Chiko Pengedit Konten Cabul Pakai AI Diserahkan ke Kejaksaan

Tersangka pembuat konten cabul, Chiko Radityatama Agung Putra, diserahkan ke Kejaksaan Negeri Kota Semarang. Penyidik melimpahkan perkara Chiko ke jaksa penuntut umum dan ia sempat menjalani pemeriksaan di kantor kejaksaan.

Saat ini, Chiko berkuliah di Universitas Diponegoro dan dugaanya mengedit konten biasa menjadi konten cabul dengan teknologi AI. Beberapa korban yang menjadi tumpuan dari konten asusila tersebut kemudian melaporkan hal tersebut kepada pihak berwenang.

Chiko sempat diburu warganet setelah unggahan viral mengandung konten asusila yang diduga diedit olehnya. Namun, Chiko kemudian membuat video pengakuan dan permintaan maaf kepada para korban, termasuk siswi dan alumni sekolahnya dulu, SMA Negeri 11 Semarang.

Tidak lama setelah unggahan viral, Chiko membagikan video klarifikasi yang berdurasi dua menit. Ia mengakui bahwa ia telah mengedit foto maupun video teman-teman tanpa izin di akun Twitternya.

Namun, permintaan maaf Chiko tidak menghentikan proses hukum terhadap perbuatannya tersebut. Chiko yang lahir dari pasangan polisi itu akan menjalani persidangan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
 
Gue pikir ini buatan AI yang nggak tahu cara nge editing konten, tapi gue juga sadar bahwa teknologi ini bisa digunakan untuk hal baik dan hal jahat. Gue bayangkan kalau Chiko menggunakan AI untuk membuat konten inspiratif atau edukatif, tentu akan lebih baik dari yang terjadi sekarang.

Tapi, apa yang bisa kita lakukan sih? Gue merasa sedikit kecewa dengan Chiko, tapi gue juga tidak ingin memuji-udiinya. Jadi, apa yang bisa diambil dari cerita ini adalah kita harus lebih berhati-hati saat menggunakan teknologi dan pastikan kita menggunakan amanat untuk hal baik.
 
wahhh, ini kalau papa Chiko udah buat konten cabul dengan AI apa aja? kenapa harus diburu warganet dan dipukulin kejaksaan 😒. aku rasa ada yang tidak beres di situasi ini, misalnya kalau si Chiko sudah buat klarifikasi video apa aja? kalau udah klari, kenapa masih dipindahkan ke jaksa penuntut umum? dan apa sih tujuan dari semuanya? hanya untuk ngelamun aja si Chiko? 🤔 aku rasa ada yang bisa dilakukan lebih baik dari situasi ini, misalnya kalau ada lembaga yang bisa membantu si Chiko untuk belajar cara menggunakan teknologi dengan bijak dan tidak menghormati hak orang lain. tapi sepertinya kebanyakan orang hanya peduli sama video viral aja 🤷‍♂️.
 
ini gak enak banget, siapa nih yang bisa ngedit konten asusila dengan teknologi AI seperti itu? si Chiko aja, tapi dia bilang ingin belajar dari kesalahan-nya... tapi siapa bilang itu cukup banget ya? dan kalau ini udah viral, siapa nih yang tidak ketakutan? tapi aku paham, kesalahan pasti ada di sini... tapi perlu diingat, manusia masih memiliki keterbatasan, apalagi kalau dipertimbangkan teknologi yang digunakan...
 
Saya pikir ya kalau kita harus lebih berhati-hati saat mengedit konten di media sosial, bisa jadi gak hanya korban yang kecewa yah... Kalau aku ada teman yang sering membagikan foto-foto atau video tanpa izin, aku akan bilang dia untuk lebih hati-hati, kayaknya gak mau bosen-bosen nanti. Tapi di sisi lain, aku juga paham kalau teknologi AI bisa digunakan dengan cara yang salah, jadi mungkin Chiko itu benar-benar tidak inginkan konsekuensinya...
 
Gue pikir ini sangat parah, temen-temen! Konten cabul nggak cuma bikin korban merasa tidak nyaman, tapi juga bisa menyebabkan masalah mental yang parah banget. Chiko Radityatama Agung Putra kayaknya memilih jalan mudah dengan menggunakan teknologi AI, apa lagi kalau korban dari kontennya itu adalah teman-temannya dulu di sekolah! 🤕

Gue rasa ini bukti bahwa kita perlu lebih berhati-hati saat digunakan teknologi online. Kita harus membedakan antara konten yang jujur dengan yang tidak, dan tidak boleh mengutamakan kesempatan viral ke atas kebenaran. Chiko kayaknya belom belajar dari kesalahannya ini... dan kita semua harap proses hukumnya dapat berjalan dengan adil! 🤔
 
Wahhh, ini gini ya... si Chiko Radityatama Agung Putra ini, kalau diakui maaf dulu dia, tapi masih harus jalan-jalan ke jaksaan, itu kayaknya susah banget sih... aku rasa jika diakui maaf sejak awal, tidak usah terus keluar video pengakuan dan apa-apa. Dan lagi, kalau korban dari konten asusila dia masih bisa dihubungi dan dia minta maaf, tapi di jaksaan juga terus dicurigai... itu gini kayaknya berantakan sih, harusnya ada tindakan yang lebih cepat...
 
Gak bisa dipikirkan sih, kalau ada orang yang bisa mengedit konten dengan teknologi AI dan buat konten asusila... itu gak cuma sekedar kerja sambilan aja, tapi juga bisa jadi kerugian banyak orang. Chiko ini tahu sih, apa yang dia lakukan adalah salah, tapi dia nggak sempat berubah sebelum ada konsekuensinya. Saya rasa, kalau dia lebih telitik dan cermati lagi, mungkin tidak ada perubahan yang besar. Tapi kini ini, dia harus menghadapi hukumnya dan memberikan peringatan kepada diri sendiri tentang apa yang bisa dilakukan.
 
ini gue pikir kalau teknologi AI harus diatur lebih baik, kalau tidak bisa menghasilkan konten asusila lagi, toh pengguna yang salah harus bertanggung jawab 🤦‍♂️. tapi sih, Chiko sudah buat video pengakuan dan permintaan maaf, itu udah bagus banget. gue harap proses hukumnya cepat dan adil, agar kalau ada yang salah juga harus bertanggung jawab 🙏.
 
Gue pikir ini masih bisa terjadi di kalangan remaja muda, nggak percaya lagi siapa yang ada di akun Twitternya 😂. Teknologi AI itu gampang digunakan untuk membuat konten asusila, tapi apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Kita hanya menyalahkan mereka dan kira-kira itu saja, nggak?

Tapi yang penting adalah korban sudah melaporkan hal tersebut dan sekarang Chiko sudah meminta maaf. Tapi, ini masih bisa terjadi di kalangan kita, bukan hanya remaja muda. Kita harus lebih waspada dan tidak terlalu cepat percaya pada orang yang unggah viral di media sosial. Yang jadi pertanyaannya adalah bagaimana cara kita menghindarinya dari terjadi kembali. 🤔
 
Udah siapa yang pikir Chiko bisa naik turun dengan mudah ini 🤦‍♂️? Dia nih, yang terus-menerus berbagi konten asusila dengan teknologi AI, lalu akhirnya diburu warganet dan harus membuat video pengakuan... apa lagi bisa dia kira-kira? 🤔 Masih punya hati untuk meminta maaf kepada korban, itu gampang banget ya! Tapi apa yang penting, Chiko sudah mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Itu sudah langkah besar dari dia, kita harus mendukungnya 💪. Saya rasa ini bukan hanya tentang Chiko, tapi juga tentang bagaimana kita bisa belajar dari kesalahan-kesalahan kita sendiri untuk jangan terulang kembali di masa depan 🤝.
 
Apa sih yang dibicarainya hari ini? Pembuat konten cabul dipukul tangan di Semarang 😒. Saya pikir kalau sudah ada video klarifikasi, sudah apa lagi yang dibutuhkan? Kalau Chiko mau maaf dan jujur, kenapa harus dipukul tangan itu? Mungkin karena tekanan dari masyarakat? Atau karena ada yang lebih kuat di baliknya? 🤔 Saya rasa perlu ada perubahan di system yang tidak memadukan antara kebebasan berekspresi dengan tanggung jawab. Saya harap ada perubahan ini agar bukan hanya pembuat konten cabul yang dipukul tangan, tapi juga korban yang terkena dampaknya. 🤞
 
Aku pikir kalau kisah ini juga bisa berujung pada pembicaraan yang lebih luas tentang bagaimana teknologi AI bisa digunakan dengan bijak atau tidak. Aku sendiri kayaknya ragu-ragu banget ketika viral foto-foto semacam itu, tapi ternyata ada korban yang benar-benar terkena dampaknya. Chiko memang melakukan kesalahan, tapi aku rasa dia juga melakukan langkah koreksinya dengan membuat video pengakuan dan permintaan maaf. Sayangnya, itu tidak bisa menghindari proses hukumnya. Aku harap ada cara lain yang bisa diambil agar korban bisa mendapatkan bantuan yang lebih cepat atau lebih baik. 🤔
 
Pikiran saya kayaknya kotor banget... siapa tau kalau teknologi AI bisa dipake untuk ngedit konten cabul, tapi kalau nggak ada regulasi yang jelas, gampang banget banget... orang bisa ngedit apa saja dan bawa kesan negatif. Saya rasa perlu ada aturan yang ketat tentang penggunaan teknologi di media sosial, biar tidak ada lagi kasus seperti ini.
 
kembali
Top