Jakarta menjadi magnet bagi sineas muda dunia dalam waktu dekat, optimis Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno setelah membuka acara Jakarta Youth Film Festival (JYFF) 2026. Menurutnya, festival ini akan berlangsung panjang dan menarik perhatian pembuat film internasional dengan kemungkinan datangnya sineas kelas dunia.
"Film pendek bukan sekadar karya murah, melainkan medium dengan kekuatan konsep yang besar dan berpotensi melahirkan sineas kelas dunia," kata Rano. Ia menilai festival ini menjadi langkah awal penting untuk mewujudkan visi Jakarta sebagai kota sinema dunia.
Penggemar film pendek harus siap untuk menghadapi tantangan yang lebih besar dalam dunia perfilman. "Kreativitas itu kuncinya ada di konsep. Film pendek itu bukan film murah, tapi film dengan pemikiran yang kuat," ujarnya.
Selain itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta juga menekankan pentingnya ekosistem yang berkelanjutan, mulai festival, workshop, hingga keterlibatan investor. Ia meyakini ke depan JYFF tidak hanya diikuti pembuat film, tetapi juga akan menarik perhatian pelaku industri dan investor perfilman.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan menyampaikan sektor ekonomi kreatif memiliki peran strategis dalam perekonomian Jakarta. Berdasarkan data BI, ekonomi kreatif DKI Jakarta tumbuh sebesar 9,4 persen, namun kontribusinya terhadap PDRB masih sekitar 11,4 persen, sehingga ruang pengembangannya masih sangat besar.
"Dengan demikian, ini menunjukkan peluang yang sangat besar untuk kita dorong. Salah satunya melalui sektor film yang memiliki multiplier effect kuat ke sektor lain, seperti transportasi, kuliner, fashion, hingga penciptaan lapangan kerja," jelas Iwan.
Jakarta Youth Film Festival 2026 merupakan bagian dari komitmen BI DKI Jakarta untuk mengimplementasikan ide dan visi Pemprov DKI dalam mengembangkan ekonomi kreatif, khususnya profilman. Festival ini juga menjadi rangkaian dari Jakarta Creative Festival dan perayaan HUT DKI Jakarta.
"Film pendek bukan sekadar karya murah, melainkan medium dengan kekuatan konsep yang besar dan berpotensi melahirkan sineas kelas dunia," kata Rano. Ia menilai festival ini menjadi langkah awal penting untuk mewujudkan visi Jakarta sebagai kota sinema dunia.
Penggemar film pendek harus siap untuk menghadapi tantangan yang lebih besar dalam dunia perfilman. "Kreativitas itu kuncinya ada di konsep. Film pendek itu bukan film murah, tapi film dengan pemikiran yang kuat," ujarnya.
Selain itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta juga menekankan pentingnya ekosistem yang berkelanjutan, mulai festival, workshop, hingga keterlibatan investor. Ia meyakini ke depan JYFF tidak hanya diikuti pembuat film, tetapi juga akan menarik perhatian pelaku industri dan investor perfilman.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan menyampaikan sektor ekonomi kreatif memiliki peran strategis dalam perekonomian Jakarta. Berdasarkan data BI, ekonomi kreatif DKI Jakarta tumbuh sebesar 9,4 persen, namun kontribusinya terhadap PDRB masih sekitar 11,4 persen, sehingga ruang pengembangannya masih sangat besar.
"Dengan demikian, ini menunjukkan peluang yang sangat besar untuk kita dorong. Salah satunya melalui sektor film yang memiliki multiplier effect kuat ke sektor lain, seperti transportasi, kuliner, fashion, hingga penciptaan lapangan kerja," jelas Iwan.
Jakarta Youth Film Festival 2026 merupakan bagian dari komitmen BI DKI Jakarta untuk mengimplementasikan ide dan visi Pemprov DKI dalam mengembangkan ekonomi kreatif, khususnya profilman. Festival ini juga menjadi rangkaian dari Jakarta Creative Festival dan perayaan HUT DKI Jakarta.