BNPB Respons Polemik Sumur Bor Rp150 Juta: Akan Diaudit

BNPB Respons Polemik Sumur Bor Rp150 Juta, Akan Diaudit

Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto dan Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengatakan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa pembangunan sumur bor dengan anggaran hingga Rp150 juta dalam penanganan bencana banjir dan longsor di Sumatra adalah keputusan yang telah ditetapkan. Namun, publik lantas menilai angka ini terlalu besar.

Pembangunan sumur bor tersebut merupakan sumur bor komunal yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat terdampak bencana. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan bahwa seluruh penggunaan anggaran negara dalam situasi tanggap darurat akan diaudit sesuai ketentuan.

Abdul Muhari menjelaskan, nilai anggaran pembangunan sumur bor tidak bisa disamakan karena bergantung pada kondisi teknis di lapangan seperti pengeboran dan struktur tanah. Di sejumlah lokasi, kedalaman sumur bor bisa mencapai lebih dari 100 meter, bahkan hingga 220 meter.

Dia juga menambahkan bahwa pembangunan sumur bor bukan hanya dilakukan BNPB, tetapi juga melibatkan TNI Angkatan Darat dan kementerian/lembaga terkait. Kata Abdul, hal serupa telah diterapkan di sejumlah daerah rawan krisis air, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), dan mampu melayani ratusan kepala keluarga.

BNPB akan diaudit semua penggunaan anggaran negara dalam situasi tanggap darurat, termasuk pembangunan sumur bor Rp150 juta.
 
Apa kebaikan dari BNPB yang bikin masyarakat terdampak bencana harus dibayar Rp150 juta? Tidak ada salahnya kita minta penjelasan lebih lanjut tentang bagaimana anggaran itu dihitung. Siapa bilang Rp150 juta sudah banyak sekali? Tunggu diaudit dulu sih, aku mau lihat apa yang sebenarnya terjadi di lapangan 🤔
 
Mungkin kalau ga salah itu ada yang pikirin Rp150 juta terlalu besar deh, tapi aku rasa nggak salah banget. Kalau aku harus bilang, aku setuju dulu, tapi kemudian aku bayangkan siapa yang mau menabung uang Rp150 juta buat sumur bor? Aku pikir itu biaya nggak bisa dihitung dengan angka. Mungkin perlu ada prioritas atau apa? Tapi kalau kita tidak punya alternatif lain, mungkin itu sudah bisa dianggap okay. 🤔
 
Maksudnya siapa pun yang ngerasa keputusan ini terlalu besar sakti banget coba tadi 🤔. Tapi aku pikir kalau mau di audit berarti mau tahu siapa saja yang ngerasanya anggaran ini digunakan. Contohnya kalau gak ada ketentuan yang jelas sih, mungkin ada kesempatan untuk kejahatan. Dan aku sengaja tidak terkesan banget dengan nilai Rp150 juta kalau mau dibandingkan dengan kerusakan yang dirasakan oleh warga di daerah rawan krisis air... Kita harus fokus pada solusi yang efektif, bukan berpikir panjang lebar aja 😊.
 
pikir aku sih nggak bisa menerima angka itu 🤯 Rp150 juta untuk sumur bor aja! kayaknya kita butuh lebih bijak dalam pengelolaan dana bencana banjir & longsor di Sumatra 😔. aku rasa ada cara lain yang lebih efisien dan hemat, misalnya memprioritaskan sumur bor di daerah yang benar-benar membutuhkannya atau mencari alternatif lain seperti pengembangan sumber daya air terbarukan 🌿💚. kalau kita bisa cari solusi yang lebih bijak, mungkin kita bisa menghemat dana dan gunakan untuk hal-hal lain yang lebih penting di masa depan 🤝💪.
 
ini bikin pusing banget aja, Rp 150 juta untuk sumur bor? kalau kalian mau sembunyi biaya yang besar itu di balik angka yang murah-murah, tapi sebenarnya kalian tidak bisa mengatakan apa-apa, kayaknya harus buka2 transparansi ya?
 
ini masalah besar dulu.. kalau Rp 150 juta untuk sumur bor itu terlalu berlebihan banget... tapi sebenarnya apa yang salah sih? kita harus tahu lebih banyak tentang kebutuhan air di daerah rawan bencana itu. apakah benar-benar kita butuh sumur bor dengan anggaran besar seperti itu? atau mungkin ada cara lain yang lebih hemat dan efektif?
 
Aku tidak punya pendapat tentang ini, tapi aku pikir Rp150 juta untuk sumur bor itu cukup berat kaya... Aku bayangkan jika diteruskan ke daerah-daerah lain, pasti biaya yang ditanggung negara akan semakin besar. Mungkin juga perlu ada pengawasan lebih ketat agar anggaran tidak disalahgunakan. Dan aku rasa penggunaan kata "terlalu besar" memang sesuai, tapi siapa tahu benar atau salahnya?
 
Gue pikir 150 juta itu terlalu mahal buat sumur bor aja, gimana kalau kita gunakan material yang lebih sederhana? dan juga, bagaimana asal diaudit apa-apa, kalau ini sudah ada keputusan dari Presiden ya? dan yang paling gue curiga, apakah ini cuma untuk memenuhi kebutuhan air bersih di daerah rawan krisis atau juga untuk kepentingan pribadi siapa?
 
oiiee, wajib ngetop ini! BNPB malah banyak yang penasaran sih dengan angka Rp 150 juta. aku pikir itu biaya yang terlalu murah banget untuk proyek penting seperti ini! tapi aku juga paham kalau ada ketidakpastian teknis di lapangan, misalnya tekanan air dan struktur tanah, jadi aku rasa BNPB harus diaudit dengan teliti. siapa tahu Rp 150 juta itu masih lebih murah dari yang sebenarnya! 🤔💸
 
Makasih banyake ya... Aku pikir Rp150 juta itu sudah wajar banget untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat terdampak bencana. Tapi, aku juga paham kalau publik mau menilai angka ini terlalu besar. Seperti apa sih teknisnya? Aku penasaran banget dengan kondisi tanah dan pengeboran sumur bor. Jika benar-benar teknisnya memerlukan anggaran yang lebih besar, aku setuju. Tapi, aku rasa BNPB harus ada ketentuan yang jelas untuk penggunaan anggaran negara dalam situasi tanggap darurat agar tidak bisa disalahgunakan. Misalnya, ada batasan waktu tertentu atau spesifikasi teknis yang harus dipenuhi. Aku yakin kalau dengan adanya ketentuan seperti itu, BNPB dapat memastikan penggunaan anggaran negara lebih efisien dan efektif. 😊
 
Pokoknya biaya yang ditetapkan itu terlalu banyak banget, gini aja: kalau kita buat sumur bor di daerah yang krusial tapi kebutuhan air masih banyak, tentu saja biayanya bakal mahal. Tapi apa salahnya? Kita harus fokus untuk melindungi rakyat, kan? Kalau ini diaudit apa bedanya? Hanya ngasih kesempatan orang-orang untuk memprotes aja. Saya pikir lebih baik banget kita fokus untuk mengatasi masalah yang ada daripada berdebat.
 
kembali
Top