BNPB Respons Polemik Sumur Bor Rp150 Juta: Akan Diaudit

BNPB Beri Jaminan akan Diaudit Anggaran Sumur Bor Rp 150 Juta

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan bahwa semua penggunaan anggaran negara dalam situasi tanggap darurat akan diaudit. Ia juga menegaskan bahwa nilai anggaran pembangunan sumur bor tidak bisa disamakan karena bergantung pada kondisi teknis di lapangan seperti pengeboran dan struktur tanah.

Pada rapat terbatas yang digelar di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, BNPB menetapkan anggaran hingga Rp 150 juta untuk pembangunan sumur bor dengan tujuan memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat terdampak bencana banjir dan longsor. Namun, publik berpendapat bahwa angka ini terlalu besar.

Abdul Muhari menjelaskan bahwa pembangunan sumur bor bukan hanya dilakukan oleh BNPB, tetapi juga melibatkan TNI Angkatan Darat dan kementerian/lembaga terkait. Ia menambahkan bahwa sebelum terjadi bencana ini, kita sudah membangun sumur bor yang sama di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan mampu melayani ratusan kepala keluarga.

Baca juga: BNPB Respon Polemik Sumur Bor Rp 150 Juta
 
😊 Aku pikir kalau asumsi BNPB sudah ada sumur bor yang sama di NTT dan bisa melayani ribuan kepala keluarga, kenapa harus dibuat lagi di Aceh Tamiang? 😕 Rp 150 juta terlalu banyak lah. Aku rasa lebih baik kalau asumsi itu benar-benar dibutuhkan, tapi aku tidak yakin. 🤔
 
Aku pikir banget deh, nggak perlu diharapkan lagi. Kita udah membangun sumur bor yang sama di NTT dan masih bisa melayani ratusan kepala keluarga, tapi gini lagi kita harus bikin yang lain di Aceh Tamiang dengan anggaran Rp 150 juta! Aku pikir itu terlalu banyak. Dan kamu tahu apa yang paling membingungkan? Jaminan audit dari BNPB untuk memastikan penggunaan anggaran negara dalam situasi tanggap darurat, tapi nggak ada jaminan bahwa kebijakan ini tidak akan gagal lagi. 🤦‍♂️📉
 
Hmm, seringkali aksi BNPB terasa kurang efisien ya? Kalau ada bencana banjir dan longsor, mereka seharusnya langsung membangun sumur bor, bukan hanya menetapkan anggaran Rp 150 juta saja. Dan apa dengan kejujuran kalau sudah ada yang pernah diterapkan di NTT? Maka apa yang salah dengan cara ini? Mereka harus lebih transparan dan akuntabel dalam pengelolaan anggaran negara di situasi darurat.
 
Gue pikir nggak masuk akal banget kalau goleman BNPB suka diaudit apa aja, apalagi kalau itu penting banget buat masyarakat. Sumur bor itu buat bisa akses air bersih, bukan main-main aja. Kalau penggunaan anggaran negara dipantau, itu bisa bikin pemerintah lebih fokus buat kebutuhan masyarakat.

Gue penasaran banget apa yang bikin nilai sumur bor Rp 150 juta terlalu besar. Gue pikir nggak perlu terlalu banyak biaya buat satu kali sumur bor aja, kalau bisa dulu bikin lebih efisien biar bisa melayani lebih lama. Gue ingat ngebut ke NTT itu ada sumur bor yang sudah selesai dan bisa melayani ratusan kepala keluarga, tapi gue tidak tahu pasti siapa yang mengawal ngawalan dana itu.
 
iya, aku pikir nggak bisa dipercaya sih ngapa anggaran sumur bor itu begitu besar... aku dengerin kabar di media sosial bahwa BNPB punya anggaran Rp 150 juta untuk satu sumur bor di Aceh Tamiang... itu nggak masuk akal, ya? tapi mungkin aku salah paham, karena aku tahu BNPB punya sumber daya yang luas dan bisa dipertimbangkan. tapi apa sih yang membuat penggunaan anggaran seperti itu dianggap layak? aku rasa nggak ada alasan yang memadai...
 
hehe, gue penasaran apa yang bikin bnpb beli sumur bor nggak cuma untuk Aceh aja? kalau sebenarnya sudah ada di NTT juga dan bisa melayani ratusan kepala keluarga. tapi sayangnya, biayanya terlalu mahal. gimana caranya bisa diaudit anggaran seperti ini? nanti apa yang terjadi dengan uang-uang negara lain lagi? gue rasa lebih baik banget kalau ada prioritas untuk penggunaan dana daripada membeli-mbeli sumur bor tanpa bingung siapa-siapa yang bisa mampu gunakannya 😊🤔
 
Gue pikir Rp 150 juta itu terlalu sederhana buat biayanya. Gue yakin kalau biaya pembangunan sumur bor yang panjang itu lebih dari itu. Mau nggak percaya, tapi gue lihat banyak contoh di daerah lain sudah banget dengan anggaran yang kurang dari ini. Dan siapa saja yang bilang Rp 150 juta itu cukup biayanya? Siapa saja yang bisa ngatakan kalau tidak ada biaya tambahan lagi nanti? Gue pikir BNPB harus lebih teliti dulu sebelum berjanji apa-apa.
 
Aku pikir angka itu wajar, tapi aku juga pikir biangannya nggak sejelas. Kalau sih konsepnya benar-benar bagus, tapi Rp 150 juta untuk 1 sumur bor? Aku rasa itu bisa dikurangi sedikit, tapi aku juga tidak yakin. Kita harus melihat faktor-faktornya, seperti biaya material, waktu penyelenggaraan, dan apa aja yang ada di NTT sebelumnya. Aku kira ada cara untuk mengurangi biaya tanpa menyangkal kualitasnya... tapi aku juga tidak yakin lagi.
 
😊 Maksudnya gini, kalau ada bencana banjir atau longsor, kita harus siap, tapi nggak bisa cuma-cuma aja. BNPB bilang penting diaudit anggaran negara karena kita harus tahu keaslian dari uang yang keluar. Sama-sama kayaknya. Tapi, Rp 150 juta ini gak terlalu berlebih, kan? 🤔 Masih banyak orang di Aceh Tamiang yang butuh air bersih. Bayangkan kalau ini juga terjadi di kota-kota besar lainnya, siapkah kita? 😬
 
aku pikir nggak masuk akal sih kalauBNPB bikin sumur bor dengan anggaran Rp 150 juta, sih itu seperti belanja makan di warung kecil! tapi aku juga paham kalau penggunaan air bersih itu penting banget, terutama kalau di daerah yang rawan bencana. apa sih kondisi lapangannya? kenapa nggak bisa bikin sumur bor dengan harga yang lebih rendah? dan siapa-siap sih yang akan menanggung beban biaya ini? aku penasaran juga sih mengenai kemampuan tim BNPB untuk membangun sumur bor tersebut...
 
aku pikir kalau nggak ada yang salah, tapi nggak bisa dipungut pertanyaan siapa yang akan membayar biaya itu. aku bayangin di NTT udah ada sumur bor banget, jadi kenapa harus diganti? aku rasa BNPB kudu bertransparansi lebih baik, tolong nyatain siapa yang akan mengambil risiko biaya Rp 150 juta itu.
 
Makasih banget ya BNPB sudah jadi audit untuk penggunaan anggaran negara di situasi tanggap darurat, tapi kayaknya masih perlu diperhatikan soal biaya pembangunan sumur bor itu. Rp 150 juta mungkin terlalu mahal untuk sekedar sumur bor aja, kayaknya bisa ditabakan dulu sebelum nanti ada yang salah.
 
Wah, aku pikir ini benar-benar terlalu banyak ya! Rp 150 juta untuk sumur bor aja, sih... kalau aku dibilangin, biaya itu bisa dipotong lagi ya. Tapi, aku paham betapa pentingnya mendapatkan air bersih, terutama saat ada banjir atau longsor, nih... Seperti yang aku lakukan di sekolah kami, kita harus lebih berhati-hati dengan penggunaan air, dan jika memungkinkan, kita bisa menggunakan sumur bor yang sudah ada di daerah lain.
 
Hehe, jamin aja diaudit anggaran itu, tapi sepertinya masih terlalu banyak biaya. Rp 150 juta ini nggak kecil banget, kan? Mungkin perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut tentang penggunaan anggaran ini, apalagi kalau ada kemungkinan ada yang tidak sesuai dengan rencana. Tapi, aku paham bahwa pembangunan sumur bor penting banget agar masyarakat di daerah tersebut bisa mendapatkan air bersih. Jadi, semoga diaudit itu bisa menolak anggaran yang berlebihan dan justru fokus pada kebutuhan nyata masyarakat.
 
Gak bisa dipungut ngerasa sih, kalau BNPB bikin diaudit anggaran sumur bor. Kita tahu bahwa pembangunan sumur bor itu nggak mudah, kayaknya ada biaya yang cukup banyak. Mungkin sih BNPB harus lebih teliti dalam mengalokasikan dana, tapi nggak bisa diharapkan untuk mengurangi kebutuhan masyarakat yang terdampak bencana.

Aku masih penasaran apa yang sebenarnya biaya pembangunan sumur bor itu. Jika benar-benar Rp 150 juta cukup untuk semua kebutuhan, maka aku rasa ini adalah investasi yang baik. Kita harus percaya pada kemampuan BNPB dalam mengatasi bencana alam. 🙏💧
 
Gue penasaran kenapa bnpb punya anggaran Rp 150 juta untuk sumur bor banjir. Gue pikir itu terlalu mahal kan, dan gue curhat, gue juga merasa frustrasi ketika nggak ada yang bisa diberi peringkat bagusnya pengelolaan anggaran bnpb. Tapi, sepertinya diaudit di luar nya, jadi apa diaudit kapan aja?
 
Gak bisa bilang aku kekecewa banget denger informasi ini! Apa sih maksud dari nilai anggaran pembangunan sumur bor tidak bisa disamakan karena kondisi teknis di lapangan? Maksudnya apa kira-kira aku mau membayar Rp 150 juta untuk satu sumur bor aja?

Aku rasa ini bikin penasaran, kenapa perlu ada pembangunan sumur bor lagi di Aceh Tamiang sebaiknya? Apa sih yang salah dengan yang sudah dimiliki di NTT? Aku pikir kalau bisa memanfaatkan sumur bor yang sudah ada, aku rasa lebih baik lagi.

Aku juga penasaran kenapa BNPB jadi jujur untuk mengatakan bahwa semua penggunaan anggaran negara dalam situasi tanggap darurat akan diaudit? Aku rasa ini bikin agak curiga...
 
😐 aku pikir Rp 150 juta terlalu banyak banget lah, tapi aku juga mengerti kalau ada yang tidak bisa dihakiri. Bukan berarti aku setuju dengannya, tapi kayaknya harus dipertimbangkan dari segi teknis dan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat. Mungkin perlu ada pengecekan lebih lanjut untuk memastikan anggaran ini tidak terlalu berlebihan 🤑
 
kembali
Top