Cinta Bukan Soal Siapa Lebih Kuat: Memaknai Relasi yang Setara

Kuasa dalam hubungan romantis, bukan hanya soal siapa yang lebih kuat. Menurut penelitian, hubungan sehat bukan itu, tapi juga keseimbangan emosi dan keputusan bersama.

Kuasa dalam konteks ini adalah pengaruh dari hubungan yang menentukan emosi maupun perilaku pasangannya. Namun, jika hanya terjadi satu arah saja pengaruh, maka relasi menjadi timpang atau tidak seimbang.

Dalam hubungan yang sehat, kuasa bersifat saling memengaruhi dan melibatkan empati serta batasan tanpa rasa takut. Pihak mana pun yang memiliki kekuasaan pada suatu saat juga dapat membuka ruang dan menyerahkan. Dari sisi pribadi, hubungan diintegrasikan dengan diri sendiri, bukan hanya mengikuti.

Tapi, apa sajakadarnya? Kuasa ini muncul dari berbagai aspek dalam hubungan romantis. Ada tiga jenis kuasa yang umum hadir: kekuasaan posisi, kekuasaan pribadi, dan lain-lain.

Kekuasaan posisi adalah pembagian peran dan tanggung jawab dalam relasi. Jika salah satu pihak selalu menjadi pengambil keputusan sementara yang lain hanya mengikuti, maka hubungan menjadi timpang. Contohnya, jika suami selalu menentukan rencana akhir pekan hingga membeli rumah, maka istri ini dianggap tidak berdaya.

Kekuasaan pribadi juga hadir melalui kepribadian dan cara seseorang mengekspresikan emosi dan tubuhnya. Di mana salah satu pasangan lebih sering berbicara dan didengar dalam percakapan, maka kekuasaan ini dihadapkan kepada pihak lain.

Lalu ada kekuasaan ekonomi/keuangan yang terjadi dari akses dan kontrol terhadap uang. Pihak yang mengelola atau menghasilkan lebih banyak uang sering kali memiliki pengaruh lebih besar dalam pengambilan keputusan, hal ini dapat berdampak pada kebahagiaan.

Kekuasaan koersif adalah bentuk kuasa yang paling berbahaya. Ini melibatkan pola pengendalian intimidasi atau ancaman baik secara emosional, psikologis maupun perilaku. Kekuasaan koersif bertujuan untuk mengambil alih kekuasaan, bukan menyelesaikan masalah.

Setiap orang membawa keahlian tertentu dalam hubungan romantis. Jika dijadikan alat legitimasi untuk menguasai semua keputusan, maka itu merupakan kekuasaan koersif yang berbahaya.

Kekuasaan emosional ada dalam bentuk siapa yang boleh marah dan sedih, dan siapa yang harus menenangkan diri atau memahami orang lain. Manipulasi perasaan adalah contoh dari kekuasaan emosional.

Terakhir adalah kekuasaan fisik yang bukan hanya berupa kekerasan langsung, tapi juga bahasa tubuh yang mengintimidasi dan ruang gerak yang terbatas. Semua ini dapat menciptakan rasa takut dan ketimpangan kuasa dalam hubungan.

Studi yang dipublikasikan di Journal of Social and Personal Relationships menunjukkan bahwa kebahagiaan dalam hubungan utamanya tidak ditentukan oleh "kekuasaan objektif", tapi lebih kepada "rasa kuasa subjektif". Faktor ini terletak pada sejauh mana masing-masing pihak memiliki ruang untuk ikut mengambil keputusan yang penting bagi dirinya.

Ketimpangan kuasa dalam hubungan tidak dapat dilalui dengan cara pembagian kekuasaan yang identik, melainkan pengalaman psikologis yang setara. Dua pasangan harus merasa didengar, memiliki otonomi, dan mampu bernegosiasi tanpa tekanan.

Jadi, apa sajakadarnya? Kekuasaan dalam hubungan romantis bukan hanya soal siapa yang lebih kuat, tapi juga tentang bagaimana pihak mana pun dapat membuka ruang dan menyerahkan.
 
Kalau nih, aku pikir relasi yang sehat itu gampang sekali. Aku ingat kalau ketika aku masih kecil, aku pernah melihat nenekku dan bukannya pernah bertengkar sama, tapi kalau ada masalah, mereka selalu bisa berbicara dan menyelesaikan. Saya pikir itu karena mereka memiliki empati yang banyak dan tidak pernah menyerah.

Aku juga ingat saat aku masih SMA, aku pernah melihat teman-temanku yang memiliki relasi yang sangat seimbang. Mereka bisa berbagi keputusan dan tidak pernah mengkhawatirkan satu sama lain. Saya pikir itu karena mereka memiliki komunikasi yang baik dan selalu mendengarkan.

Tapi, kalau nih, aku rasa aku sendiri masih banyak hal yang belajar dari relasi orang lain. Aku ingat kalau ketika aku masih single, aku pernah melihat teman-temanku yang memiliki relasi yang sangat tidak seimbang. Mereka selalu berbicara dan dihormati, tapi ketika ada masalah, mereka tidak bisa menyelesaikan. Saya pikir itu karena mereka tidak memiliki komunikasi yang baik dan kurang memiliki empati.

Aku rasa, semua relasi itu unik dan tidak sama. Tapi, aku pikir apa yang paling penting adalah memiliki komunikasi yang baik dan empati yang banyak. Jadi, kalau kamu sedang mencari relasi, jangan lupa untuk berkomunikasi dengan pasangannya dan selalu mendengarkan! ๐Ÿ˜Š
 
aku rasa kekuasaan dalam hubungan itu seperti permainan balapan di jalan tol ๐Ÿš—๐Ÿ‘Š. kalau hanya salah satu orang yang bergerak cepat, maka lainnya akan tertinggal. tapi kalau kita bisa bergabung dan mendukung satu sama lain, maka kita bisa mencapai tujuan bersama-sama ๐Ÿƒโ€โ™€๏ธ๐Ÿ’•. aku pikir pihak mana pun harus bisa menyerahkan dan membuka ruang untuk pihak lain, jadi tidak ada yang terlalu kuat atau terlalu lemah ๐Ÿค๐ŸŒˆ.
 
aku pikir hal ini sangat penting banget untuk dipahami dalam hubungan romantis. jangan sabar-sabar siapa yang lebih kuat, tapi bukannya itu, kalian harus bisa saling memengaruhi dan melibatkan empati. aku rasa pihak mana pun yang memiliki kekuasaan pada suatu saat juga harus bisa membuka ruang dan menyerahkan.

aku juga pikir kekuasaan koersif ini sangat berbahaya, jangan biarkan siapa pun menggunakan intimidasi atau ancaman untuk mengambil alih kekuasaan. kalian harus bisa bernegosiasi dengan baik tanpa tekanan.

dan aku rasa studi yang dipublikasikan di Journal of Social and Personal Relationships juga benar banget, bahwa kebahagiaan dalam hubungan utamanya tidak ditentukan oleh "kekuasaan objektif", tapi lebih kepada "rasa kuasa subjektif". kalian harus bisa merasa didengar dan memiliki otonomi dalam hubungan. ๐Ÿค
 
aku pikir apa lagi yang bisa dikatakan tentang kekuasaan di dalam hubungan? kalau salah satu pasangan selalu memenangkan, bukan adanya kebaikan hati sama sekali, kan? tapi aku rasa justru penting bagus jika salah satu pasangannya bisa mengambil keputusan dan dihargai. karena itu ada artinya mereka memiliki ruang untuk hidup sendiri juga.
 
Gue rasa kaya gini... Ketika aku masih SMA, aku pikir hubungan sehat itu sama dengan siapa yang lebih kuat di dalam relasi. Tapi, sekarang aku tahu bahwa bukan demikianlah. Aku merasa sedih ketika aku lihat teman-teman aku yang masuk dalam hubungan yang tidak seimbang. Mereka terkecil dikutip oleh pasangan mereka, padahal gue rasa mereka juga memiliki kekuasaan di dalamnya. Kekuasaan bukan hanya tentang siapa yang lebih kuat, tapi tentang bagaimana kita dapat bekerja sama dan saling mengerti. Gue berharap kalau di masa depan, semua orang bisa memahami bahwa hubungan sehat itu tentang keseimbangan emosi dan keputusan bersama. ๐Ÿคทโ€โ™‚๏ธ๐Ÿ’•
 
Kita jangan lupa kalau hubungan romantis itu seperti main game ๐ŸŽฎ, tapi kita harus tahu kapan untuk berhenti bermain jika perlu ๐Ÿ˜ฌ. Kuasa dalam hubungan bukan hanya tentang siapa yang lebih kuat, tapi juga tentang bagaimana kita bisa bekerja sama ๐Ÿค dan tidak salah satu ikut marah ๐Ÿ˜ . Kita harusnya punya batasan agar relasi jadi seimbang ๐Ÿ’ฏ, dan tidak ada siapa yang menyeruduk ๐Ÿ”ฅ. Kalau ingin kebahagiaan, kita harus punya ruang untuk bernegosiasi dan diakui ๐Ÿค.
 
Gue pikir kalau kunci dari masalah ini adalah komunikasi yang baik banget. Jika pasangan bisa saling ngobrol dengan jujur dan tidak memaki, maka masalah kuasa itu pasti bisa diatasi. Tapi, gimana jika salah satu pasangan selalu nggak mendengar atau nggak mau mendengarkan? Masih bisa dipecahkan dengan cara berbagi pendapat dan perasaan secara positif ๐Ÿ˜Š.
 
Aku pikir kalau pasangan di hubungan romantis harus saling tahu apa yang membuatnya tidak nyaman nih ๐Ÿค”. Kalau salah satu pasangan selalu memaksakan pengetahuannya padiah, tapi pasangannya tidak ingin mengakui itu, maka relasi menjadi kaku gini ๐Ÿ˜’. Aku rasa pentingnya saling tahu dan saling menerima, jadi bisa berbagi kepuasan dan kesedihan tanpa terlalu serius ya ๐Ÿค—.
 
Ku pikir kalau keseimbangan emosi & keputusan bersama itu penting sekali di hubungan romantis. Kalau salah satu pasangan hanya mengikuti saja, maka relasi jadi tidak seimbang, sih ๐Ÿค”. Dan aku juga paham kalau ada tiga jenis kuasa yang umum hadir: kekuasaan posisi, kekuasaan pribadi, & lain-lain. Kekuasaan koersif itu yang paling berbahaya, kalau salah satu pasangan menggunakan intimidasi atau ancaman untuk mengambil alih kekuasaan ๐Ÿ˜’.

Aku pikir penting juga bagi kita untuk memahami bahwa setiap orang membawa keahlian tertentu dalam hubungan romantis. Kita harus bisa menerima dan menghargai keunikan setiap orang, bukan hanya mengikuti & menguasai ๐Ÿ’–.
 
Gak percaya kalau orang masih ragu-ragu apa itu kekuasa dalam hubungan romantis ๐Ÿ˜‚. Nah, aku pikir kalau ada tiga jenis kuasa yang harus diwaspadai, yaitu kekuasaan posisi, pribadi, dan ekonomi ๐Ÿค‘. Tapi, kalau salah satu pasangan terus-menerus mengambil keputusan tanpa meminta pendapat orang lain, maka relasi itu akan kalah ๐Ÿคฆโ€โ™‚๏ธ.

Aku pikir, yang penting bukan siapa yang lebih kuat, tapi bagaimana pihak mana pun dapat membuka ruang dan menyerahkan ๐Ÿค. Dan kalau kita lihat dari studi yang dipublikasikan di Journal of Social and Personal Relationships, maka kebahagiaan dalam hubungan utamanya tidak ditentukan oleh "kekuasaan objektif", tapi lebih kepada "rasa kuasa subjektif" ๐Ÿค”.

Aku rasa, kalau kita ingin memiliki hubungan yang sehat, kita harus bisa bernegosiasi tanpa tekanan dan merasa didengar ๐Ÿ˜Š. Tapi, gak mudah, gak murah ๐Ÿค‘. Kita harus belajar untuk mengelola emosi dan keputusan bersama ๐Ÿค.
 
Mereka bilang itu penting untuk tidak hanya mencari kekuasaan dalam hubungan, tapi juga harus ada keseimbangan dan empati antara pasangan. Saya setuju, tapi saya pikir perlu kita ingat bahwa kekuasaan tidak selalu ada di satu arah saja. Beberapa orang mungkin memiliki kekuasaan yang lebih besar dalam bidang ekonomi atau pribadi, tapi itu tidak berarti mereka harus mengetawanya pada pasangan mereka.

Dan apa dengan kekuasaan koersif? Saya pikir itu adalah contoh dari bagaimana kita harus sadar dan mengatasi kekuatan negatif yang ada di dalam diri sendiri. Kita harus belajar untuk mengelola emosi dan perasaan kita sendiri sebelum kita bisa memahami dan mendukung pasangan lain.

Mungkin itu adalah pesan yang terlalu sederhana, tapi saya rasa penting untuk diingat bahwa kebahagiaan dalam hubungan tidak hanya bergantung pada siapa yang lebih kuat, melainkan juga bagaimana kita bisa bekerja sama dan mendukung satu sama lain. ๐Ÿ’ก
 
aku pikir itu sangat penting diintegrasikan dengan pengelolaan emosi dalam hubungan ๐Ÿ™๐Ÿ’•, tapi perlu diingat bahwa tidak ada satu "kekuasaan" yang bisa menggantikan komunikasi dan empati dalam hubungan sehat. salah satu pasangan harus mampu berbagi pengalaman dan memahami dirinya sendiri agar tidak menjadi timbang kekuasaan koersif ๐Ÿ˜ฌ.
 
Kurangnya pengetahuan tentang kekuasaan dalam hubungan romantis memang masalah besar banyak pasangan yang tidak berhasil menjalin relasi yang sehat. Kekuasaan koersif adalah hal yang paling berbahaya karena dapat membuat salah satu pasangan merasa takut dan ketimpangan, jadi penting bagi kita untuk selalu membawa empati dan batasan dalam hubungan.

Saya pikir kekuasaan yang seimbang memang kunci untuk menjalin relasi yang baik. Kita tidak boleh hanya menunggu pasangan kita melakukan apa saja, tapi juga harus bersikap untuk memberikan ruang dan menghormati pilihan mereka. Contohnya, jika suami ingin beli rumah, maka istri juga harus dapat menerima keputusan tersebut dengan baik.

Saya senang melihat penelitian yang dipublikasikan di Journal of Social and Personal Relationships karena menunjukkan bahwa kebahagiaan dalam hubungan sejauh mana masing-masing pihak memiliki ruang untuk ikut mengambil keputusan yang penting bagi dirinya. ๐Ÿค
 
aku pikir kalau kita harus menilai apa itu kekuasaan dalam hubungan, aku rasakan ya kalau ada yang terlalu kuat di salah satu sisi, maka hubungan itu tidak seimbang. tapi aku rasa jangan perlu ada satu pihak yang "menang" atau "kalah", melainkan kita harus saling mengerti dan menyerahkan untuk mencapai kebahagiaan bersama ๐Ÿ˜Š
 
kembali
Top