Aksi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menuduh Venezuela dan negara-negara lain di Amerika Latin telah gagal, membuat geopolitik kawasan ini bergejolak. Di tengah-tengah aksi Trump, pemerintah Kolombia, Kuba, dan Meksiko ditangkap dalam ancaman Trump untuk mengambil tindakan serupa terhadap negara-negara tersebut.
Sementara itu, di balik kejadian ini, para ahli geopolitik berpendapat bahwa aksi Trump tidak berpotensi langsung menyepeleksa stabilitas di Amerika Latin, tetapi justru membuat perubahan strategis yang signifikan dalam hubungan keamanan AS dengan negara-negara Amerika Latin.
Menurut Edwin Martua Bangun Tambunan, aksi Trump merupakan upaya beres-beres halaman belakang AS untuk mengukuhkan posisi mereka di kawasan Amerika Latin. Aksi ini tidak hanya akan memicu konflik tetapi juga akan membuat stabilitas kawasan menjadi lebih sulit dicapai.
Demikian pula, menurut Aska, sikap Trump dimaknai sebagai serangan ke dalam tanah setuju dengan pernyataan "negara yang tidak sejalan" dan meniru taktik militer AS di Irak untuk menghancurkan komunisme. Sejarah panjang kebijakan luar negeri AS telah membuktikan bahwa isu-isu narkoba, status negara gagal, hingga pengaruh komunisme sering digunakan sebagai alasan utama AS untuk memimpin operasi militer dan militarisasi negara-negara lain.
Sementara itu, di balik kejadian ini, para ahli geopolitik berpendapat bahwa aksi Trump tidak berpotensi langsung menyepeleksa stabilitas di Amerika Latin, tetapi justru membuat perubahan strategis yang signifikan dalam hubungan keamanan AS dengan negara-negara Amerika Latin.
Menurut Edwin Martua Bangun Tambunan, aksi Trump merupakan upaya beres-beres halaman belakang AS untuk mengukuhkan posisi mereka di kawasan Amerika Latin. Aksi ini tidak hanya akan memicu konflik tetapi juga akan membuat stabilitas kawasan menjadi lebih sulit dicapai.
Demikian pula, menurut Aska, sikap Trump dimaknai sebagai serangan ke dalam tanah setuju dengan pernyataan "negara yang tidak sejalan" dan meniru taktik militer AS di Irak untuk menghancurkan komunisme. Sejarah panjang kebijakan luar negeri AS telah membuktikan bahwa isu-isu narkoba, status negara gagal, hingga pengaruh komunisme sering digunakan sebagai alasan utama AS untuk memimpin operasi militer dan militarisasi negara-negara lain.