BRIN Berjanji Membuat Indonesia Cerdas Melalui Kemitraan Dengan Kemdiktisaintek
Bulan Februari lalu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meluncurkan program baru untuk meningkatkan pendanaan riset nasional. Dalam kesempatan itu, Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi BRIN, Dr. Arthur Lelono, mengatakan bahwa timnya bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk memperkuat ekosistem riset nasional melalui pendanaan senilai Rp8 triliun.
Menurut Arthur, ada tiga komponen utama dalam riset, yaitu sumber daya manusia (SDM), infrastruktur riset, dan pendanaan riset. Dalam skema pendanaan riset, BRIN bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui mekanisme pengembangan bagi hasil dari riset.
Selain itu, BRIN juga memiliki beberapa program pendanaan yang dibagi kembali seperti RIIM Kompetisi dan RIIM Kolaborasi. Skema ini ditujukan untuk memperkuat kolaborasi riset lintas institusi dan memfasilitasi pencarian proposal riset di Indonesia.
Dalam perannya sebagai lembaga pendanaan, BRIN menyediakan fasilitasi dan pendanaan riset, pemanfaatan infrastruktur laboratorium, pusat kolaborasi riset, serta mobilitas periset untuk memperkuat jejaring dan transfer pengetahuan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Dr. Fauzan Adziman, menyampaikan bahwa dari sisi pemerintah tersedia sekitar Rp8 triliun dana riset yang dapat dimanfaatkan.
Dalam kesempatan itu, tim BRIN juga meluncurkan platform bernama ASRI, sebuah laman berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk memudahkan pencarian riset di Indonesia. Platform ini menghasilkan laporan berbasis data dari hasil riset yang dicari.
Bulan Februari lalu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meluncurkan program baru untuk meningkatkan pendanaan riset nasional. Dalam kesempatan itu, Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi BRIN, Dr. Arthur Lelono, mengatakan bahwa timnya bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk memperkuat ekosistem riset nasional melalui pendanaan senilai Rp8 triliun.
Menurut Arthur, ada tiga komponen utama dalam riset, yaitu sumber daya manusia (SDM), infrastruktur riset, dan pendanaan riset. Dalam skema pendanaan riset, BRIN bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui mekanisme pengembangan bagi hasil dari riset.
Selain itu, BRIN juga memiliki beberapa program pendanaan yang dibagi kembali seperti RIIM Kompetisi dan RIIM Kolaborasi. Skema ini ditujukan untuk memperkuat kolaborasi riset lintas institusi dan memfasilitasi pencarian proposal riset di Indonesia.
Dalam perannya sebagai lembaga pendanaan, BRIN menyediakan fasilitasi dan pendanaan riset, pemanfaatan infrastruktur laboratorium, pusat kolaborasi riset, serta mobilitas periset untuk memperkuat jejaring dan transfer pengetahuan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Dr. Fauzan Adziman, menyampaikan bahwa dari sisi pemerintah tersedia sekitar Rp8 triliun dana riset yang dapat dimanfaatkan.
Dalam kesempatan itu, tim BRIN juga meluncurkan platform bernama ASRI, sebuah laman berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk memudahkan pencarian riset di Indonesia. Platform ini menghasilkan laporan berbasis data dari hasil riset yang dicari.