Bos Palantir Sebut Lulusan Vokasi Jadi Rebutan di Era AI saat Tingkat Pengangguran Terus Naik

Di era AI yang makin intensif, lulusan vokasi dari pendidikan tinggi ternyata menjadi target utama bagi perusahaan di bidang teknologi. Menurut Alex Karp, CEO Palantir Technologies, peluang kerja bagi mereka akan terus meningkat. Ia menyatakan bahwa AI akan menghancurkan banyak pekerjaan berbasis humaniora dan membuat lulusan vokasi menjadi yang paling diburu.

Sebagai contoh, sebelum bergabung dengan Palantir, Karp sendiri pernah bingung siapa yang bersedia memberinya pekerjaan pertama. Ia adalah lulusan Haverford College, meraih gelar hukum dari Stanford Law School, serta doktor filsafat dari Goethe University, Jerman.

"AI akan menghancurkan pekerjaan di bidang humaniora," kata Karp saat talkshow World Economic Forum di Davos, Swiss. "Lulusan sekolah elite yang memiliki pengetahuan umum, namun tidak diimbangi keahlian teknis yang mumpuni, akan sulit untuk mendapat pekerjaan."

Sementara itu, perusahaan lain seperti BlackRock dan Global McKinsey juga memiliki pandangan berbeda. Mereka merekrut lulusan dari jurusan yang tidak ada hubungannya dengan keuangan atau teknologi. Namun, mereka masih melirik lulusan liberal arts sebagai sumber kreativitas.

Meski demikian, Karp tetap mendorong pergeseran fokus ke pendidikan vokasi. Palantir meluncurkan program magang berbayar bagi siswa sekolah menengah dengan peluang direkrut menjadi pegawai tetap. Karp juga menegaskan bahwa tidak ada yang peduli dengan latar belakang seseorang ketika dia sudah berkerja di sebuah perusahaan.

"Jika Anda tidak kuliah, kuliah di kampus biasa, atau bahkan Harvard, Princeton, atau Yale, begitu masuk Palantir, Anda adalah orang Palantir. Tidak ada yang peduli dengan latar belakang itu," kata Karp.

Dalam beberapa tahun terakhir, Karp juga menekankan pentingnya cara baru dalam mengukur bakat. Ia percaya bahwa cara menguji bakat tidak sepenuhnya menampilkan betapa tak tergantikannya kemampuan orang tersebut.
 
ini ngga masak bareng nih... aku pikir AI itu akan mengubah dunia, tapi kayaknya perusahaan-perusahaan teknologi yang berlomba-lomba untuk merekrut lulusan vokasi itu kayaknya terlalu fokus pada profit aja... apa artinya mereka tidak peduli dengan latar belakang kita, itu kayaknya jadi sistem favoritism ya... dan aku rasa juga perlu ada cara baru dalam mengukur bakat, tapi nggak cuma karena AI yang membuat kita harus lebih kreatif lagi, tapi juga biar kita bisa menilai bakat seseorang dengan lebih objektif... 😐
 
AI pasti bukan mainan, tapi bisnis besar yang akan membuat kita semua harus terus beradaptasi. Sementara itu, pendidikan vokasi kian penting di tengah semakin cepatnya teknologi berkembang. Aku rasa kalau Karp kata bahwa lulusan sekolah elite yang tidak memiliki keahlian teknis mumpuni, pasti mereka yang akan merasa tekanan besar. Itu juga seperti yang kita lihat pada parlemen RI, para anggota yang tidak terbiasa dengan permasalatan teknologi, apa aja caranya untuk tetap relevan? Menurutku, pendidikan vokasi harus lebih diterima, karena kalau tidak, nanti kita semua akan kehilangan profesi. Karp kata bahwa tidak ada yang peduli latar belakang seseorang ketika dia sudah berkerja di sebuah perusahaan, tapi aku rasa itu juga ada hubungannya dengan sistem meritocracy yang ada di Indonesia.
 
Kalau lulusan vokasi itu siap diangkat ke tinggi, tapi apa salahnya jadi birokrat aja? Mereka punya pengetahuan yang lebih luas dan bisa diandalkan, tapi siapa bilang mereka tidak akan terbiasa dengan tekanan kerja? Semua berdasar pada teori tentang AI memang akan menghancurkan pekerjaan manusia. Tapi apa jadi kenyataannya?
 
Mungkin perlu diingat, teknologi ini juga bisa memberikan kesempatan bagi banyak lulusan vokasi di bidang lain seperti manajemen, pemasaran, dan sains. Jangan hanya fokus pada bidang teknologi, ada banyak sekali pekerjaan yang dibutuhkan di bidang lainnya 🤔
 
AI ini kayak giliran apa lagi... semua perusahaan yang suka merekrut lulusan vokasi karena dianggap akan makin efisien dan akurat. Tapi, siapa bilang kalau mereka itu bakal lebih pandai daripada orang lain? Coba dosen dari universitas biasa saja bisa bikin sistem AI ini jadi lebih baik dari mereka yang lulusin vokasi... 🤔
 
Kamu tahu apa yang bikin aku penasaran? Perusahaan seperti Palantir Technologies yang bilang lulusan vokasi dari pendidikan tinggi akan menjadi target utama di era AI intensif... tapi giliran kita, masyarakat Indonesia, harus siap! Kita harus belajar untuk beradaptasi dengan perubahan teknologi ini agar tidak ketinggalan kemana. Nah, aku pikir ada hal lain yang bikin aku penasaran, yaitu bagaimana cara kita bisa mengembangkan bakat dan keahlian kita sendiri agar tetap relevan di era ini... 🤔💡
 
AI ini benar-benar sangat mempengaruhi dunia kita, ngga? Kalau lulusan vokasi menjadi target utama bagi perusahaan di bidang teknologi, itu berarti mereka harus tetap fokus dan jaga kualitas kerja agar tidak ketinggalan. Tapi, apa artinya kalau AI menghancurkan pekerjaan di bidang humaniora? Apakah kita harus memilih antara kebijaksanaan dan teknologi? Karp nggak salah, tapi kita harus lebih teliti dalam menilai bagaimana cara ini berdampak pada masyarakat.
 
Gue pikir klo ini era AI makin intens, kita harus fokus banget buat dipersiapkan dulu. Masih banyak pekerjaan di bidang humaniora yang bikin lulusan vokasi bingung siapa yang bersedia bekerja. Tapi gue rasa AI benar-benar bikin perubahan besar, makin penting kita fokus buat belajar tech dan kreatif banget! 🤖💻
 
Makasih keronjongan Alex Karp siapa aja, lulusan Harvard dan apa lagi, dia punya diploma filsafat 🤣. Tapi seriously, gimana kalau lulusan vokasi yang ingin bekerja di bidang teknologi tapi tidak ada pasangan di industri tersebut? Mereka udah lulus kuliah, tapi apa keuntungannya? Jadi, perusahaan-perusahaan malah ambil dari lulus liberal arts ya? 🤷‍♂️. Aku pikir perlu ada solusi yang lebih berimbang, bukan cuma fokus pada pendidikan vokasi aja. Dan sayangnya, program magang berbayar sih hanya untuk siswa SMA, apa kalau lulusan S1 atau S2? 🤔. Mungkin perlu adanya perubahan paradigma, ya...
 
AI ini memang sangat mengubah cara kerja, tapi apa artinya kita semua harus bisa "menyesuaikan diri" dengan kecepatan itu. Mereka yang suka belajar teori-teori dari buku-buku tua ini benar-benar lupa bagaimana membuat sesuatu yang nyata dari tangan mereka. Yang dibutuhkan adalah kreativitas, tapi siapa bilang kalau bisa menggunakannya di mana-mana?
 
AI benar-benar membuat banyak kerugian pekerjaan di bidang teknologi nih... lulusan vokasi jadi target utama perusahaan, tapi apa jadinya lulusan hukum atau filsafat yang juga ingin bekerja di bidang teknologi? Karp bilang bahwa AI akan menghancurkan pekerjaan humaniora, tapi siapa nih yang pasti bakanya bekerja di AI itu? Kalau mau bekerja di tech, kenapa harus lulus vokasi? Kalau lulus hukum atau filsafat, dia bisa jadi menjadi pegawai tetap di perusahaan teknologi seperti Palantir.
 
kira-kira siapa yang bilang kalau AI akan membuat semua pekerjaan manusia berkurang? tapi kalau memang benar, maka di mana tempat saya bisa mendapatkan pendidikan vokasi yang baik? kalau gak bisa, maka bagaimana caranya seseorang bisa memiliki kemampuan teknis yang mumpuni? sekarang kalau banyak perusahaan mau merekrut lulusan sekolah menengah, itu bukan semacam promosi buruh? dan apa dengan latar belakang yang kaya seperti Harvard atau Yale? apa kepastian bahwa mereka bisa mengikuti perkembangan teknologi?
 
AI lagi-lagi menggerakkan dunia kerja. Saya pikir lulusan vokasi itu benar-benar diutamakan sekarang ini. Tapi, saya berpikir apakah semua jurusan pendidikan tinggi yang ada sekarang tidak berguna lagi? Menurutku, tidak bisa dikhawatirkan semuanya harus menjadi teknisi atau ahli data ya... Ada banyak hal lain yang masih dibutuhkan di dunia ini.
 
AI pasti akan berdampak besar pada dunia kerja, tapi apa sih yang harus kita lakukan? Kita nggak bisa sembarangan aja, kayaknya kita perlu fokus pada pendidikan vokasi ya... Mungkin kalau kita nggak punya kemampuan teknis, kita harus belajar lagi, atau cari cara lain untuk tetap relevan di industri ini. Saya juga penasaran dengan konsep "cara baru" dalam mengukur bakat, kayaknya itu penting banget... Bagaimana caranya kita bisa memastikan bahwa lulusan vokasi yang datang dari sekolah biasa, atau bahkan bukan universitas ternyata memiliki kemampuan yang sama dengan lulusan universitas?
 
AI ini benar-benar membuat saya bingung, apa lagi keroncongan yang sedang menyerang para lulusan vokasi di Indonesia juga! Mereka harus berlari-lari mencari pekerjaan sambil ada banyak perusahaan besar yang juga membutuhkan mereka. Tapi, siapa yang tahu sih, mungkin ada sesuatu yang tidak terlihat dari sudut pandang Karp, tapi saya pikir kalau lulusan vokasi harus lebih telaten dalam mengejar impian mereka. Mungkin ada rahasia lain di balik kekuasaan perusahaan besar seperti Palantir... 🤔
 
AI itu benar-benar membuat banyak pekerjaan kacau kan? Sebenarnya aku pikir kalau AI bisa membantu kita dalam banyak hal, tapi yang bikin aku penasaran adalah siapa nanti yang akan bekerja di bidang teknologi? Aku rasa perusahaan seperti Palantir itu benar-benar yakin bahwa lulusan vokasi sudah siap untuk bekerja di sana. Tapi, aku masih ragu-ragu apakah semua orang bisa ikut bekerja di bidang teknologi? Aku pikir banyak pekerjaan di bidang teknologi itu membutuhkan keterampilan dan pengetahuan yang sangat spesifik. Tapi, kalau perusahaan seperti Palantir itu benar-benar percaya diri dengan lulusan vokasi, mungkin aku juga bisa mencoba bekerja di sana... 😊
 
aku pikir yang penting adalah, kalau lulusan vokasi mau bekerja di bidang teknologi, mereka harus sedang belajar. kalau sudah lulus dan tidak ada tawaran pekerjaan lagi, apa yang harus dilakukan? mungkin perlu ada program pelatihan profesional yang lebih panjang lagi, agar mereka bisa mendapatkan kemampuan yang dibutuhkan oleh perusahaan...
 
AI ini memang makin semakin ngaruhi, tapi apa artinya kita harus menjadi robot yang bisa bernafas? Kita gak perlu semua ahli teknis, tapi kita butuh kreativitas dan pemandangan luas di bidang sains, sosial, atau bahkan seni. Mereka lulusan vokasi di luar sana juga butuh pendidikan yang lebih komprehensif, bukan hanya fokus keTeknologi saja.
 
Gue pikir kalau AI benar-benar menghancurkan pekerjaan di bidang humaniora, tapi gue juga rasa ada yang salah dengan pendekatan Karp. Iya, AI pasti akan membutuhkan lulusan vokasi yang lebih ahli, tapi apa salahnya jika perusahaan-reusahaan itu juga mencari lulusan jurusan lainnya? Mungkin mereka tidak fokus pada pekerjaan "teknis" saja, tapi juga ingin orang yang cerdas dan bisa berpikir kreatif. Dan siapa bilang bahwa lulusan sekolah elite harus diimbangi dengan keahlian teknis? Tapi aku rasa ada satu hal yang benar-benar tepat dari Karp, yaitu pentingnya pendidikan vokasi. Kalau kita ingin meningkatkan kemampuan industri kita, maka kita perlu memperhatikan pendidikan yang lebih fokus pada keahlian dan tidak hanya pengetahuan umum. #PendidikanVokasi #Inovasi #Teknologi 🤖
 
kembali
Top