Puska Geologi Jawa Barat mengatakan bahwa longsor di Cisarua terjadi karena berbagai faktor. Di antara faktornya adalah kekeringan tanah, kemiringan lereng yang tinggi, dan penggunaan lahan yang tidak tepat.
Juga, lokasi penyebab longsor tersebut merupakan gunung api purba yang terdiri dari material vulkanik yang mudah jenuh. Hal ini menyebabkan tanah menjadi lunak dan berubah menjadi pasir. Ketika material tersebut berinteraksi dengan air dalam jumlah besar, maka tanah akan menjadi lunak dan longsor.
Selain itu, pihak Puska Geologi juga telah membuat peta zona kerentanan gerakan tanah (ZKGT) untuk membantu masyarakat dan pemerintah daerah yang rawan bencana. Kepala puska tersebut menekankan bahwa peran pemerintah sangat penting dalam meningkatkan mitigasi terhadap bencana ini.
Hingga hari ke tujuh pencarian, petugas gabungan sudah menemukan 43 korban longsor, sedangkan yang masih dalam pencarian sebanyak 27 orang.
Juga, lokasi penyebab longsor tersebut merupakan gunung api purba yang terdiri dari material vulkanik yang mudah jenuh. Hal ini menyebabkan tanah menjadi lunak dan berubah menjadi pasir. Ketika material tersebut berinteraksi dengan air dalam jumlah besar, maka tanah akan menjadi lunak dan longsor.
Selain itu, pihak Puska Geologi juga telah membuat peta zona kerentanan gerakan tanah (ZKGT) untuk membantu masyarakat dan pemerintah daerah yang rawan bencana. Kepala puska tersebut menekankan bahwa peran pemerintah sangat penting dalam meningkatkan mitigasi terhadap bencana ini.
Hingga hari ke tujuh pencarian, petugas gabungan sudah menemukan 43 korban longsor, sedangkan yang masih dalam pencarian sebanyak 27 orang.