Cari Kerja Susah, Gen Z Pilih Jadi Tukang Las Penghasilan Rp1,6 Miliar

ini sengaja lagi kaya, mungkin perusahaan di indonesia harus memikirkan juga tentang aspek sosial-keamanan bagi pekerja mereka. kalau kerodogan itu diakui sebagai "karyawan spesial", tentu ada aturan dan perlindungan yang harus diadopsi untuk para pekerja las ini. toh, mungkin kita harus mulai berbicara tentang hal ini sekarang juga 🤔
 
Lalu apa artinya kita harus mencari pekerja dengan keterampilan fisik dan teknis? Apakah itu berarti kita tidak boleh belajar untuk teknologi generatif itu, tapi lebih fokus pada hal-hal lain? Dan bagaimana kita bisa yakin bahwa AI tidak akan menggantikan manusia dalam melakukan pekerjaan ini? Kita pikir bahwa jika kita memiliki etos kerja yang baik dan cepat belajar, kita bisa melawan kehadiran teknologi generatif. Tapi, apakah itu benar? Apakah kita hanya menunda masalahnya, bukan mengatasi masalah tersebut?
 
Pekerja las dengan penghasilan Rp1,6 miliar itu memang penting banget, tapi aku rasa kita harus berpikir juga tentang keterampilan lainnya nih. Kita nggak bisa hanya fokus pada satu jenis pekerjaan aja, tapi harus coba segala hal dan belajar bagaimana kita dapat menjadi lebih kompetitif di pasar kerja. AI itu memang bisa membuat banyak pekerjaan menjadi otomatis, tapi kita juga bisa menjadi "produk" yang tidak dapat digantikan oleh mesin, yaitu kreativitas, empati, dan kemampuan komunikasi. Jadi, aku rasa kita harus fokus pada mengembangkan diri kita sendiri, bukan hanya mencari pekerjaan yang cocok, tapi menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya 🤔💡
 
iya, nggak salah kalau kawan-kawan yang suka las punya pendapatan banyak banget. tapi apa yang salah sih? mereka masih perlu ketekunan dan kerja keras, apalagi karena teknologi kelistrikan masih belum bisa menggantikan pekerjaan manual seperti ini. jadi, bukannya semuanya baik-baik saja?
 
kembali
Top