Saya temukan diri kita sering melihat gambaran suami-istri yang salah satu terlihat "dominan" dibandingkan pasangannya. Dominasi ini tercermin secara halus tapi nyata, misalnya dalam hal terkait pengambilan keputusan. Tidak jarang, ketimpangan ini memicu stres dan konflik.
Dalam dinamika semacam ini, relasi asmara bukan sekadar ruang berbagi cinta, tapi juga jadi arena negosiasi kuasa yang sering luput kita sadari. Kekuasaan dalam konteks relasi adalah soal pengaruh. Siapa yang mampu memberi dan menolak pengaruh akan berperan membentuk emosi maupun perilaku pasangannya.
Dalam hubungan yang sehat, kuasa bersifat saling memengaruhi, melibatkan empati dan batasan tanpa rasa takut. Namun, relasi menjadi timpang atau tidak seimbang ketika pengaruh secara konsisten hanya mengalir satu arah.
Ketimpangan ini merujuk pada satu pihak yang terbiasa mengendalikan arah hubungan, sedangkan pihak lain lebih sering mengalah, diam, atau menyesuaikan diri demi menjaga kedamaian. Dinamika kuasa tidak muncul dalam ruang hampa. Ia dibentuk oleh peran gender, ekspektasi budaya, dan pengkondisian sosial yang sudah lama mengakar kuat.
Norma gender tradisional, misalnya, kerap mendorong laki-laki untuk tampil sebagai pengambil keputusan dan pemimpin. Di sisi lain, perempuan dibiasakan untuk menjaga keharmonisan relasi dan mendahulukan kebutuhan orang lain.
Tanpa disadari, pola ini menciptakan ketidakseimbangan daya tawar yang dianggap βnormalβ. Kekuasaan dalam relasi bisa hadir lewat berbagai bentuk: kekuasaan posisi, kekuasaan pribadi, kekuasaan ekonomi/keuangan, kekuasaan koersif, pengetahuan atau keahlian, kekuasaan emosional, dan kekuasaan fisik.
Kekuasaan posisi muncul dari pembagian peran dan tanggung jawab dalam relasi. Kekuasaan pribadi terlihat dari siapa yang lebih ekspresif, percaya diri, dan fasih berkomunikasi. Kekuasaan ekonomi/keuangan adalah akses dan kontrol terhadap uang.
Kekuasaan koersif melibatkan pola pengendalian, intimidasi, atau ancaman yang membuat pasangan merasa takut atau terjebak. Kekuasaan ini bertujuan untuk mengambil alih, bukan menyelesaikan masalah. Pengetahuan atau keahlian setiap orang membawa keahlian tertentu dalam hubungan.
Dalam studi yang dipublikasikan di Journal of Social and Personal Relationships (2021), temukan bahwa kebahagiaan dalam hubungan utamanya tidak ditentukan oleh "kekuasaan objektif". Faktor yang jauh lebih berpengaruh adalah "rasa kuasa subjektif", yaitu sejauh mana masing-masing pihak "merasa memiliki ruang" untuk ikut mengambil keputusan yang penting bagi dirinya.
Dalam dinamika semacam ini, relasi asmara bukan sekadar ruang berbagi cinta, tapi juga jadi arena negosiasi kuasa yang sering luput kita sadari. Kekuasaan dalam konteks relasi adalah soal pengaruh. Siapa yang mampu memberi dan menolak pengaruh akan berperan membentuk emosi maupun perilaku pasangannya.
Dalam hubungan yang sehat, kuasa bersifat saling memengaruhi, melibatkan empati dan batasan tanpa rasa takut. Namun, relasi menjadi timpang atau tidak seimbang ketika pengaruh secara konsisten hanya mengalir satu arah.
Ketimpangan ini merujuk pada satu pihak yang terbiasa mengendalikan arah hubungan, sedangkan pihak lain lebih sering mengalah, diam, atau menyesuaikan diri demi menjaga kedamaian. Dinamika kuasa tidak muncul dalam ruang hampa. Ia dibentuk oleh peran gender, ekspektasi budaya, dan pengkondisian sosial yang sudah lama mengakar kuat.
Norma gender tradisional, misalnya, kerap mendorong laki-laki untuk tampil sebagai pengambil keputusan dan pemimpin. Di sisi lain, perempuan dibiasakan untuk menjaga keharmonisan relasi dan mendahulukan kebutuhan orang lain.
Tanpa disadari, pola ini menciptakan ketidakseimbangan daya tawar yang dianggap βnormalβ. Kekuasaan dalam relasi bisa hadir lewat berbagai bentuk: kekuasaan posisi, kekuasaan pribadi, kekuasaan ekonomi/keuangan, kekuasaan koersif, pengetahuan atau keahlian, kekuasaan emosional, dan kekuasaan fisik.
Kekuasaan posisi muncul dari pembagian peran dan tanggung jawab dalam relasi. Kekuasaan pribadi terlihat dari siapa yang lebih ekspresif, percaya diri, dan fasih berkomunikasi. Kekuasaan ekonomi/keuangan adalah akses dan kontrol terhadap uang.
Kekuasaan koersif melibatkan pola pengendalian, intimidasi, atau ancaman yang membuat pasangan merasa takut atau terjebak. Kekuasaan ini bertujuan untuk mengambil alih, bukan menyelesaikan masalah. Pengetahuan atau keahlian setiap orang membawa keahlian tertentu dalam hubungan.
Dalam studi yang dipublikasikan di Journal of Social and Personal Relationships (2021), temukan bahwa kebahagiaan dalam hubungan utamanya tidak ditentukan oleh "kekuasaan objektif". Faktor yang jauh lebih berpengaruh adalah "rasa kuasa subjektif", yaitu sejauh mana masing-masing pihak "merasa memiliki ruang" untuk ikut mengambil keputusan yang penting bagi dirinya.