Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang saat ini khawatir akan dipinggir oleh China dalam penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memperkuat militer, malah mulai melunak. Peluncuran senjata 'pembunuh' baru yang sedang dikembangkan negara kekuasaan Xi Jinping dengan menggunakan teknologi AI ini menunjukkan China tengah mengintegrasikan AI dalam operasi militer.
Perkembangan senjata tersebut berupa sistem drone yang dapat berperilaku layaknya elang dan merpati. Drone 'elang' mampu menghancurkan seluruh drone 'merpati' hanya dalam 5,3 detik saat melakukan simulasi lawan-lawan lima lawan lima. Ini menjadi bukti China memanfaatkan AI untuk mengembangkan senjata yang lebih canggih dan efisien.
Mengutip analisis dari Center for a New American Security, Stacie Pettyjohn menyebut bahwa dengan menggunakan teknologi ini, China dapat memiliki kepadatan tembakan di udara yang terus menerus menyapu dan mencari, sehingga membuat Taiwan sangat sulit melakukan operasi defensif. Analis lain menilai AI sebagai solusi atas keterbatasan manusia, tetapi juga memperingatkan bahaya yang mengintai.
Namun, China juga sedang mengembangkan sistem perang kognitif dan robot 'serigala' bersenjata yang dapat beroperasi bersama kawanan drone udara. Merekutinya, militer AS lebih fokus pada integrasi drone individual bersama prajurit manusia.
Teknologi DeepSeek juga menjadi bagian dari strategi China dalam mengembangkan senjata tanpa awak yang makin otonom. Dengan menggunakan teknologi ini, drone dapat mengenali dan mengikuti target, serta bergerak dalam formasi tanpa intervensi manusia.
Peningkatan penggunaan chip Huawei oleh lembaga penelitian militer China juga menunjukkan peningkatan penggunaan AI dalam operasi militer. Analisis dari Jamestown Foundation menyebutkan bahwa pengadaan yang terkait dengan DeepSeek meningkat pesat sepanjang 2025.
Meski asal usul teknologi ini masih dirahasiakan, analis menilai kemampuan ini bisa menjadi senjata pembunuh masa depan yang mampu menyaingi, bahkan mengancam, dominasi militer AS.
Perkembangan senjata tersebut berupa sistem drone yang dapat berperilaku layaknya elang dan merpati. Drone 'elang' mampu menghancurkan seluruh drone 'merpati' hanya dalam 5,3 detik saat melakukan simulasi lawan-lawan lima lawan lima. Ini menjadi bukti China memanfaatkan AI untuk mengembangkan senjata yang lebih canggih dan efisien.
Mengutip analisis dari Center for a New American Security, Stacie Pettyjohn menyebut bahwa dengan menggunakan teknologi ini, China dapat memiliki kepadatan tembakan di udara yang terus menerus menyapu dan mencari, sehingga membuat Taiwan sangat sulit melakukan operasi defensif. Analis lain menilai AI sebagai solusi atas keterbatasan manusia, tetapi juga memperingatkan bahaya yang mengintai.
Namun, China juga sedang mengembangkan sistem perang kognitif dan robot 'serigala' bersenjata yang dapat beroperasi bersama kawanan drone udara. Merekutinya, militer AS lebih fokus pada integrasi drone individual bersama prajurit manusia.
Teknologi DeepSeek juga menjadi bagian dari strategi China dalam mengembangkan senjata tanpa awak yang makin otonom. Dengan menggunakan teknologi ini, drone dapat mengenali dan mengikuti target, serta bergerak dalam formasi tanpa intervensi manusia.
Peningkatan penggunaan chip Huawei oleh lembaga penelitian militer China juga menunjukkan peningkatan penggunaan AI dalam operasi militer. Analisis dari Jamestown Foundation menyebutkan bahwa pengadaan yang terkait dengan DeepSeek meningkat pesat sepanjang 2025.
Meski asal usul teknologi ini masih dirahasiakan, analis menilai kemampuan ini bisa menjadi senjata pembunuh masa depan yang mampu menyaingi, bahkan mengancam, dominasi militer AS.