Persetujuan dalam hubungan relasional sering dipahami sebagai keputusan individual, tetapi sebenarnya proses ini jauh lebih kompleks. Dalam banyak situasi, persetujuan terbentuk melalui interaksi yang berlangsung dalam relasi kuasa tertentu.
Pola komunikasi yang menyertainya, seperti yang dilihat dalam memoar "Broken Strings Fragments of a Stolen Youth" aktris Aurelie Moeremans, menunjukkan bahwa batas personal digeser secara bertahap. Penolakan ditanggapi sebagai ketidakdewasaan, dan rasa bersalah dibangun melalui bahasa afeksi.
Dalam konteks ini, konsep "framing" dari Erving Goffman membantu menjelaskan proses ini. Setiap interaksi sosial selalu berlangsung dalam definisi situasi tertentu: siapa yang berhak menentukan apa yang sedang terjadi, dan bagaimana peristiwa itu dipahami.
Dalam hubungan relasional yang timpang, wacana tentang cinta dan pengorbanan berfungsi sebagai mekanisme disipliner. Individu menginternalisasi tuntutan relasi sebagai bagian dari identitas dirinya sendiri. Dimensi gender juga memperkuat proses ini, dengan perempuan disosialisasikan untuk menjaga harmoni relasi dan menghindari konflik.
Persetujuan dalam hubungan relasional terbentuk melalui kelelahan emosional setelah proses negosiasi yang berlarut-larut. Oleh karena itu, ketika seseorang akhirnya mengatakan "ya", pertanyaan analitisnya terletak pada proses komunikatif yang membentuk keputusan tersebut.
Dalam konteks kehidupan di Indonesia, dinamika ini diperkuat oleh budaya sungkan dan struktur relasi yang hierarkis. Perbedaan usia, status sosial, reputasi, atau posisi profesional sering dimaknai sebagai legitimasi simbolik untuk menentukan arah interaksi.
Ketidaknyamanan jarang diartikulasikan secara langsung sebagai penolakan, melainkan dipendam demi menjaga keharmonisan relasi. Dalam kerangka ini, persetujuan kerap terbentuk melalui adaptasi terhadap ekspektasi sosial, bukan melalui artikulasi kehendak personal yang setara.
"Broken Strings" menunjukkan bagaimana batas makna tentang diri dapat tergerus secara perlahan dalam relasi yang timpang. Ilmu komunikasi mengarahkan perhatian pada dinamika ini: bagaimana individu dibentuk melalui interaksi simbolik, hingga ruang untuk mempertahankan batas personal semakin menyempit.
Pola komunikasi yang menyertainya, seperti yang dilihat dalam memoar "Broken Strings Fragments of a Stolen Youth" aktris Aurelie Moeremans, menunjukkan bahwa batas personal digeser secara bertahap. Penolakan ditanggapi sebagai ketidakdewasaan, dan rasa bersalah dibangun melalui bahasa afeksi.
Dalam konteks ini, konsep "framing" dari Erving Goffman membantu menjelaskan proses ini. Setiap interaksi sosial selalu berlangsung dalam definisi situasi tertentu: siapa yang berhak menentukan apa yang sedang terjadi, dan bagaimana peristiwa itu dipahami.
Dalam hubungan relasional yang timpang, wacana tentang cinta dan pengorbanan berfungsi sebagai mekanisme disipliner. Individu menginternalisasi tuntutan relasi sebagai bagian dari identitas dirinya sendiri. Dimensi gender juga memperkuat proses ini, dengan perempuan disosialisasikan untuk menjaga harmoni relasi dan menghindari konflik.
Persetujuan dalam hubungan relasional terbentuk melalui kelelahan emosional setelah proses negosiasi yang berlarut-larut. Oleh karena itu, ketika seseorang akhirnya mengatakan "ya", pertanyaan analitisnya terletak pada proses komunikatif yang membentuk keputusan tersebut.
Dalam konteks kehidupan di Indonesia, dinamika ini diperkuat oleh budaya sungkan dan struktur relasi yang hierarkis. Perbedaan usia, status sosial, reputasi, atau posisi profesional sering dimaknai sebagai legitimasi simbolik untuk menentukan arah interaksi.
Ketidaknyamanan jarang diartikulasikan secara langsung sebagai penolakan, melainkan dipendam demi menjaga keharmonisan relasi. Dalam kerangka ini, persetujuan kerap terbentuk melalui adaptasi terhadap ekspektasi sosial, bukan melalui artikulasi kehendak personal yang setara.
"Broken Strings" menunjukkan bagaimana batas makna tentang diri dapat tergerus secara perlahan dalam relasi yang timpang. Ilmu komunikasi mengarahkan perhatian pada dinamika ini: bagaimana individu dibentuk melalui interaksi simbolik, hingga ruang untuk mempertahankan batas personal semakin menyempit.