Cina, yang saat ini sedang mengalami penguatan dari status mata uangnya, mulai menunjukkan visi untuk menjadi mata uang global di masa depan. Pernyataan ini dilakukan oleh Presiden Cina Xi Jinping, yang secara eksplisit menyatakan bahwa Renminbi (Yuan) harus menjadi mata uang cadangan global yang utama.
Menurut pernyataan Xi Jinping, Cina harus membangun mata uang yang kuat untuk menjaga statusnya sebagai mata uang cadangan yang banyak digunakan dalam perdagangan internasional, investasi, dan pasar valuta asing. Ia juga menyatakan bahwa rencana ini dapat direalisasikan dengan adanya tiga komponen utama, yaitu bank sentral yang kuat, lembaga keuangan yang kompetitif secara internasional, dan pusat keuangan internasional yang berpengaruh secara global.
Dengan rencana ini, penetrasi Cina dalam perdagangan valuta dunia diproyeksikan akan meningkat. Hal ini dapat dilakukan di tengah momentum pelemahan dolar AS yang diprediksi akan terus terjadi. Penguatan nilai yuan juga telah terjadi pada beberapa waktu terakhir, bahkan mencapai 6,9929 yuan per dolar pada 23 Januari lalu.
Tapi apa itu Renminbi atau Yuan Cina? Meskipun Cina menggunakan istilah renminbi dan yuan secara simultan, namun keduanya sebenarnya merujuk pada satu mata uang yang sama. Renminbi adalah nama resmi mata uang Cina, sedangkan yuan merupakan satuan hitung utama untuk merujuk mata uang tersebut.
Perbedaan penggunaan nama mata uang ini tidak terlalu besar dengan Indonesia, di mana nama mata uang dan satuan hitung utamanya sama-sama menggunakan rupiah. Namun, di Cina, uang yang digunakan dalam transaksi bernama renminbi, sedangkan satuan yang digunakan untuk menyebut jumlah renminbi adalah yuan.
Penggunaan istilah seperti pound dan sterling dalam mata uang Inggris juga serupa dengan penggunaan nama mata uang dan satuan hitung utamanya. Dalam sejarahnya, yuan merupakan mata uang yang berlaku di daratan Cina sejak 1889, kemudian dibuat koin perak yang mirip dengan koin perak Eropa. Ketika Republik Rakyat Cina berdiri, pemerintah membuat mata uang baru bernama Renminbi untuk menyatukan nilai mata uang yang kala itu berlaku antar regional.
Menurut pernyataan Xi Jinping, Cina harus membangun mata uang yang kuat untuk menjaga statusnya sebagai mata uang cadangan yang banyak digunakan dalam perdagangan internasional, investasi, dan pasar valuta asing. Ia juga menyatakan bahwa rencana ini dapat direalisasikan dengan adanya tiga komponen utama, yaitu bank sentral yang kuat, lembaga keuangan yang kompetitif secara internasional, dan pusat keuangan internasional yang berpengaruh secara global.
Dengan rencana ini, penetrasi Cina dalam perdagangan valuta dunia diproyeksikan akan meningkat. Hal ini dapat dilakukan di tengah momentum pelemahan dolar AS yang diprediksi akan terus terjadi. Penguatan nilai yuan juga telah terjadi pada beberapa waktu terakhir, bahkan mencapai 6,9929 yuan per dolar pada 23 Januari lalu.
Tapi apa itu Renminbi atau Yuan Cina? Meskipun Cina menggunakan istilah renminbi dan yuan secara simultan, namun keduanya sebenarnya merujuk pada satu mata uang yang sama. Renminbi adalah nama resmi mata uang Cina, sedangkan yuan merupakan satuan hitung utama untuk merujuk mata uang tersebut.
Perbedaan penggunaan nama mata uang ini tidak terlalu besar dengan Indonesia, di mana nama mata uang dan satuan hitung utamanya sama-sama menggunakan rupiah. Namun, di Cina, uang yang digunakan dalam transaksi bernama renminbi, sedangkan satuan yang digunakan untuk menyebut jumlah renminbi adalah yuan.
Penggunaan istilah seperti pound dan sterling dalam mata uang Inggris juga serupa dengan penggunaan nama mata uang dan satuan hitung utamanya. Dalam sejarahnya, yuan merupakan mata uang yang berlaku di daratan Cina sejak 1889, kemudian dibuat koin perak yang mirip dengan koin perak Eropa. Ketika Republik Rakyat Cina berdiri, pemerintah membuat mata uang baru bernama Renminbi untuk menyatukan nilai mata uang yang kala itu berlaku antar regional.