Trump menggencar mengutarakan retorika pencaplokan Greenland beberapa minggu yang lalu. Ia juga mengancam negara penolak idenya dengan pengenaan tarif impor 10 persen untuk seluruh produk Eropa ke AS. Namun, Trump menarik ancamannya setelah mencapai kesepakatan dengan Mark Rutte, Sekretaris Jenderal NATO. Dengan kesepakatan itu, AS dan NATO lainnya akan menerima kerangka kerja Arktik yang meliputi perluasan kewenangan AS di wilayah semiotonom dari Denmark.
Kerangka kerja ini dilaporkan tidak melibatkan alih kepemilikan Greenland dari Denmark ke AS. Mark Rutte menyatakan polemik kepemilikan Greenland tidak lagi dipersoalkan Trump. Di bidang militer, kerangka kerja Arktik tersebut memungkinkan AS dan NATO bekerja sama dalam pembangunan sistem pertahanan Golden Dome. Sedangkan di bidang mineral, AS dapat ikut serta dalam eksplorasi dan eksploitasi cadangan mineral di Greenland.
Trump menyebut bahwa kesepakatan ini memiliki poin kesepakatan yang "selamanya". Namun, tidak semua puas dengan kerangka kerja ini. Aaja Chemnitz, wakil Greenland di parlemen Denmark, mempertanyakan poin kesepakatan perihal mineral karena dibuat tanpa melibatkan Greenland sama sekali.
Sementara itu, Negara Eropa anggota NATO menyambut baik kerangka kerja yang telah disepakati Trump dan Rutte. Menteri Luar Negeri Denmark juga menyatakan bahwa kesepakatan ini memiliki poin kesepakatan yang lebih baik daripada awalnya.
Dalam pernyataannya, Trump mengindikasikan kesepakatan ini akan berlangsung permanen atau setidaknya sangat lama. Ia juga menolak tawaran sewa lahan di Greenland dan bersikeras untuk memilikinya secara permanen. Namun, dalam bocoran yang ia bagikan ke wartawan di Swiss, Trump mengindikasikan bahwa kesepakatan ini akan jadi solusi bagus bagi AS dan negara anggota NATO lainnya.
Kerangka kerja Arktik tersebut juga dilaporkan melibatkan perluasan kewenangan AS di wilayah semiotonom dari Denmark. Trump juga menyebut bahwa mineral Greenland penting untuk berbagai teknologi, termasuk telepon seluler dan kendaraan listrik.
Dengan demikian, kesepakatan kerangka kerja Arktik tersebut memiliki dampak yang signifikan terhadap keamanan nasional AS dan kewenangan di wilayah semiotonom dari Denmark. Namun, masih banyak pertanyaan tentang bagaimana durasi kerja sama ini akan terjadi serta apakah Greenland benar-benar setuju dengan kesepakatan tersebut.
Kerangka kerja ini dilaporkan tidak melibatkan alih kepemilikan Greenland dari Denmark ke AS. Mark Rutte menyatakan polemik kepemilikan Greenland tidak lagi dipersoalkan Trump. Di bidang militer, kerangka kerja Arktik tersebut memungkinkan AS dan NATO bekerja sama dalam pembangunan sistem pertahanan Golden Dome. Sedangkan di bidang mineral, AS dapat ikut serta dalam eksplorasi dan eksploitasi cadangan mineral di Greenland.
Trump menyebut bahwa kesepakatan ini memiliki poin kesepakatan yang "selamanya". Namun, tidak semua puas dengan kerangka kerja ini. Aaja Chemnitz, wakil Greenland di parlemen Denmark, mempertanyakan poin kesepakatan perihal mineral karena dibuat tanpa melibatkan Greenland sama sekali.
Sementara itu, Negara Eropa anggota NATO menyambut baik kerangka kerja yang telah disepakati Trump dan Rutte. Menteri Luar Negeri Denmark juga menyatakan bahwa kesepakatan ini memiliki poin kesepakatan yang lebih baik daripada awalnya.
Dalam pernyataannya, Trump mengindikasikan kesepakatan ini akan berlangsung permanen atau setidaknya sangat lama. Ia juga menolak tawaran sewa lahan di Greenland dan bersikeras untuk memilikinya secara permanen. Namun, dalam bocoran yang ia bagikan ke wartawan di Swiss, Trump mengindikasikan bahwa kesepakatan ini akan jadi solusi bagus bagi AS dan negara anggota NATO lainnya.
Kerangka kerja Arktik tersebut juga dilaporkan melibatkan perluasan kewenangan AS di wilayah semiotonom dari Denmark. Trump juga menyebut bahwa mineral Greenland penting untuk berbagai teknologi, termasuk telepon seluler dan kendaraan listrik.
Dengan demikian, kesepakatan kerangka kerja Arktik tersebut memiliki dampak yang signifikan terhadap keamanan nasional AS dan kewenangan di wilayah semiotonom dari Denmark. Namun, masih banyak pertanyaan tentang bagaimana durasi kerja sama ini akan terjadi serta apakah Greenland benar-benar setuju dengan kesepakatan tersebut.