Bencana longsor di Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat ini menimbulkan kepanikan di kalangan warga yang terkena dampak. Badan Geologi Kementerian ESDM mengingatkan masyarakat untuk waspadai potensi terjadinya longsor susulan di daerah tersebut. Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyebutkan bahwa faktor utama yang menyebabkan kejadian ini adalah curah hujan tinggi yang terjadi sebelum dan saat bencana terjadi.
Gerakan tanah di Pasirlangu dipengaruhi oleh kondisi geologi setempat yang unik. Kawasan tersebut didominasi batuan gunung api tua, kemiringan lereng yang curam, serta keberadaan rekahan dan sesar geologi. Badan Geologi menyatakan bahwa wilayah terdampak termasuk Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah, di mana gerakan tanah berpotensi terjadi terutama pada lereng yang telah mengalami gangguan.
Aktivitas pemotongan lereng untuk permukiman dan akses jalan serta sistem drainase permukaan yang belum optimal juga memperbesar risiko longsor dan menurunkan kestabilan lereng di kawasan perbukitan tersebut. Badan Geologi mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terutama saat hujan deras, karena potensi terjadinya gerakan tanah susulan masih tinggi.
Selain itu, tim tanggap darurat Badan Geologi juga telah berangkat ke lokasi bencana untuk melakukan pemeriksaan lapangan dan menyiapkan rekomendasi teknis penanganan di area terdampak. Tim yang beranggotakan 10 orang akan memberikan rekomendasi teknis penanganan bencana gerakan tanah dan sosialisasi mengenai kondisi gerakan tanah yang telah terjadi kepada masyarakat yang terkena bencana.
Gerakan tanah di Pasirlangu dipengaruhi oleh kondisi geologi setempat yang unik. Kawasan tersebut didominasi batuan gunung api tua, kemiringan lereng yang curam, serta keberadaan rekahan dan sesar geologi. Badan Geologi menyatakan bahwa wilayah terdampak termasuk Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah, di mana gerakan tanah berpotensi terjadi terutama pada lereng yang telah mengalami gangguan.
Aktivitas pemotongan lereng untuk permukiman dan akses jalan serta sistem drainase permukaan yang belum optimal juga memperbesar risiko longsor dan menurunkan kestabilan lereng di kawasan perbukitan tersebut. Badan Geologi mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terutama saat hujan deras, karena potensi terjadinya gerakan tanah susulan masih tinggi.
Selain itu, tim tanggap darurat Badan Geologi juga telah berangkat ke lokasi bencana untuk melakukan pemeriksaan lapangan dan menyiapkan rekomendasi teknis penanganan di area terdampak. Tim yang beranggotakan 10 orang akan memberikan rekomendasi teknis penanganan bencana gerakan tanah dan sosialisasi mengenai kondisi gerakan tanah yang telah terjadi kepada masyarakat yang terkena bencana.