Kasus penyalahgunaan Grok di media sosial X, maupun AI lain yang memanipulasi foto menjadi tidak senonoh kini menimbulkan perdebatan. Penyebabnya ada karena beberapa kasus terjadi di luar dan dalam negeri.
Seorang musisi Rio de Janeiro, Julie Yukari, menerima notifikasi dari Grok bahwa ada pengguna yang meminta mengubah foto miliknya. Meskipun dia menyetujui permintaan tersebut secara tidak serius, foto miliknya pun hampir tidak berbusana tersebar di X.
Di dalam negeri, JKT48 menyatakan telah menerima beberapa laporan terkait penyalahgunaan layanan AI terhadap sejumlah anggotanya. Pihaknya tidak ragu untuk membawa masalah ini ke ranah hukum.
Para ahli sudah memberikan peringatan kepada pemilik Grok AI terkait potensi penyalahgunaan konten hasil AI, namun surat peringatan tersebut dikatakan diabaikan.
Konten vulgar yang dihasilkan AI generatif biasanya muncul tanpa persetujuan para pemilik foto di media sosial. Berdasarkan keterangan ini, beberapa pakar mengawasi perkembangan kebijakan X menyampaikan bahwa peringatan terhadap Grok sudah diluncurkan sejak Agustus lalu.
Peringatan tersebut malah berubah tujuan menjadi alat untuk memperlihatkan konten sensitif. Menurut Tyler Johnston, Direktur Eksekutif The Midas Project, peringatan terhadap Grok sudah diluncurkan sejak Agustus lalu. Aplikasi lakukan malah berubah tujuan menjadi alat untuk memperlihatkan konten sensitif.
Seorang Kepala Bagian Hukum dan Direktur Pusat Hukum, Dani Pinter menyampaikan bahwa beberapa hal menyebabkan foto pribadi rentan diedit AI. Di aplikasi X misalnya, Grok telah gagal menghapus sistem gambar yang sifatnya pelecehan di pelatihan AI.
Dengan begitu, layanan AI juga bisa menuruti prompt gambar yang tidak senonoh. Ia menambahkan bahwa X seharusnya memberikan larangan terhadap pengguna yang meminta konten ilegal, sehingga akan menambah lapisan perlindungan identitas digital bagi setiap orang.
Kerentanan foto diedit oleh AI generatif tidak terlepas dari kepemilikan dan pelatihan basis data setiap layanan. Organization of Economic Co-operation and Development (OECD) pernah membahas ini pada 2024 lalu. Menurut OECD, pelatihan AI terkadang memunculkan risiko bagi penyalahgunaan data pribadi.
Sistem kerap mengumpulkan informasi tanpa sepengetahuan pemilik karena data yang dikumpulkan terlalu besar. Meningkatnya kapasitas model AI untuk 'menghafal' data pelatihan dalam jumlah besar, large language model di balik alat AI generatif berbasis teks menimbulkan risiko pengumpulan, penggunaan, dan penggunaan kembali data pribadi tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan.
Untuk melindungi foto agar tidak diedit oleh Grok di X maupun AI generatif lainnya, ada beberapa tips aman. Pertama adalah mematikan izin aplikasi. Kedua adalah mengubah akun jadi privasi. Ketiga adalah selalu perhatikan notifikasi.
Seorang musisi Rio de Janeiro, Julie Yukari, menerima notifikasi dari Grok bahwa ada pengguna yang meminta mengubah foto miliknya. Meskipun dia menyetujui permintaan tersebut secara tidak serius, foto miliknya pun hampir tidak berbusana tersebar di X.
Di dalam negeri, JKT48 menyatakan telah menerima beberapa laporan terkait penyalahgunaan layanan AI terhadap sejumlah anggotanya. Pihaknya tidak ragu untuk membawa masalah ini ke ranah hukum.
Para ahli sudah memberikan peringatan kepada pemilik Grok AI terkait potensi penyalahgunaan konten hasil AI, namun surat peringatan tersebut dikatakan diabaikan.
Konten vulgar yang dihasilkan AI generatif biasanya muncul tanpa persetujuan para pemilik foto di media sosial. Berdasarkan keterangan ini, beberapa pakar mengawasi perkembangan kebijakan X menyampaikan bahwa peringatan terhadap Grok sudah diluncurkan sejak Agustus lalu.
Peringatan tersebut malah berubah tujuan menjadi alat untuk memperlihatkan konten sensitif. Menurut Tyler Johnston, Direktur Eksekutif The Midas Project, peringatan terhadap Grok sudah diluncurkan sejak Agustus lalu. Aplikasi lakukan malah berubah tujuan menjadi alat untuk memperlihatkan konten sensitif.
Seorang Kepala Bagian Hukum dan Direktur Pusat Hukum, Dani Pinter menyampaikan bahwa beberapa hal menyebabkan foto pribadi rentan diedit AI. Di aplikasi X misalnya, Grok telah gagal menghapus sistem gambar yang sifatnya pelecehan di pelatihan AI.
Dengan begitu, layanan AI juga bisa menuruti prompt gambar yang tidak senonoh. Ia menambahkan bahwa X seharusnya memberikan larangan terhadap pengguna yang meminta konten ilegal, sehingga akan menambah lapisan perlindungan identitas digital bagi setiap orang.
Kerentanan foto diedit oleh AI generatif tidak terlepas dari kepemilikan dan pelatihan basis data setiap layanan. Organization of Economic Co-operation and Development (OECD) pernah membahas ini pada 2024 lalu. Menurut OECD, pelatihan AI terkadang memunculkan risiko bagi penyalahgunaan data pribadi.
Sistem kerap mengumpulkan informasi tanpa sepengetahuan pemilik karena data yang dikumpulkan terlalu besar. Meningkatnya kapasitas model AI untuk 'menghafal' data pelatihan dalam jumlah besar, large language model di balik alat AI generatif berbasis teks menimbulkan risiko pengumpulan, penggunaan, dan penggunaan kembali data pribadi tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan.
Untuk melindungi foto agar tidak diedit oleh Grok di X maupun AI generatif lainnya, ada beberapa tips aman. Pertama adalah mematikan izin aplikasi. Kedua adalah mengubah akun jadi privasi. Ketiga adalah selalu perhatikan notifikasi.