Kemenangan Rupiah dalam Persaingan Mata Uang Negara Berkembang
Bank Dunia, lembaga keuangan internasional yang terkenal, menyatakan bahwa rupiah akan tetap menjadi salah satu mata uang paling stabil di kalangan negara berkembang (emerging markets). Meski demikian, pertimbangan geopolitik dan ketidakpastian akibat tarif masih membuat arus modal keluar dari Indonesia sehingga menyebabkan rupiah terdepresiasi hingga Rp 16.500 per dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut Lead Country Economist Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, David Knight, kestabilan rupiah ini bukan hanya disebabkan oleh intervensi yang tepat waktu dari Bank Indonesia (BI), tetapi juga mengakui fundamental makroekonomi Indonesia yang kuat.
"Rupiah tetap relatif stabil. Ini tidak hanya karena kebijakan bank sentral yang responsif, tetapi juga mencerminkan fundamental makro Indonesia yang kuat,โ katanya.
Meski demikian, David Knight masih memperingatkan pemerintah untuk waspada terhadap ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi ini. Hal ini dapat menghasilkan biaya langsung bagi bisnis dan memberikan tekanan pada realisasi investasi di negara-negara berkembang.
"Jadi, meskipun kita telah melihat pelonggaran moneter di negara dengan ekonomi besar seperti AS tahun lalu, namun gambaran ini tahun ini jauh lebih beragam karena ketidakpastian geopolitik dan tarif," kata dia.
Kondisi ini menunjukkan bahwa rupiah masih menjadi salah satu mata uang paling stabil di kalangan negara berkembang.
Bank Dunia, lembaga keuangan internasional yang terkenal, menyatakan bahwa rupiah akan tetap menjadi salah satu mata uang paling stabil di kalangan negara berkembang (emerging markets). Meski demikian, pertimbangan geopolitik dan ketidakpastian akibat tarif masih membuat arus modal keluar dari Indonesia sehingga menyebabkan rupiah terdepresiasi hingga Rp 16.500 per dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut Lead Country Economist Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, David Knight, kestabilan rupiah ini bukan hanya disebabkan oleh intervensi yang tepat waktu dari Bank Indonesia (BI), tetapi juga mengakui fundamental makroekonomi Indonesia yang kuat.
"Rupiah tetap relatif stabil. Ini tidak hanya karena kebijakan bank sentral yang responsif, tetapi juga mencerminkan fundamental makro Indonesia yang kuat,โ katanya.
Meski demikian, David Knight masih memperingatkan pemerintah untuk waspada terhadap ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi ini. Hal ini dapat menghasilkan biaya langsung bagi bisnis dan memberikan tekanan pada realisasi investasi di negara-negara berkembang.
"Jadi, meskipun kita telah melihat pelonggaran moneter di negara dengan ekonomi besar seperti AS tahun lalu, namun gambaran ini tahun ini jauh lebih beragam karena ketidakpastian geopolitik dan tarif," kata dia.
Kondisi ini menunjukkan bahwa rupiah masih menjadi salah satu mata uang paling stabil di kalangan negara berkembang.