Solikin menganggap pendalaman pasar keuangan merupakan langkah kritis untuk memperkuat nilai tukar Rupiah. Menurutnya, stabilitas mata uang ditentukan oleh keseimbangan permintaan dan penawaran valuta asing. Sumber permintaan berasal dari kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri, sedangkan penawaran didorong oleh hasil ekspor dan aliran masuk modal asing.
Ia juga menyoroti pentingnya pasar keuangan yang likuid dan berkembang bagi masuknya investasi asing. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengembangkan instrumen-instrumen keuangan yang menarik bagi investor. Menurut Solikin, di pasar keuangan harus dikembangkan instrumen-instrumen yang memang favorable untuk mereka menanam.
Dia juga mengapresiasi kebijakan terbaru pemerintah mengenai Dana Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA), yang wajib ditempatkan di bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Menurutnya, langkah ini merupakan salah satu terobosan untuk mengawal stabilitas nilai tukar.
Solikin juga memperkenalkan konsep "Semangka", yang ia usung sebagai pengejawantahan misinya dalam pencalonan Deputi Gubernur BI. Semangka adalah singkatan yang merangkum fokus kebijakannya, yaitu Stabilitas Makroekonomi dan Keuangan, Ekonomi Syariah dan Pesantren, Makroprudensial yang Inovatif, Akselerasi Reformasi Struktural, Navigasi Stabilitas Harga Pangan, Gerak UMKM dan Ekonomi Kreatif, Keandalan Digitalisasi Sistem Pembayaran, serta Aksi Bersama Sinergi dan Kolaborasi.
Pilar penting dari Semangka adalah menjaga stabilitas makroekonomi dan keuangan sebagai jangkar ketahanan nasional di tengah gejolak global. Solikin juga menitikberatkan pada pengembangan ekonomi syariah dan pesantren, yang dinilai berkontribusi pada pembangunan SDM berkarakter dan berdaya saing.
Selain itu, Solikin juga mengutarakan pentingnya inovasi kebijakan makroprudensial sebagai instrumen kunci untuk mendorong intermediasi pembiayaan yang optimal dan inklusif. Dengan demikian, dia berharap Semangka dapat menjadi kunci bagi bank sentral dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang tinggi.
Ia juga menyoroti pentingnya pasar keuangan yang likuid dan berkembang bagi masuknya investasi asing. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengembangkan instrumen-instrumen keuangan yang menarik bagi investor. Menurut Solikin, di pasar keuangan harus dikembangkan instrumen-instrumen yang memang favorable untuk mereka menanam.
Dia juga mengapresiasi kebijakan terbaru pemerintah mengenai Dana Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA), yang wajib ditempatkan di bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Menurutnya, langkah ini merupakan salah satu terobosan untuk mengawal stabilitas nilai tukar.
Solikin juga memperkenalkan konsep "Semangka", yang ia usung sebagai pengejawantahan misinya dalam pencalonan Deputi Gubernur BI. Semangka adalah singkatan yang merangkum fokus kebijakannya, yaitu Stabilitas Makroekonomi dan Keuangan, Ekonomi Syariah dan Pesantren, Makroprudensial yang Inovatif, Akselerasi Reformasi Struktural, Navigasi Stabilitas Harga Pangan, Gerak UMKM dan Ekonomi Kreatif, Keandalan Digitalisasi Sistem Pembayaran, serta Aksi Bersama Sinergi dan Kolaborasi.
Pilar penting dari Semangka adalah menjaga stabilitas makroekonomi dan keuangan sebagai jangkar ketahanan nasional di tengah gejolak global. Solikin juga menitikberatkan pada pengembangan ekonomi syariah dan pesantren, yang dinilai berkontribusi pada pembangunan SDM berkarakter dan berdaya saing.
Selain itu, Solikin juga mengutarakan pentingnya inovasi kebijakan makroprudensial sebagai instrumen kunci untuk mendorong intermediasi pembiayaan yang optimal dan inklusif. Dengan demikian, dia berharap Semangka dapat menjadi kunci bagi bank sentral dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang tinggi.