Bulog Klaim Margin 7% Bukan Keuntungan, Tapi Kompensasi Tugas

Direktur Keuangan Perum Bulog, Hendra Susanto, membenarkan klaim bahwa margin tujuh persen yang diberikan oleh Pemerintah Pusat untuk setiap penugasan bukan merupakan keuntungan. Margin ini disebut sebagai kompensasi atas pelaksanaan tugas negara di bidang pangan.

Menurut klaim Hendra, margin tersebut dimaksudkan untuk memastikan penugasan strategis Pemerintah Pusat dapat dijalankan secara berkelanjutan, profesional, dan akuntabel. Dengan demikian, margin ini disebut merupakan instrumen kebijakan negara, bukan laba usaha sebagaimana aktivitas bisnis pada umumnya.

"Harga beras nantinya akan sama seperti harga bahan bakar minyak, yakni sama se-Indonesia," kata Zulhas.
 
Gampang banget aja pemerintah bilang margin itu gak buat keuntungan, tapi aku tahu kalau gak bisa salah lagi. Saya ingat kapan-kapan beli beras di pasar tradisional di daerah aku, harga beras itu terus naik tiap tahunnya. Artinya, margin itu nanti pasti akan naik, bukan jatuh?

Aku pikir gampang sekali Pemerintah bisa mengatur harga beras agar sama dengan harga minyak, tapi gimana kalau produksi beras di Indonesia itu terus menurun? Atau gimana kalau harganya terus naik dan tidak terjangkau oleh masyarakat? Aku pikir margin itu harus jadi kebijakan yang lebih teliti.
 
Gue pikir kalau margin tujuh persen itu nggak terlalu masuk akal sih, apalagi kalau kita lihat dari perspektif masyarakat. Mereka yang harus makan nasi putih setiap hari, apa sih keuntungannya ada margin tujuh persen? ๐Ÿค”

Gue lebih percaya kalau pemerintah harus fokus pada mengurangi harga beras yang naik-tanpa terikan biaya produksi. Itu dia solusinya buat membuat beras harganya lebih murah dan masyarakat bisa makan nasi putih dengan budget yang lebih sulit ๐Ÿค—

Gue rasa kalau margin tujuh persen itu hanya cara yang cerdas dari pemerintah ingin mengelola biaya produksi, tapi apa sih keuntungan bagi masyarakat? Kita harus fokus pada kebutuhan sehari-hari, bukan soal margin dan profit ๐Ÿ™

Gue juga pikir kalau ini dia buat nggabungkan bisnis dengan pemerintah, tapi sepertinya ada masalah kompetensi. Kalau dia tidak bisa mengatur harga beras yang lebih murah, maka apa sih tujuannya? ๐Ÿ˜Š
 
Aku pikir ini kontroversi yang nggak perlu, apa kabarin margin tujuh persen itu bukan justru keuntungan bagi direktur keuangan? Kalau begitu, kenapa mereka lagi memakai istilah kompensasi dan instrumen kebijakan negara? Aku rasa ini semua sama aja, kalau bukan langsung bilang kalau mereka ingin menguntungkan sendiri. Tapi aku yakin harga beras nantinya akan sama seperti minyak, apa yang perlu kita lakukan lagi? ๐Ÿค”๐Ÿ’ธ
 
Gue rasa kalau margin 7 persen itu jadi masalah besar. Gue ingat waktu gue kecil, biar sakit-sakitan atau kuar makan, apa yang dijual di pasar itu adalah nasi goreng 50rb, siomay 100rb, dan beras 200rb per kilo! Jangan bisa dipikirkan kalau pemerintah memberi margin 7 persen untuk penugasan strategis seperti itu. Gue rasa kalau harga beras nanti benar-benar sama dengan harga bahan bakar minyak, itu artinya kita akan gila karena harus beli beras yang mahal! ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ’ธ
 
MARGIN TUJUH PERSEN ITU NYEBAK NYEPAK GA AKAN BISA MENUNTUNYA PENGELAARAN NASIONAL? MULAI KARA GA TERTANGGU DI LAYAR BURSA, INI NYEBAKNYEPAK! MARGIN ITU HANYA CARA GANTI RENUNG KERNAK NASIONALGA YANG LAH NGELAR. INI NYEBAKNYEPAK NYA LUAR BIASA!
 
gak bisa percaya sih, margin tujuh persen itu untuk apa sih? kalau bukan laba, kenapa lagi ada? jelas tidak masuk akal. kalau ingin memastikan penugasan strategis, kenapa harus ditanggung oleh orang lain? kita gak punya masalah dengan Pemerintah Pusat, tapi ini gak jelas sama sekali ๐Ÿค”
 
Aku pikir klaim Hendra Susanto tentang margin tujuh persen itu masih belum jelas sekali. Jika margin ini benar-benar hanya untuk memastikan penugasan strategis, maka bagaimana dengan efisiensi operasionalnya? Mengapa margin ini tidak harus lebih rendah sehingga bisa memberi keuntungan kepada perusahaan yang terlibat?

Dan apa artinya dengan harga beras nantinya akan sama seperti harga minyak? Aku pikir itu cara untuk mengelabui masyarakat, bukan untuk meningkatkan efisiensi. Jika kita ingin mengoptimalkan harga beras, maka perlu ada analisis yang lebih mendalam tentang kebutuhan pasar dan produksi nantinya.
 
hehe, aku rasa kalau margin tujuh persen itu bikin banyak keraguan, tapi sih aku paham kenapa goes itu ada. Kalau margin itu dianggap sebagai instrumen kebijakan negara, maksudnya bukan ada maksud untung-untungan aja, tapi untuk memastikan penugasan strategis pemerintah bisa berjalan lancar ๐Ÿค.

Aku rasa kalau harga beras nanti akan sama dengan harga bahan bakar minyak itu agak telesa... jadi sih ada kebijakan yang harus kita ikuti. Aku harap pemerintah bisa menyesuaikan kebijakan tersebut dengan kemampuan masyarakat, supaya tidak terlalu banyak kesulitan untuk keluarga rumahan ๐Ÿค—.

Tapi aku curiga, bagaimana kalau margin itu ada efek pada pertanian? Aku rasa pertanian itu perlu diwaspadai, apalagi kalau teknologi sudah begitu maju ๐ŸŒพ.
 
margin tujuh persen ini kayaknya jadi kesalahpahaman bro... kalau diartikan sebagai keuntungan, gak masuk akal! itu bukan laba usaha, tapi kompensasi birokrat aja ๐Ÿ™„ apa artinya? siapa yang akan merasakan margin tersebut? entah siapa yang akan bayar utang kita bro... dan kalau harga beras kayak dengan minyak, gak ada akhirnya ya? kayaknya gak perlu dipikirkan deh, tapi gak sengaja dijadikan subjek diskusi bro ๐Ÿค”
 
Pengaturan margin itu benar-benar memperluas pemikiran kita tentang cara kerja pemerintah dan bagaimana mereka bisa beroperasi tanpa harus diawasi oleh banyak mata. Kalau mau dibayangkan, sebenarnya cara ini sudah ada sejak lama tapi dengan nama yang lain aja. Saya yakin kalau kita lihat dari perspektif tertentu, margin itu sebenarnya adalah bagian dari strategi besar pemerintah untuk mengatur pasar dan harga beras secara nasional. Dan kalau kita lihat dari perspektif ini, maka pembagian margin itu bukanlah sesuatu yang perlu dianggap sebagai laba bisnis, tapi lebih kepada bagaimana cara kerja sistem yang tidak pernah terlihat oleh mata umum aja
 
Gampang banget sih kalau biro keuangan perum bulog malah jujur tentang margin yang diberikan gini. Margin tujuh persen bisa dianggap sebagai imbalan atas kinerja yang baik, tapi mungkin ada hal lain yang tidak disebutkan, seperti bagaimana biaya operasionalnya diatasi ya ๐Ÿค‘. Tapi aku rasa Hendra susanto benar-benar jujur tentang klaimnya, tapi mungkin perlu ditejar lebih lanjut tentang bagaimana margin ini diperoleh dan diinvestasikan, siapa yang nantinya akan mengambil keuntungan dari itu ๐Ÿค”.
 
Maksud sih bagus ya, marginnya bukan tentang keuntungan tapi tentang kenyamanan rakyat. Sama aja seperti biaya hidup di rumah, kita bayar biar bisa hidup nyaman ๐Ÿ˜Š. Jadi kalau pemerintah bikin kebijakan yang baik, maka kita bakal terimali manfaatnya bukan? ๐Ÿค”
 
Margin tujuh persen itu bikin aku penasaran, siapa yang benar-benar mendapat margin itu? Pemerintah atau perusahaan? Aku rasa ini salah paham, kalau margin itu bukan laba, tapi kompensasi atas tugas negara, maka apa sisa margin itu? Apakah ada laporan keuangan yang jelas tentang pengeluaran dan pendapatan dari margin itu? Aku rasa perlu transparansi, biar orang bisa memahami bagaimana margin itu digunakan. ๐Ÿค”
 
Gue pikir ini kayak giliran lagi siapa yang harus ditanggung biaya? Margin tujuh persen itu buat apa sih? Gue bayangkan kalau birokrasi itu punya margin yang sama, gue tahu kalau ari-ari gue akan ke capek banget. Tapi ini kayak giliran masyarakat yang harus terima loss. Aku rasa ini buat nggak adanya kompetisi di bidang pangan.
 
Kalau mantap sih margin tujuh persen itu bukan untuk keuntungan, tapi buat kompensasi ya? Saya kayaknya perlu dijadikan contoh bagaimana pemerintah bisa mengatur kebijakan dengan jelas. Kalau gini, maka kita tidak akan punya masalah lagi tentang harga beras dan apa yang harus dilakukan. Tapi, ini juga membuat saya bayangkan tentang efisiensi dari sistem ini. Bagaimana kalau margin itu sebenarnya adalah kombinasi dari biaya operasional dan laba? Saya pikir ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Kita perlu lebih serius dalam mengelola keuangan dan prioritas tugas-tugas negara, agar semua orang bisa mendapatkan faedah dari sistem ini ๐Ÿ˜Š
 
Gak sabar banget dengar klaim itu ๐Ÿค”! Margin tujuh persen itu jelas bukan tentang untung, tapi tentang memastikan Pemerintah bisa ngebut dalam mengatur pangan di Indonesia ๐Ÿš๐ŸŒพ. Sama-sama aja, biaya itu akan tertera di harga beras, jadi kita tidak perlu khawatir tentang inflasi ๐Ÿ˜ฌ. Tapi, gak ada salahnya kalau masing-masing orang bisa tahu bagaimana margin itu bekerja dan bagaimana Pemerintah mencoba meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan pangan ๐Ÿค๐Ÿป๐Ÿ“ˆ
 
Maksud aja kalau margin tujuh persen itu untuk memastikan pemerintah bisa menjalankan strategi strategis buat ngatur pasokan pangan di Indonesia, kalo gini gak ada masalah sih... tapi apa kalau margin ini juga bisa membawa keuntungan bagi direktur keuangan BULOG aja? Kita jadi tidak tahu sih...
 
Maksudnya margin tujuh persen itu bukan cuma biaya aja, tapi juga ada fungsinya sebagai alat untuk memastikan strategi pemerintah berjalan lancar ๐Ÿค”. Tapi, apa keuntungannya kalau sekarang harga beras sama seperti minyak? Itu nggak adem banget, kan? Mereka bukan cuma ingin memberikan margin aja, tapi juga harus memastikan bahwa strategi pemerintah ini tidak terlalu menguntungkan bagi suatu kelompok tertentu. Gini aja jadi masalahnya ๐Ÿคทโ€โ™‚๏ธ.
 
kembali
Top