Dalam jangkauannya, ada kabar bahwa beberapa negara Eropa mulai mempertimbangkan melakukan boikot Piala Dunia 2026 karena ancaman tarif impor dari Amerika Serikat (AS) yang semakin serius. Ancaman tersebut telah dimulai sejak awal tahun ini dan masih berlangsung hingga saat ini.
Pengaruh tensi geopolitik antara AS dan negara Eropa anggota NATO, terutama terkait dengan Greenland, memicu ketegangan dalam hubungan kedua negara tersebut. Meskipun Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos pada Januari lalu tampaknya dapat mengurangi ketegangan, namun perbedaan pendapat masih tetap terasa.
Presiden AS Donald Trump telah menyatakan bahwa ia akan meninggalkan opsi untuk melakukan invasi militer ke Greenland dan menyerukan pengenaan tarif impor kepada delapan negara Eropa. Hal ini kemudian memicu pertumbuhan semangat boikot Piala Dunia 2026 di kalangan masyarakat Eropa.
Dalam beberapa hari terakhir, seruan boikot tersebut semakin meluas, bahkan didukung oleh beberapa pemimpin dan tokoh masyarakat Eropa. Meningkatnya kekhawatiran karena pertumbuhan semangat boikot ini memicu berbagai reaksi dari berbagai pihak.
Sementara itu, FIFA telah meminta agar semua negara di seluruh dunia menghormati keputusan timnas mereka dalam partisipasi Piala Dunia 2026. Namun, masih ada kemungkinan bahwa beberapa negara Eropa akan mengikuti contoh masyarakat dan melakukan pemboikotan ajang tersebut.
Sikap boikot ini kemudian memicu pertumbuhan semangat solidaritas di kalangan penggemar sepak bola. Mereka juga mulai menandatangani petisi yang menyatakan bahwa mereka tidak akan terlibat dalam turnamen jika seharusnya ada perang dagang antara AS dan Uni Eropa.
Pengaruh tensi geopolitik antara AS dan negara Eropa anggota NATO, terutama terkait dengan Greenland, memicu ketegangan dalam hubungan kedua negara tersebut. Meskipun Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos pada Januari lalu tampaknya dapat mengurangi ketegangan, namun perbedaan pendapat masih tetap terasa.
Presiden AS Donald Trump telah menyatakan bahwa ia akan meninggalkan opsi untuk melakukan invasi militer ke Greenland dan menyerukan pengenaan tarif impor kepada delapan negara Eropa. Hal ini kemudian memicu pertumbuhan semangat boikot Piala Dunia 2026 di kalangan masyarakat Eropa.
Dalam beberapa hari terakhir, seruan boikot tersebut semakin meluas, bahkan didukung oleh beberapa pemimpin dan tokoh masyarakat Eropa. Meningkatnya kekhawatiran karena pertumbuhan semangat boikot ini memicu berbagai reaksi dari berbagai pihak.
Sementara itu, FIFA telah meminta agar semua negara di seluruh dunia menghormati keputusan timnas mereka dalam partisipasi Piala Dunia 2026. Namun, masih ada kemungkinan bahwa beberapa negara Eropa akan mengikuti contoh masyarakat dan melakukan pemboikotan ajang tersebut.
Sikap boikot ini kemudian memicu pertumbuhan semangat solidaritas di kalangan penggemar sepak bola. Mereka juga mulai menandatangani petisi yang menyatakan bahwa mereka tidak akan terlibat dalam turnamen jika seharusnya ada perang dagang antara AS dan Uni Eropa.