Kisah Tragedi Bocah SD NTT yang Akhirnya Mengakhiri Hidupnya dengan Ulasan Penuh Ketakutan
Di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, sebuah kejadian tragis terjadi saat seorang siswa kelas IV berusia 10 tahun ditemukan tewas di sebuah dahan pohon cengkeh. Korban sempat meminta ibunya untuk membelinya buku tulis dan pena, namun permintaan itu tidak bisa dipenuhi karena kondisi ekonomi keluarganya yang terbatas.
Ibunda korban mengaku pernah memberikan nasihat terakhir agar anaknya tetap rajin bersekolah. Dalam pemeriksaan polisi, ibunda korban mengaku kondisi ekonomi keluarga tergolong terbatas dan menghadapi berbagai kekurangan. Korban ditemukan meninggal dalam kondisi tergantung di sebuah dahan pohon cengkeh.
Tempat kejadian perkara itu berada tak jauh dari pondok tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun. Dalam penyelidikan di tempat kejadian perkara (TKP), petugas kepolisian menemukan sebuah surat tulisan tangan yang diduga ditujukan kepada ibunda korban.
Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus Pissort, mengatakan sejauh ini pihaknya menduga surat tulisan tangan itu dibuat korban sebelum mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya. "Kesimpulan ini berdasarkan hasil pencocokan tulisan dengan beberapa buku tulis yang dimiliki korban. Tim penyidik menemukan kesamaan yang jelas antara tulisan di surat dengan tulisan di buku-buku tersebut," jelas Benediktus Pissort kepada CNNIndonesia.com.
Dalam surat tersebut, korban meminta ibundanya untuk merelakan dia pergi lebih dulu. Dalam surat itu juga ditulis agar ibunda merelakannya--tak perlu menangis, mencari, atau merindukannya. Pada bagian akhir tulisan tangan tersebut terdapat gambar yang menyerupai emoji dengan wajah menangis.
Keluarga korban menghadapi banyak tantangan hidup, sehingga bocah itu tinggal bersama neneknya di pondok tersebut. Kisah tragis ini memberikan kesan penuh ketakutan dan membuat kita berpikir tentang pentingnya mendukung keluarga yang memerlukan bantuan ekonomi.
Kita harus selalu mengingat bahwa setiap orang memiliki hak untuk hidup dengan damai dan aman. Dalam kasus ini, kita harap dapat belajar dari kesalahan dan memberikan bantuan kepada keluarga korban agar dapat melewati kesulitan ini dengan lebih baik.
Di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, sebuah kejadian tragis terjadi saat seorang siswa kelas IV berusia 10 tahun ditemukan tewas di sebuah dahan pohon cengkeh. Korban sempat meminta ibunya untuk membelinya buku tulis dan pena, namun permintaan itu tidak bisa dipenuhi karena kondisi ekonomi keluarganya yang terbatas.
Ibunda korban mengaku pernah memberikan nasihat terakhir agar anaknya tetap rajin bersekolah. Dalam pemeriksaan polisi, ibunda korban mengaku kondisi ekonomi keluarga tergolong terbatas dan menghadapi berbagai kekurangan. Korban ditemukan meninggal dalam kondisi tergantung di sebuah dahan pohon cengkeh.
Tempat kejadian perkara itu berada tak jauh dari pondok tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun. Dalam penyelidikan di tempat kejadian perkara (TKP), petugas kepolisian menemukan sebuah surat tulisan tangan yang diduga ditujukan kepada ibunda korban.
Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus Pissort, mengatakan sejauh ini pihaknya menduga surat tulisan tangan itu dibuat korban sebelum mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya. "Kesimpulan ini berdasarkan hasil pencocokan tulisan dengan beberapa buku tulis yang dimiliki korban. Tim penyidik menemukan kesamaan yang jelas antara tulisan di surat dengan tulisan di buku-buku tersebut," jelas Benediktus Pissort kepada CNNIndonesia.com.
Dalam surat tersebut, korban meminta ibundanya untuk merelakan dia pergi lebih dulu. Dalam surat itu juga ditulis agar ibunda merelakannya--tak perlu menangis, mencari, atau merindukannya. Pada bagian akhir tulisan tangan tersebut terdapat gambar yang menyerupai emoji dengan wajah menangis.
Keluarga korban menghadapi banyak tantangan hidup, sehingga bocah itu tinggal bersama neneknya di pondok tersebut. Kisah tragis ini memberikan kesan penuh ketakutan dan membuat kita berpikir tentang pentingnya mendukung keluarga yang memerlukan bantuan ekonomi.
Kita harus selalu mengingat bahwa setiap orang memiliki hak untuk hidup dengan damai dan aman. Dalam kasus ini, kita harap dapat belajar dari kesalahan dan memberikan bantuan kepada keluarga korban agar dapat melewati kesulitan ini dengan lebih baik.