Pagi ini, hujan deras memanggil rakyat Jabodetabek. Badai hujan yang menimbulkan banjir di beberapa daerah itu tidaklah berdampak untuk kehidupan sehari-hari. Terutama bagi pemilik usaha di kawasan tersebut, hujan deras di pagi ini adalah hal yang sangat menerangkan.
Badai hujan deras mengguyur wilayah Jabodetabek hingga menyebabkan banjir di beberapa titik seperti Kelapa Gading, Sunter, Pademangan dan Mangga Dua. Banjir juga terjadi di Bekasi dan Bogor, Jawa Barat, serta Tangerang, Banten. Air yang menggenangi jalanan memicu kemacetan lalu lintas di sejumlah lokasi.
Menurut BMKG, kondisi cuaca ekstrem ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dipicu oleh kombinasi dinamika atmosfer skala regional yang saling memperkuat. Faktor pertama adalah peningkatan kecepatan angin di wilayah Laut China Selatan yang bergerak ke arah selatan melalui Selat Karimata hingga mencapai Pulau Jawa.
Faktor kedua ialah keberadaan daerah tekanan rendah di wilayah timur Australia yang turut memodifikasi pola sirkulasi angin regional. Sistem ini, katanya, menyebabkan aliran angin di Indonesia bagian selatan menjadi lebih dominan ke arah timur sehingga semakin memperkuat konvergensi dan perlambatan massa udara di wilayah selatan Indonesia.
BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah di daerah setempat meningkatkan kewaspadaan. Semua pihak diminta waspada terhadap potensi bencana banjir, tanah longsor, dan gangguan transportasi.
Puncak musim hujan secara umum tetap diprediksi terjadi pada periode Januari-Februari 2026. Puncak musim bergeser menjadi lebih lambat di Sumatera dan Bali. Sebaliknya, di Jawa, Sulawesi, dan Maluku puncak musim hujan cenderung lebih awal dibandingkan prediksi sebelumnya.
Badai hujan deras mengguyur wilayah Jabodetabek hingga menyebabkan banjir di beberapa titik seperti Kelapa Gading, Sunter, Pademangan dan Mangga Dua. Banjir juga terjadi di Bekasi dan Bogor, Jawa Barat, serta Tangerang, Banten. Air yang menggenangi jalanan memicu kemacetan lalu lintas di sejumlah lokasi.
Menurut BMKG, kondisi cuaca ekstrem ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dipicu oleh kombinasi dinamika atmosfer skala regional yang saling memperkuat. Faktor pertama adalah peningkatan kecepatan angin di wilayah Laut China Selatan yang bergerak ke arah selatan melalui Selat Karimata hingga mencapai Pulau Jawa.
Faktor kedua ialah keberadaan daerah tekanan rendah di wilayah timur Australia yang turut memodifikasi pola sirkulasi angin regional. Sistem ini, katanya, menyebabkan aliran angin di Indonesia bagian selatan menjadi lebih dominan ke arah timur sehingga semakin memperkuat konvergensi dan perlambatan massa udara di wilayah selatan Indonesia.
BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah di daerah setempat meningkatkan kewaspadaan. Semua pihak diminta waspada terhadap potensi bencana banjir, tanah longsor, dan gangguan transportasi.
Puncak musim hujan secara umum tetap diprediksi terjadi pada periode Januari-Februari 2026. Puncak musim bergeser menjadi lebih lambat di Sumatera dan Bali. Sebaliknya, di Jawa, Sulawesi, dan Maluku puncak musim hujan cenderung lebih awal dibandingkan prediksi sebelumnya.