Kebutuhan Kekayaan Amerika Serikat Menghadapi Ancaman Spionase Siber yang Tidak Pernah Pernah Terjadi Sebelumnya
Amerika Serikat dilihat mengalami serangan penuh dari kebodohan China, dengan serangan spionase siber yang dilancarkan oleh kelompok peretas asal China kepada staf Komite DPR Amerika Serikat. Kelompok tersebut bernama Salt Typhoon dan berhasil menembus sistem email milik staf Komite DPR untuk Urusan China serta pembantu di komite yang menangani urusan luar negeri, intelijen, dan layanan bersenjata.
Laporan ini dilaporkan oleh Financial Times mengutip sejumlah sumber yang mengetahui insiden tersebut. Namun, belum dapat memverifikasi laporan ini secara independen, sehingga tidak ada bukti nyata bahwa peretas berhasil mengakses email para anggota Kongres.
Sementara itu, Juru bicara Kedutaan Besar China menolak tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai spekulasi tanpa dasar. FBI juga menolak berkomentar, dan Gedung Putih serta kantor empat komite terkait belum menanggapi permintaan klarifikasi.
Selama ini, anggota parlemen AS dan para staf yang membidangi pengawasan terhadap militer dan intelijen menjadi sasaran utama operasi spionase siber. Laporan dugaan peretasan terhadap infrastruktur komunikasi legislatif muncul secara berkala.
China secara konsisten membantah terlibat dalam praktik spionase tersebut, meskipun awal tahun lalu AS menjatuhkan sanksi kepada peretas yang diduga bernama Yin Kecheng dan perusahaan Sichuan Juxinhe Network Technology karena dianggap terkait dengan operasi Salt Typhoon.
Amerika Serikat dilihat mengalami serangan penuh dari kebodohan China, dengan serangan spionase siber yang dilancarkan oleh kelompok peretas asal China kepada staf Komite DPR Amerika Serikat. Kelompok tersebut bernama Salt Typhoon dan berhasil menembus sistem email milik staf Komite DPR untuk Urusan China serta pembantu di komite yang menangani urusan luar negeri, intelijen, dan layanan bersenjata.
Laporan ini dilaporkan oleh Financial Times mengutip sejumlah sumber yang mengetahui insiden tersebut. Namun, belum dapat memverifikasi laporan ini secara independen, sehingga tidak ada bukti nyata bahwa peretas berhasil mengakses email para anggota Kongres.
Sementara itu, Juru bicara Kedutaan Besar China menolak tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai spekulasi tanpa dasar. FBI juga menolak berkomentar, dan Gedung Putih serta kantor empat komite terkait belum menanggapi permintaan klarifikasi.
Selama ini, anggota parlemen AS dan para staf yang membidangi pengawasan terhadap militer dan intelijen menjadi sasaran utama operasi spionase siber. Laporan dugaan peretasan terhadap infrastruktur komunikasi legislatif muncul secara berkala.
China secara konsisten membantah terlibat dalam praktik spionase tersebut, meskipun awal tahun lalu AS menjatuhkan sanksi kepada peretas yang diduga bernama Yin Kecheng dan perusahaan Sichuan Juxinhe Network Technology karena dianggap terkait dengan operasi Salt Typhoon.