Inflasi bulanan di Indonesia mencapai 0,64 persen pada Desember lalu. Hal ini berdasarkan data dari BPS yang menunjukkan inflasi tahunan sebesar 2,92 persen dan inflasi tahun kalender sebesar 2,92 persen. Inflasi bulanan ini terjadi karena kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 109,22 pada November menjadi 109,92 pada Desember.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau adalah penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan andil sebesar 0,48 persen. Komoditas yang dominan dalam kelompok ini adalah cabai rawit dengan andil inflasi sebesar 0,17 persen, diikuti oleh daging ayam ras (0,09 persen), bawang merah (0,07 persen), ikan segar (0,04 persen), dan telur ayam ras (0,03 persen).
Selain itu, emas perhiasan juga memberikan andil inflasi sebesar 0,07 persen, kemudian bensin dengan andil inflasi sebesar 0,03 persen, dan tarif angkutan udara dengan andil inflasi sebesar 0,02 persen.
Namun, ada komoditas yang memberikan andil terhadap deflasi, seperti cabai merah (0,03 persen). Pendorong utama inflasi bulanan adalah inflasi komponen bergejolak dengan andil inflasi sebesar 0,45 persen. Komoditas yang dominan dalam komponen ini adalah cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, dan telur ayam ras.
Sementara itu, komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,20 persen dengan andil inflasi sebesar 0,12 persen. Komoditas yang dominan dalam komponen ini adalah emas perhiasan dan minyak goreng.
Inflasi bulanan di Indonesia masih relatif rendah, tetapi masih menunjukkan dampak dari efek moneter dan kebijakan fiskal yang dilakukan pemerintah.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau adalah penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan andil sebesar 0,48 persen. Komoditas yang dominan dalam kelompok ini adalah cabai rawit dengan andil inflasi sebesar 0,17 persen, diikuti oleh daging ayam ras (0,09 persen), bawang merah (0,07 persen), ikan segar (0,04 persen), dan telur ayam ras (0,03 persen).
Selain itu, emas perhiasan juga memberikan andil inflasi sebesar 0,07 persen, kemudian bensin dengan andil inflasi sebesar 0,03 persen, dan tarif angkutan udara dengan andil inflasi sebesar 0,02 persen.
Namun, ada komoditas yang memberikan andil terhadap deflasi, seperti cabai merah (0,03 persen). Pendorong utama inflasi bulanan adalah inflasi komponen bergejolak dengan andil inflasi sebesar 0,45 persen. Komoditas yang dominan dalam komponen ini adalah cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, dan telur ayam ras.
Sementara itu, komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,20 persen dengan andil inflasi sebesar 0,12 persen. Komoditas yang dominan dalam komponen ini adalah emas perhiasan dan minyak goreng.
Inflasi bulanan di Indonesia masih relatif rendah, tetapi masih menunjukkan dampak dari efek moneter dan kebijakan fiskal yang dilakukan pemerintah.