Bos Toyota Kasih Wanti-Wanti & Sebut Bom Waktu, Pertanda Apa?

Kebijakan fiskal yang tepat sangatlah penting untuk mengembangkan pasar dan meningkatkan daya ungkit ekonomi. Menurut Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam, pemerintah tidak boleh lagi berharap pada insentif sekali pakai yang hanya memberikan efek sementara. Insentif seperti itu akan justru memperberat ekonomi jika tidak menghasilkan efek lanjutan.

"Intinya, kita butuh insentif yang memiliki daya ungkit ekonomi, sehingga berubah menjadi stimulus," ujar Bob. Dia menekankan bahwa kebijakan fiskal seharusnya dirancang untuk menciptakan efek berantai, bukan sekadar mendorong konsumsi sesaat.

Kebijakan kontra-siklus juga menjadi sangat krusial ketika ekonomi sedang melemah. Bob memperingatkan bahaya jika pemerintah justru menaikkan pajak di saat ekonomi terus menurun demi menutupi pengeluaran negara. "Jadi, jangan sampai ekonomi lagi drop, drop, drop, drop, malah pemerintah menaikkan pajak demi untuk menutupi pengeluaran," tegasnya.

Bob juga mengingatkan bahwa industri otomotif memiliki elastisitas tinggi terhadap kebijakan insentif. Dengan perhitungan yang tepat, insentif di sektor ini bisa menghasilkan dampak ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan nilai fiskal yang dikeluarkan.

"Kelas menengah memiliki efek pengganda yang sangat kuat terhadap perekonomian. Jika kelompok ini menahan belanja, mesin ekonomi akan kehilangan tenaga utamanya," ujar Bob.

Dia juga menyinggung Vietnam yang menurunkan tarif PPN dari 10% menjadi 8% sejak satu hingga dua tahun lalu, dan Malaysia yang memberikan stimulus bagi pembeli kendaraan pertama sebagai bagian dari dukungan terhadap konsumsi kelas menengah.

"Kunci menjaga stabilitas nilai tukar ke depan tetap berada pada kinerja ekspor dan kemampuan Indonesia mempertahankan surplus perdagangan," kata Bob.
 
Kalau mau ngobrol tentang biaya fiskal, aku bilang kalau pemerintah harus lebih teliti. Insentif sekali pakai itu cuma jangka pendek aja, nanti ekonomi lagi mati. Mereka harus bikin insentif yang serius, bihun-bihunan, sehingga efeknya tidak cuma sementara aja.

Dan kalau ekonomi sedang giliran turun, gampang banget pemerintah naikin pajak lagi. Makanya mereka harus bijak, jangan sampai ekonomi lagi kekapanan dan pemerintah ngeluarin lebih banyak biaya lagi.

Aku juga pikir industri otomotif itu elastis banget terhadap insentif. Jika bikin insentif yang tepat, maka efeknya akan makin besar. Karena kelompok menengah itu memiliki dampak pengganda yang kuat pada perekonomian. Jadi, jika mereka menahan belanja, ekonomi itu kehilangan tenaga utamanya.
 
Aku pikir insentif sekali pakai itu lumayan bermanfaat, tapi gak jadi efek sementara aja kan? Kalau kita bikin insentif yang lebih berkepanjangan, itu bisa lebih mantap ya. Tapi aku juga rasa pemerintah harus hati-hati dulu, gak boleh terburu-buru aja ya... apalagi kalau kelas menengah malah menanggung belanja dan ekonomi jadi lemas lagi... tapi aku pikir pemerintah bisa buat strategi yang lebih baik, misalnya bikin insentif untuk produksi atau investasi, itu bisa memberikan dampak yang lebih besar deh...
 
Biar gini kalau pemerintahnya buat insentif yang sesuai dengan sekarang, bukan lagi sekali-pakai ya. Kalau insentif itu benar-benar membantu ekonomi, maka tidak usah khawatir tentang deuda negara lho.

Saya pikir kalau industri otomotif itu sendiri punya jawabannya sendiri. Jika mau meningkatkan harga mobilnya, maka pihak Toyota itu harus bisa menyesuaikan dengan konsumen. Kalau mau buat promo, kayaknya mereka harus bisa menentukan target promonya jujur, jangan ngeremehkan target konsumennya.

Vietnam dan Malaysia kayaknya punya cara yang benar-benar keren dalam memberikan insentif untuk konsumen, tapi kalau Indonesia ingin jadi contoh baik, maka harus lebih fokus pada kebijakan fiskal yang tepat.
 
Makanya pemerintah harus jujur, kalau bukan insentif sekali pakai itu bakalan bikin ekonomi semakin kabur! 🤯 Apalagi kalau mau menaikkan pajak saat ekonomi already lemah, bakalan kehilangan pelanggan lagi! 😬 Kelas menengah itu sangat penting, kalau mau menarik investor asing, harus fokus pada efek pengganda yang mereka buat. Vietnam dan Malaysia tahu betapa kuatnya itu! 🤝
 
aku pikir pemerintah harus fokus pada mengembangkan industri yang mendukung pertumbuhan ekonomi, giliran industri otomotif seperti TMMIN bisa menjadi salah satu contoh di sini. mereka harus terus bereksperimen dengan insentif yang tepat dan tidak hanya sekedar memberikan efek sementara aja.

dan aku rasa kalau pemerintah juga harus lebih fokus pada kebijakan kontra-siklus, bukan hanya menaikkan pajak lagi dan lagi. kayaknya perlu ada strategi yang tepat untuk mengembangkan industri dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil.
 
ekonomi pasti penting kan ? tapi kalau tidak bikin insentif yang tepat, gak akan ada efeknya aja 😐. pemerintah harus bikin kebijakan fiskal yang baik, jadi gak ada yang penasaran dengan uang 🤑. dan wakil presiden itu benar, insentif sekali pakai tidak akan memperberat ekonomi, jadi harus bikin efek lanjutan aja 💸.
 
Gue pikir pemerintah harus lebih serius dalam merancang kebijakan fiskal. Sekarang juga kalau ingin meningkatkan daya ungkit ekonomi, gue rasa perlu diadopsi konsep stimulus yang lebih jelas. Kalau cuma insentif sekali pakai aja, efeknya hanya sementara aja, kemudian bagaimana? 🤔

Gue juga suka kalau pemerintah bisa belajar dari contoh Vietnam dan Malaysia, karena mereka sudah berhasil meningkatkan konsumsi kelas menengah. Gue rasa Indonesia harus fokus pada itu juga. 💸

Tapi apa yang pasti gue pikir penting adalah jangan biarkan ekonomi terus meranting. Jika pemerintah menaikkan pajak saat itu, efeknya akan lebih buruk lagi. 🚨

Dan aku rasa kalau industri otomotif ini memiliki elastisitas tinggi terhadap kebijakan insentif, jadi kalau dipastikan perhitungannya tepat, insentif di sektor ini bisa menjadi stimulus yang baik. 💪
 
Eh, ya mantap banget aksi pemerintah nanti harus fokus pada insentif yang sebenarnya dapat menghasilkan dampak positif ekonomi. Sekarang udah ada misalnya Vietnam dan Malaysia yang sudah mencoba stimulus konsumsi kelas menengah, tapi masih terlalu cepat nanti insentif itu menjadi biaya buat negara. Kita harus fokus pada kebijakan fiskal yang baik aja, jangan cuma sibuk dengan insentif sekali pakai ya! 🤔
 
Pagi, aku sambut kabar tentang kebijakan fiskal yang tepat untuk mengembangkan pasar. Aku pikir itu sangat penting dan aku setuju dengan Wakil Presiden TMMIN, Bob Azam, bahwa insentif sekali pakai tidak lagi cukup untuk meningkatkan daya ungkit ekonomi. Aku merasa sedih ketika mendengar kalau pemerintah masih berharap pada insentif yang hanya memberikan efek sementara.

Aku pikir yang penting adalah menciptakan insentif yang memiliki daya ungkit ekonomi dan menjadi stimulus yang lebih efektif. Aku juga setuju bahwa kebijakan kontra-siklus sangat krusial ketika ekonomi sedang melemah. Jangan sampai pemerintah menaikkan pajak saat ekonomi terus menurun, itu akan membuat ekonomi jadi lebih buruk.

Aku senang mendengar kalau industri otomotif memiliki elastisitas tinggi terhadap kebijakan insentif. Aku pikir itu bisa membantu meningkatkan dampak ekonomi dari insentif tersebut. Kelas menengah memiliki efek pengganda yang sangat kuat terhadap perekonomian, jadi kita perlu memastikan bahwa mereka tetap belanja.

Aku berharap pemerintah dapat mengambil kebijakan yang tepat untuk meningkatkan daya ungkit ekonomi dan mencegah kelemahan ekonomi. Mari kita harapkan kebaikan dari pemerintah dalam membuat kebijakan fiskal yang tepat! 🤞
 
Maksudnya kalau pemerintah harus pintar banget dalam membuat kebijakan fiskal ya, bukan cuma memberikan insentif sekali pakai aja. Kalau tidak, ekonomi Indonesia justru akan makin lemah 🤔. Bob Azam benar-benar memiliki pengetahuannya di bidang ini, dia bilang bahwa insentif harus diawasi agar tidak memperburuk keseluruhan ekonomi.

Maksudnya, insentif yang efektif harus membuat efek lanjutan, bukan cuma sekedar mendorong konsumsi dulu aja. Kita butuh kebijakan fiskal yang cerdas dan dirancang dengan baik agar tidak hanya memberikan efek sementara saja 🤑.

Dan kalau pemerintah lagi berpikir bahwa menghilangkan insentif sekali pakai itu akan membuat ekonomi lebih stabil, maksudnya itu benar banget! Jangan sampai kita terus memperburuk keseluruhan ekonomi dengan menaikkan pajak di saat ekonomi sudah lemah 😬.
 
Gue pikir pemerintah harus lebih teliti dalam merancang kebijakan fiskal nih, insentif sekali pakai tidak akan cukup ya. Gue suka melihat apa yang dilakukan Vietnam dan Malaysia, mereka benar-benar mencoba untuk mendukung konsumsi kelas menengah. Kelas menengah ini sangat memiliki efek pengganda terhadap perekonomian, jika kelompok ini menahan belanja, ekonomi akan begitu sakit-sakitan.

Gue berharap pemerintah bisa lebih pintar dalam merancang insentif yang benar-benar dapat meningkatkan daya ungkit ekonomi. Kalau tidak, saja kita akan terus terjebak dalam siklus kontra-siklus yang tidak baik. 🤔💸
 
gak percaya lagi sama pemerintah, di mana mereka masih terus menggunakan insentif sekali pakai yang justru bikin ekonomi semakin terburu-buru 🤦‍♂️. kayaknya harus ada perubahan kebijakan fiskal yang lebih bijak, seperti memperhatikan efek sementara dan lanjutan. kalau tidak, ekonomi nanti akan terus mengalami kenaikan harga dan kemacetan lalu lintas 🚗💨. gimana caranya Indonesia bisa meningkatkan daya ungkit ekonomi jika insentif sekali pakai justru bikin kegagalan? harus ada solusi yang lebih matang, seperti stimulus yang memiliki dampak ekonomi yang lebih besar. dan gak bisa lupa, kunci menjaga stabilitas nilai tukar adalah dengan mempertahankan surplus perdagangan 📈💸.
 
Mana aja dengan ini? Insentif sekali pakai gak ada artinya sama sekali! Kita butuh insentif yang bisa menghasilkan efek lanjutan, jadi tidak kayaknya sementara-sementara aja. Kebijakan fiskal harus dirancang untuk menciptakan efek berantai, bukan hanya mendorong konsumsi sementara aja.

Dan wajah negaranya yang menaikkan pajak di saat ekonomi terus menurun, itu gak masuk akal banget! Kelas menengah memang memiliki efek pengganda yang sangat kuat terhadap perekonomian, jadi jika mereka menahan belanja, mesin ekonomi akan kehilangan tenaga utamanya.

Vietnam dan Malaysia bisa saja kita ikuti, nih! Mereka punya strategi yang tepat untuk mendukung konsumsi kelas menengah. Dan apa itu kunci menjaga stabilitas nilai tukar ke depan? Kinerja ekspor dan kemampuan Indonesia mempertahankan surplus perdagangan, ya!
 
Pernah dengar kata "ekonomi adalah sains sosial"? Ya, sepertinya begitu juga dengan kebijakan fiskal yang tepat untuk meningkatkan daya ungkit ekonomi. Saya setuju bahwa insentif sekali pakai tidak cukup efektif dan harus diikuti dengan kebijakan lainnya agar efeknya lebih stabil.

Tapi, saya ragu-ragu apakah pemerintah benar-benar siap untuk mengambil risiko yang besar dalam mengelola ekonomi? Apakah mereka benar-benar mempertimbangkan dampak jangka panjang dari kebijakan fiskal mereka? Saya khawatir kalau jika tidak ada tindakan yang tepat, maka efeknya bisa sangat berantai.

Dan saya juga penasaran tentang keseimbangan antara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Jika pemerintah ingin meningkatkan daya ungkit ekonomi, haruskah mereka meninggalkan kebijakan moneter yang ketat? Dan sebaliknya, jika mereka meninggalkan kebijakan moneter yang ketat, maka bagaimana caranya untuk meningkatkan daya ungkit ekonomi?

Saya rasa ada jawaban di antara kita semua, tapi saya masih ragu-ragu untuk mengatakan "ya" atau "tidak". Saya ingin melihat lebih banyak data dan analisis sebelum membuat keputusan yang tepat.
 
Kebijakan fiskal di Indonesia masih terlalu fokus pada insentif sekali pakai, bikin ekonomi semakin tidak stabil ya... Jika pemerintah ingin meningkatkan daya ungkit ekonomi, mereka harus lebih fokus pada kebijakan yang memiliki efek sementara. Kalau tidak, itu justru akan membuat ekonomi lebih buruk.

Saya juga penasaran sih bagaimana kalau Indonesia bisa meniru contoh Vietnam yang menurunkan tarif PPN dari 10% menjadi 8%. Mungkin ada cara untuk meningkatkan efeknya, tapi masih perlu dipertimbangkan juga kebijakan fiskal yang lebih komprehensif.

Dan apa dengan Malaysia yang memberikan stimulus bagi pembeli kendaraan pertama? Mungkin kita bisa belajar dari contoh mereka dan menyesuaikannya dengan kebutuhan ekonomi Indonesia.
 
aku rasa pemerintah harus fokus banget pada insentif ekonomi yang serius, bukan hanya sekedar stimulus sembarangan. kalau mau meningkatkan daya unggul ekonomi, harus ada strategi yang lebih matang. misalnya, mereka bisa memberikan insentif kepada investor yang mau membuat kerja sama dengan perusahaan lokal, sehingga Indonesia bisa mendapatkan keuntungan dari industri otomotif yang gede.

aku juga rasa pemerintah harus bijak dalam mengatur pajak, tidak boleh menaikkan pajak saat ekonomi masih lemah. itu akan membuat konsumsi rakyat terganggu dan akhirnya bisa jadi membuat ekonomi tetap lemah. kalau mau meningkatkan daya unggul ekonomi, harus ada strategi yang lebih matang.

Vietnam dan Malaysia itu juga bisa menjadi contoh bagus bagi Indonesia, tapi kita harus fokus pada kinerja ekspor dan kemampuan Indonesia mempertahankan surplus perdagangan. jadi, kalau ingin meningkatkan daya unggul ekonomi, harus ada strategi yang lebih matang dan bijak. 📈💼
 
kembali
Top