Broken Strings dan Dinamika Persetujuan Hubungan Relasional

Dalam hubungan relasional, persetujuan sering dianggap sebagai keputusan individual sederhana: "ya" atau "tidak". Namun, proses ini jauh lebih kompleks. Persetujuan muncul dari interaksi yang berlangsung dalam relasi kuasa tertentu, di mana satu pihak memiliki kapasitas lebih besar untuk mendefinisikan situasi dan pihak lain cenderung menyesuaikan diri.

Kisah Aurelie Moeremans dalam buku "Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth" memberikan contoh yang relevan. Pada kisah tersebut, batas personal digeser secara bertahap, penolakan ditanggapi sebagai ketidakdewasaan, dan rasa bersalah dibangun melalui bahasa afeksi. Persetujuan muncul di akhir rangkaian interaksi yang panjang, bukan sebagai titik awal keputusan.

Konsep "framing" dari Erving Goffman membantu menjelaskan proses ini. Setiap interaksi sosial selalu berlangsung dalam definisi situasi tertentu: siapa yang berhak menentukan apa yang sedang terjadi, dan bagaimana peristiwa itu dipahami.

Dalam hubungan relasional Indonesia, budaya sungkan dan struktur relasi yang hierarkis memperkuat dinamika ini. Perbedaan usia, status sosial, reputasi, atau posisi profesional sering dimaknai sebagai legitimasi simbolik untuk menentukan arah interaksi. Ketidaknyamanan jarang diartikulasikan secara langsung sebagai penolakan, melainkan dipendam demi menjaga keharmonisan relasi.

Persetujuan dalam hubungan relasional ini sering terbentuk melalui adaptasi terhadap ekspektasi sosial, bukan melalui artikulasi kehendak personal yang setara. Dengan demikian, ilmu komunikasi mengarahkan perhatian pada dinamika ini: bagaimana individu dibentuk melalui interaksi simbolik, hingga ruang untuk mempertahankan batas personal semakin menyempit.

Dalam konteks ini, penting untuk memahami bahwa persetujuan bukanlah sekadar "ya" atau "tidak", tetapi hasil dari bahasa, framing, relasi kuasa, dan norma gender yang saling bertaut. Ketika seseorang akhirnya mengatakan "ya", pertanyaan analitisnya terletak pada proses komunikatif yang membentuk keputusan tersebut.
 
iya aja, konsep persetujuan di hubungan relasional itu seperti nge-eksekusi diri sendiri, nggak ada pilihan utuh "ya" atau "tidak", tapi gokil-ngokilnya prosesnya, kayaknya kita harus mulai dari mana kalau mau berkomunikasi dengan mantap aja.
 
Gampang nanya kan? Persetujuan bukan cuma tentang apa yang diinginkan, tapi juga tentang bagaimana kita beradaptasi dengan situasi. Di Indonesia, kita cenderung lebih suka menyesuaikan diri agar tidak mengganggu orang lain, kan? Meski begitu, ada kenaikan kesadaran tentang pentingnya memahami keinginan sendiri dan tidak terlalu mementingkan perasaan orang lain. Tapi, masih banyak yang salah paham tentang apa itu persetujuan benar...
 
Wow ๐Ÿ˜ฎ๐Ÿ‘ kalau bisa ngetopik nih tentang bagaimana hubungan relasional di Indonesia kayaknya jadi kompleks banget ๐Ÿคฏ. Lalu bagaimana bisa kita ngerti bahwa persetujuan bukan hanya sekedar "ya" atau "tidak", tapi hasil dari banyak faktor yang saling terkait ๐Ÿ“ˆ.
 
Gue pikir konsep ini agak berlebihan banget, kalau kita katakan persetujuan dalam hubungan relasional itu bukan sekadar "ya" atau "tidak". Gue rasa itu seperti memikirkan persetujuan dalam permainan kartu, kalau pertanyaannya siapa nanti yang mendapatkan kartu. Tapi bagaimana caranya kita bisa tahu pasti siapa yang benar-benar "mandiri" di situ? Gue pikir ilmu komunikasi itu sudah cukup panjang dan rumit, gak perlu menambahkan banyak lagi konsep yang bikin kepala berputar.
 
Saya pikir penting untuk memahami bahwa persetujuan dalam hubungan relasional bukanlah tentang "ya" atau "tidak" saja, tapi juga tentang bagaimana kita beradaptasi dengan ekspektasi sosial dan norma gender yang ada. Misalnya, aku pernah temeninaku yang lebih tua dari aku, dia selalu menyesuaikan diri dengan apa yang aku inginkan, tapi di balik itu, aku rasa dia juga memiliki keinginan sendiri yang tidak terungkapkan.

Dan saya suka pertanyaannya, bagaimana kita bisa mengatakan "ya" atau "tidak" dalam hubungan relasional tanpa menutupi emosi dan kehendak personal? Aku pikir itu penting untuk memahami bahwa persetujuan bukanlah tentang mengalah atau dikalahkan, tapi tentang bagaimana kita bisa menemukan kesepakatan yang sehat dan saling menghormati. ๐Ÿ’ฌ๐Ÿ’•
 
Pikirannya kayak memanggil orang lain untuk menanggung beban kesalahannya. Persetujuan dalam hubungan relasional seperti ini, seringkali bukan tentang apa yang kita ingin katakan, tapi tentang bagaimana kita tidak ingin membuat orang lain merasa tidak nyaman ๐Ÿค”.
 
gini ya... kalau kita lihat hubungan relasional di Indonesia, seringkali ada tekanan besar dari lingkungan dan orang lain sekitar. misalnya, jika kamu punya perbedaan pendapat dengan orang tua atau teman, mungkin kamu akan lebih cenderung menyesuaikan diri daripada mengatakan "tidak" secara langsung. itu karena dalam budaya kita, seringkali ada tekanan untuk menjaga harmonisasi dan tidak ingin membuat orang lain merasa tidak nyaman ๐Ÿค—

dan kayaknya, itu juga terkait dengan struktur relasi yang hierarkis di Indonesia. misalnya, jika kamu punya perbedaan pendapat dengan orang yang lebih tua atau berstatus sosial tinggi, mungkin kamu akan lebih cenderung menyesuaikan diri daripada mengatakan "tidak" secara langsung. itu karena dalam budaya kita, seringkali ada tekanan untuk memenuhi ekspektasi dan tidak ingin membuat orang lain merasa tidak nyaman ๐Ÿ˜Š

jadi, penting sekali untuk memahami bahwa persetujuan bukanlah sekadar "ya" atau "tidak", tetapi hasil dari bahasa, framing, relasi kuasa, dan norma gender yang saling bertaut. dan kita harus menghargai batas personal dan kekuatan individu dalam membentuk keputusan ๐Ÿค
 
Pagi kawan ๐Ÿ’ก! Aku pikir cerita tentang persetujuan dalam hubungan relasional ini sangat relevan dengan pengalaman aku sendiri. Ketika aku masih cilik, aku sering kali merasa tidak nyaman untuk mengatakan "tidak" pada orang tuaku atau guru aku, karena aku khawatir akan membuat mereka kesal atau kecewa. Tapi sekarang, aku sudah dewasa dan aku pikir aku bisa mengakui perasaan aku sendiri dengan lebih bebas. Aku rasa itu karena kita telah belajar untuk memahami bahwa persetujuan bukanlah sekadar "ya" atau "tidak", tapi hasil dari banyak faktor seperti budaya, struktur relasi, dan norma sosial yang kita ikuti. Kita harus bisa mengakui kebebasan individu dalam membuat keputusan, bahkan jika itu berarti menyinggung perasaan orang lain. Semoga kita semua bisa lebih sadar tentang hal ini! ๐Ÿค”
 
aku rasa persetujuan dalam hubungan relasional ini bukannya mudah untuk didefinisikan. seperti kisah Aurelie Moeremans, ada kalanya kita harus menyesuaikan diri dengan apa yang diharapkan oleh orang lain, bahkan jika itu berarti mengabaikan perasaan sendiri. kemudian ada hal yang seru, proses ini juga dipengaruhi oleh faktor seperti usia, status sosial, dan posisi profesional, sehingga bisa jadi kita harus lebih teliti dalam memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam hubungan itu ๐Ÿค”๐Ÿ’ฌ
 
Kalau gini, persetujuan nggak sepesta banget, ya? Seperti di dalam hubungan relasional, orang-orang sibuk menyesuaikan diri dengan apa yang dimaksudkan oleh orang lain, bukan langsung mengatakan apa yang ingin mereka katakan. Nah, itu seperti bermain teka-teki, di mana kamu harus tahu siapa yang berhak menentukan apa yang terjadi dan bagaimana cara memahaminya. Dan kalau kamu nggak bisa menebaknya, maka kamu justin pasif, ya?
 
๐Ÿค”๐Ÿ‘ซ๐Ÿ’ญ

Penggunaan bahasa yang sesuai untuk menunjukkan persetujuan di Indonesia lebih sering daripada menggunakan kata "ya" atau "tidak". Karena, kalau pengguna kata-kata itu, orang lain mungkin salah paham. Misalnya, "Saya suka es krim manis" bukan berarti orang itu tidak bisa mengatakan "Es krim manis nggak enak" ๐Ÿคทโ€โ™‚๏ธ

Dan, kalau kita lihat dari budaya kami, penggunaan bahasa yang sesuai untuk menunjukkan persetujuan lebih sering daripada menggunakan kata-kata yang mengandung kekuatan kuasa. Karena, kalau kita menggunakan kata-kata itu, orang lain mungkin merasa terancam atau tidak nyaman ๐Ÿ˜’
 
Oke ga paham nih, kalau dalam hubungan relasional, persetujuan bukan sekedar tentang "ya" atau "tidak", tapi proses yang lebih kompleks banget ๐Ÿคฏ. Seperti bagaimana kita terobati oleh ekspektasi sosial, dan perlu memahami bahwa bahasa, framing, relasi kuasa, dan norma gender semua berkontribusi pada keputusan itu ๐Ÿ˜Š. Makanya, penting untuk memahami proses komunikatif yang membentuk keputusan itu, bukan sekedar tentang "ya" atau "tidak", tapi hasil dari bahasa, framing, relasi kuasa, dan norma gender yang saling bertaut ๐Ÿค.
 
omg kayak gue paham apa itu persetujuan dalam hubungan relasional? kaya buku tersebut berbicara tentang bagaimana kita tidak benar-benar memiliki pilihan "ya" atau "tidak", tapi ada banyak faktor yang mempengaruhi keputusan kita ๐Ÿค”. dan gue tahu, gue sendiri sering merasa kesulitan mengungkapkan pendapat saya karena takut menyakiti orang lain ๐Ÿ™ˆ. apa salahnya kalau kita nggak bisa berbicara tentang hal-hal yang sebenarnya di pikiran kita? mungkin itu sebabnya kita selalu berusaha mencari keseimbangan dalam hubungan relasional, ya? ๐Ÿ˜Š
 
Pengenalan "ya" atau "tidak" itu simpel banget, tapi hasilnya seru kompleks ๐Ÿคฏ. Saya rasakan kalau di hubungan saya, selalu ada nuansa tertinggal, seperti ada rasa yang tidak diungkapkan ๐Ÿ’ญ. Tapi memang benar, persetujuan dalam hubungan relasional itu bukan sekedar "ya" atau "tidak", tapi hasil dari banyak faktor ๐Ÿค. Saya pengen lebih banyak paham tentang bagaimana cara kita "membentuk" keputusan yang diungkapkan dengan "ya" atau "tidak" itu ๐Ÿ˜Š.
 
Sekarang aku pikir persetujuan dalam hubungan relasional Indonesia memang jadi kompleks banget. Buat apa kita bilang "ya" atau "tidak" jika sebenarnya itu hasil dari interaksi yang panjang dan dinamika kuasa lainnya? Kita harus lebih serius untuk memahami bagaimana komunikasi mempengaruhi keputusan kita. Contoh kisah Aurelie Moeremans jadi inspiratif banget, tapi juga jadi sedikit kecewa kalau kita pikir bahwa persetujuan itu sekedar tentang batas pribadi atau penolakan yang sederhana ๐Ÿ˜”. Kita harus mempertimbangkan banyak faktor lainnya seperti budaya sungkan, struktur relasi hierarkis, dan norma gender. Dengan demikian, kita bisa memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana persetujuan terbentuk dalam hubungan relasional. ๐Ÿค”
 
Persetujuan dalam hubungan relasional Indonesia seperti proses memanggil angin tanpa bunyi, tapi masih ada yang terdengar ๐Ÿ˜Š. Mereka bilang "ya" tapi secara lada tidak benar-benar berani mengatakan "tidak", karena mungkin akan merusak harmoni. Mereka lebih suka menyesuaikan diri, seperti anak-anak besar tanpa mengucapkan kata-katanya ๐Ÿค”. Ini memang kenyataan hidup di Indonesia, kita harus sabar dan tidak langsung mengeluh ketika hubungan kita tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan ๐Ÿ˜“.

Saya pikir ini bukan hanya tentang persetujuan, tapi juga tentang bagaimana kita beradaptasi dengan masyarakat dan budayanya. Di Indonesia, kita memiliki nilai-nilai yang sangat kuat tentang harmoni dan kesabaran, tapi itu juga berarti kita harus mengorbankan diri sendiri untuk tidak merusak hubungan ๐Ÿค. Mungkin ini adalah sebabnya persetujuan dalam hubungan relasional Indonesia sering terbentuk melalui adaptasi terhadap ekspektasi sosial daripada artikulasi kehendak personal yang setara ๐Ÿ’ญ.

Saya ingin tahu, apa pendapatmu tentang hal ini? ๐Ÿค”
 
Aku pikir kalau kita lihat hubungan relasional di Indonesia, gampang dipaham bahwa persetujuan bukan sekedar tentang apakah "ya" atau "tidak", tapi tentang bagaimana kita menerima dan menyesuaikan diri dengan situasi tertentu. Contohnya, aku sendiri pernah dalam hubungan yang panjang, tapi justru merasa tidak nyaman ketika ada hal-hal kecil yang tidak sesuai dengan ekspetasi saya. Tapi, karena kita sudah terlalu dekat dan saling mengerti, aku lebih suka menutupkan mulut dan menerima, daripada membuat masalah.

Aku rasa salah satu alasan utama ini adalah karena budaya sungkan yang kita pegang di Indonesia, khususnya dalam hubungan keluarga atau profesional. Kita merasa tidak nyaman ketika menolak seseorang, tapi lebih suka menerima dan beradaptasi dengan situasi tertentu. Contohnya, jika ada teman saya yang ingin aku pindah ke rumah mereka, aku lebih suka menerima daripada menolak karena takut membuat mereka kesal.

Namun, aku pikir kalau kita harus memahami bahwa persetujuan ini bukanlah tentang adaptasi atau keharmonisan saja. Tapi juga tentang bagaimana kita mengatur dan menyesuaikan diri dengan norma-norma sosial yang ada. Misalnya, jika ada perbedaan usia antara saya dan teman saya, aku harus mempertimbangkan posisi profesional mereka dan tidak membuat mereka merasa tidak nyaman.

Jadi, persetujuan bukan sekedar tentang apakah "ya" atau "tidak", tapi tentang bagaimana kita mengatur dan menyesuaikan diri dengan situasi tertentu, serta norma-norma sosial yang ada. ๐Ÿค”๐Ÿ’ฌ
 
Kalo lihat hubungan relasional Indonesia, pasti terasa seperti main arik ke arah kesepian. Pada masa lalu aku masih bayi, orang tua langsung mengerti apa yang aku inginkan ๐Ÿคทโ€โ™€๏ธ. Sekarang jadi kayak ada banyak aturan dan ekspektasi yang harus dipenuhi. Aku rasa aku masih kesulitan memahami bagaimana orang lain bisa dengan mudah mengatakan "ya" tanpa ada komplikasi. Dalam buku "Broken Strings" aku baca tentang Aurelie Moeremans, dia jadi kayaknya terlalu banyak menyesuaikan diri dengan orang lain, padahal aku sendiri ingin tetap mandiri ๐Ÿคฏ. Aku rasa kita butuh cara berkomunikasi yang lebih sederhana, tidak harus terlalu kompleks tentang apa yang diinginkan. Dan oh iya, aku masih ingat kakek aku selalu bilang "tidak ada masalah" ketika aku bertengkar dengan adikku, tapi sekarang aku tahu itu gampangnya tidak benar ๐Ÿคฆโ€โ™‚๏ธ.
 
kembali
Top