Dusun Bedono, Kecamatan Sayung, Demak, menjadi salah satu destinasi di Indonesia yang penuh harapan untuk membangun ekonomi masyarakat nelayan. Saat ini banyak warga telah melakukan budidaya kerang hijau sebagai alternatif penghasil pendapatan dari laut yang tidak stabil.
Di tahun 2025, penelitian Universitas Diponegoro (Undip) mencatat adanya perubahan signifikan di Dusun Bedono. Kini, sebagian besar warga sudah melakukan budidaya kerang hijau sebagai cara bertahan hidup di pesisir yang rentan abrasi dan rob. Budidaya ini relatif sederhana: warga membuat rumpon dari bambu, memasang paranet untuk menempelkan kerang hijau, lalu menancapkan pada dasar laut.
Budidaya kerang hijau di Bedono memberikan manfaat yang signifikan. Warga mendapatkan pendapatan dari penjualan kerang hijau yang lebih stabil dibanding dengan hasil tangkapan ikan di laut. Harga kerang hijau saat panen raya bisa mencapai Rp10.000 per kilogram, jauh lebih tinggi dari harga biasa di pasar.
Selain itu, budidaya ini juga memiliki fungsi taktis. Warga dapat mengatur sedimen sehingga menahan laju abrasi pada dasar laut, sehingga membantu warga bertahan hidup. Bahkan, banyak rumpon yang telah hilang akibat abrasi.
Namun, perlu diingat bahwa budidaya kerang hijau ini masih memiliki potensi risiko. Saiful Rozi, seorang nelayan dari Dusun Bedono, mengakui bahwa setiap petak rumpon dapat menghasilkan 20 kilogram kerang hijau, tetapi hasilnya sangat tergantung pada kondisi laut. Pada satu kesempatan, kerang hijau yang dihasilkannya mati karena abrasi.
Untuk menyeimbangkan risiko ini, Saiful dan warga Bedono perlu melakukan analisis biaya serta manfaat. Investasi pembuatan rumpon harus dibandingkan dengan potensi kerusakan akibat abrasi dan rob untuk menentukan apakah manfaatnya lebih besar dari biayanya.
Rumpon kerang hijau di Dusun Bedono dinyatakan sebagai strategi bertahan yang sangat penting. Menurut Bagas Kurniawan, aktivis WALHI Jawa Tengah, rumpon dapat memecah gelombang dan menangkap sedimen sehingga membantu pesisir yang terus terkikis.
"Kita harus didukung," katanya, "sebagai upaya bertahan hidup nelayan yang penuh harapan ini sangat penting. Saat ini, laut akan memberi kita, apa yang kita lakukan nanti?"
Di tahun 2025, penelitian Universitas Diponegoro (Undip) mencatat adanya perubahan signifikan di Dusun Bedono. Kini, sebagian besar warga sudah melakukan budidaya kerang hijau sebagai cara bertahan hidup di pesisir yang rentan abrasi dan rob. Budidaya ini relatif sederhana: warga membuat rumpon dari bambu, memasang paranet untuk menempelkan kerang hijau, lalu menancapkan pada dasar laut.
Budidaya kerang hijau di Bedono memberikan manfaat yang signifikan. Warga mendapatkan pendapatan dari penjualan kerang hijau yang lebih stabil dibanding dengan hasil tangkapan ikan di laut. Harga kerang hijau saat panen raya bisa mencapai Rp10.000 per kilogram, jauh lebih tinggi dari harga biasa di pasar.
Selain itu, budidaya ini juga memiliki fungsi taktis. Warga dapat mengatur sedimen sehingga menahan laju abrasi pada dasar laut, sehingga membantu warga bertahan hidup. Bahkan, banyak rumpon yang telah hilang akibat abrasi.
Namun, perlu diingat bahwa budidaya kerang hijau ini masih memiliki potensi risiko. Saiful Rozi, seorang nelayan dari Dusun Bedono, mengakui bahwa setiap petak rumpon dapat menghasilkan 20 kilogram kerang hijau, tetapi hasilnya sangat tergantung pada kondisi laut. Pada satu kesempatan, kerang hijau yang dihasilkannya mati karena abrasi.
Untuk menyeimbangkan risiko ini, Saiful dan warga Bedono perlu melakukan analisis biaya serta manfaat. Investasi pembuatan rumpon harus dibandingkan dengan potensi kerusakan akibat abrasi dan rob untuk menentukan apakah manfaatnya lebih besar dari biayanya.
Rumpon kerang hijau di Dusun Bedono dinyatakan sebagai strategi bertahan yang sangat penting. Menurut Bagas Kurniawan, aktivis WALHI Jawa Tengah, rumpon dapat memecah gelombang dan menangkap sedimen sehingga membantu pesisir yang terus terkikis.
"Kita harus didukung," katanya, "sebagai upaya bertahan hidup nelayan yang penuh harapan ini sangat penting. Saat ini, laut akan memberi kita, apa yang kita lakukan nanti?"