Mencatat Penurunan Ketimpangan Nasional Turun, Perkotaan Masih Lebih Tinggi
Berdasarkan laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikeluarkan beberapa hari yang lalu, penelitian ini menemukan bahwa ketimpangan pengeluaran nasional Indonesia turun menjadi sebesar 0,363 pada September 2025. Hal ini merupakan penurunan 0,012 poin dibandingkan Maret 2025, dengan nilai Gini Ratio yang mencapai 0,384 pada Maret tahun itu.
Namun, perlu diingat bahwa meski ketimpangan menurun secara nasional, masih ada perbedaan signifikan antara kota dan pedesaan. Pada bulan September ini, Gini Ratio di wilayah perkotaan mencapai 0,383, sementara di wilayah perdesaan, nilai tersebut tetap sebesar 0,295, yang berarti masih terdapat ketimpangan.
Penelitian ini juga menemukan bahwa tingkat kemiskinan Indonesia meningkat menjadi 8,25 persen dengan jumlah penduduk miskin mencapai 23,36 juta orang. Perbedaan antara perkotaan dan perdesaan dalam hal tingkat kemiskinan juga masih terdapat, yaitu 6,60 persen untuk perkotaan dibandingkan dengan 10,72 persen untuk perdesaan.
Menurut Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, penurunan ketimpangan nasional ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk upaya-upaya pemerintah untuk meningkatkan akses pendapatan dan pembangunan ekonomi. Namun, penelitian ini juga menekankan bahwa meskipun ada peningkatan, masih terdapat ketimpangan yang signifikan di antara kota dan pedesaan.
Dalam kesempatan lain, Amalia juga menyampaikan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) September 2025 lainnya, yaitu tingkat kemiskinan Indonesia yang mencapai 8,25 persen dengan jumlah penduduk miskin mencapai 23,36 juta orang.
Berdasarkan laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikeluarkan beberapa hari yang lalu, penelitian ini menemukan bahwa ketimpangan pengeluaran nasional Indonesia turun menjadi sebesar 0,363 pada September 2025. Hal ini merupakan penurunan 0,012 poin dibandingkan Maret 2025, dengan nilai Gini Ratio yang mencapai 0,384 pada Maret tahun itu.
Namun, perlu diingat bahwa meski ketimpangan menurun secara nasional, masih ada perbedaan signifikan antara kota dan pedesaan. Pada bulan September ini, Gini Ratio di wilayah perkotaan mencapai 0,383, sementara di wilayah perdesaan, nilai tersebut tetap sebesar 0,295, yang berarti masih terdapat ketimpangan.
Penelitian ini juga menemukan bahwa tingkat kemiskinan Indonesia meningkat menjadi 8,25 persen dengan jumlah penduduk miskin mencapai 23,36 juta orang. Perbedaan antara perkotaan dan perdesaan dalam hal tingkat kemiskinan juga masih terdapat, yaitu 6,60 persen untuk perkotaan dibandingkan dengan 10,72 persen untuk perdesaan.
Menurut Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, penurunan ketimpangan nasional ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk upaya-upaya pemerintah untuk meningkatkan akses pendapatan dan pembangunan ekonomi. Namun, penelitian ini juga menekankan bahwa meskipun ada peningkatan, masih terdapat ketimpangan yang signifikan di antara kota dan pedesaan.
Dalam kesempatan lain, Amalia juga menyampaikan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) September 2025 lainnya, yaitu tingkat kemiskinan Indonesia yang mencapai 8,25 persen dengan jumlah penduduk miskin mencapai 23,36 juta orang.