Cina Terang-Tanggui Ambisi Menjadi Mata Uang Global Dengan Yuan, Tetapi Ada Perbedaan Besar dengan Satu Sama Nama
Presiden Cina Xi Jinping secara jelas mengungkapkan rencana ambisiusnya untuk membuat renminbi menjadi mata uang cadangan global yang utama. Hal ini diluncurkan saat pelemahan mata uang dolar AS terus berlanjut, menarik perhatian dari dunia keuangan.
Menurut jurnal Partai Komunis Cina, Qiushi, Xi Jinping mengungkapkan rencana untuk membuat renminbi kuat agar bisa digunakan dalam perdagangan internasional. Ia mengatakan bahwa Cina harus membangun mata uang yang kuat untuk memastikan statusnya sebagai mata uang cadangan yang banyak digunakan.
Tiga komponen utama yang dibutuhkan oleh Cina untuk mencapai rencana ini adalah bank sentral yang kuat dan efektif, lembaga keuangan yang kompetitif secara internasional, serta pusat keuangan internasional yang berpengaruh secara global.
Dengan rencana ini, Cina diharapkan dapat meningkatkan penetrasi dalam perdagangan valuta dunia. Hal ini dilakukan saat pelemahan dolar AS terus terjadi.
Tentang penggunaan renminbi dan yuan, keduanya sama-sama merujuk pada satu mata uang yang sama. Nama resmi mata uang Cina adalah renminbi, sedangkan yuan digunakan sebagai satuan hitung utama untuk menyebut jumlah renminbi.
Penggunaan nama mata uang memiliki perbedaan kecil dengan Indonesia. Di Indonesia, nama mata uang dan satuan hitung utamanya sama-sama menggunakan rupiah. Namun, di Cina, uang yang digunakan dalam transaksi bernama renminbi, sedangkan satuan yang digunakan untuk menyebut jumlah renminbi adalah yuan.
Hal ini mirip dengan penggunaan istilah "pound" dan "sterling" dalam mata uang Inggris. Sterling merupakan nama resmi mata uang yang dikeluarkan pemerintah Kerajaan Inggris Raya, sedangkan warga Inggris bisa cukup menggunakan satuan pound saja.
Dalam sejarahnya, yuan merupakan mata uang yang berlaku di daratan Cina sejak 1889. Ketika pasar di Eropa mengenal koin perak sebagai alat perdagangan, Dinasti Qing menirunya dengan membuat koin perak yuan.
Ketika Republik Rakyat Cina berdiri, pemerintah pimpinan Mao Zedong kemudian membuat mata uang baru bernama Renminbi. Hal ini dilakukan untuk menyatukan nilai mata uang yang kala itu berlaku antar regional.
Pembuatan renminbi ini dilakukan oleh Bank Rakyat Cina (PBOC) pada 1948. Sejak saat itu, yuan kemudian diinternalisasikan dalam sistem renminbi, bukan sebagai mata uang tersendiri, melainkan sebagai satuan untuk menyebut jumlah renminbi.
Presiden Cina Xi Jinping secara jelas mengungkapkan rencana ambisiusnya untuk membuat renminbi menjadi mata uang cadangan global yang utama. Hal ini diluncurkan saat pelemahan mata uang dolar AS terus berlanjut, menarik perhatian dari dunia keuangan.
Menurut jurnal Partai Komunis Cina, Qiushi, Xi Jinping mengungkapkan rencana untuk membuat renminbi kuat agar bisa digunakan dalam perdagangan internasional. Ia mengatakan bahwa Cina harus membangun mata uang yang kuat untuk memastikan statusnya sebagai mata uang cadangan yang banyak digunakan.
Tiga komponen utama yang dibutuhkan oleh Cina untuk mencapai rencana ini adalah bank sentral yang kuat dan efektif, lembaga keuangan yang kompetitif secara internasional, serta pusat keuangan internasional yang berpengaruh secara global.
Dengan rencana ini, Cina diharapkan dapat meningkatkan penetrasi dalam perdagangan valuta dunia. Hal ini dilakukan saat pelemahan dolar AS terus terjadi.
Tentang penggunaan renminbi dan yuan, keduanya sama-sama merujuk pada satu mata uang yang sama. Nama resmi mata uang Cina adalah renminbi, sedangkan yuan digunakan sebagai satuan hitung utama untuk menyebut jumlah renminbi.
Penggunaan nama mata uang memiliki perbedaan kecil dengan Indonesia. Di Indonesia, nama mata uang dan satuan hitung utamanya sama-sama menggunakan rupiah. Namun, di Cina, uang yang digunakan dalam transaksi bernama renminbi, sedangkan satuan yang digunakan untuk menyebut jumlah renminbi adalah yuan.
Hal ini mirip dengan penggunaan istilah "pound" dan "sterling" dalam mata uang Inggris. Sterling merupakan nama resmi mata uang yang dikeluarkan pemerintah Kerajaan Inggris Raya, sedangkan warga Inggris bisa cukup menggunakan satuan pound saja.
Dalam sejarahnya, yuan merupakan mata uang yang berlaku di daratan Cina sejak 1889. Ketika pasar di Eropa mengenal koin perak sebagai alat perdagangan, Dinasti Qing menirunya dengan membuat koin perak yuan.
Ketika Republik Rakyat Cina berdiri, pemerintah pimpinan Mao Zedong kemudian membuat mata uang baru bernama Renminbi. Hal ini dilakukan untuk menyatukan nilai mata uang yang kala itu berlaku antar regional.
Pembuatan renminbi ini dilakukan oleh Bank Rakyat Cina (PBOC) pada 1948. Sejak saat itu, yuan kemudian diinternalisasikan dalam sistem renminbi, bukan sebagai mata uang tersendiri, melainkan sebagai satuan untuk menyebut jumlah renminbi.