambat dan mengerek harga minyak dunia. Jika konflik-konflik geopolitik meletus berbarengan, maka situasinya menjadi mengkhawatirkan.
Deni juga menjelaskan bahwa konflik antara AS dengan Venezuela terjadi karena hubungan rivalitas AS dengan Cina. AS mencoba menguasai cadangan minyak yang dimiliki oleh Venezuela agar pasokan ke Cina berkurang. Ini merupakan upaya untuk menyeimbangkan posisi China. Amerika Serikat mencoba mengamankan pasokan minyak supaya dolar tetap menjadi mata uang utama dan menghindari hal tersebut.
Sementara itu, Amerika Serikat juga berkepentingan untuk menjaga dominasi dolar di tengah upaya sejumlah negara seperti Cina, Rusia, dan negara lain yang tergabung dalam BRICS untuk memperluas transaksi minyak menggunakan mata uang non-dolar.
Namun, jika Venezuela diambil alih oleh Presiden AS Donald Trump, dalam situasi yang krisis seperti Iran, maka dampaknya akan menjadi besar. Pasokan harga minyak dunia bisa terhambat dan mengerek harga minyak dunia. Jika konflik-konflik geopolitik meletus berbarengan, maka situasinya menjadi mengkhawatirkan.
Deni juga menjelaskan bahwa konflik antara AS dengan Venezuela terjadi karena hubungan rivalitas AS dengan Cina. AS mencoba menguasai cadangan minyak yang dimiliki oleh Venezuela agar pasokan ke Cina berkurang. Ini merupakan upaya untuk menyeimbangkan posisi China. Amerika Serikat mencoba mengamankan pasokan minyak supaya dolar tetap menjadi mata uang utama dan menghindari hal tersebut.
Sementara itu, Amerika Serikat juga berkepentingan untuk menjaga dominasi dolar di tengah upaya sejumlah negara seperti Cina, Rusia, dan negara lain yang tergabung dalam BRICS untuk memperluas transaksi minyak menggunakan mata uang non-dolar.