Pertambangan Batu Bara Indonesia Siap Menghadapi Kebijakan Pemangkasan Produksi, Tetapi Apakah Ini Akan Berdampak pada Ekspor?
Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mengingatkan bahwa pemerintah menetapkan target produksi batu bara di dalam negeri tahun 2026 yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 3 tahunan. Hal ini menyebabkan potensi penurunan volume ekspor batu bara Indonesia.
Direktur Eksekutif APBI, Gita Mahyarani, menekankan bahwa meskipun saat ini kegiatan ekspor ke pasar Asia masih berjalan normal, tetapi kondisi tersebut bisa berubah dengan adanya dampak dari kebijakan pembatasan produksi yang berpotensi menekan volume suplai ke negara-negara tujuan ekspor utama Indonesia.
Kondisi pasar saat ini yang mengalami tren pelemahan harga meskipun Indonesia mulai mengerem laju produksi, sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor global seperti stok tinggi di negara pembeli dan produksi domestik yang meningkat di beberapa negara importir utama. Pelemahan harga batu bara saat ini juga dipengaruhi oleh sentimen pasar dan musiman.
Dengan adanya pemangkasan produksi di dalam negeri, keseimbangan pasar diharapkan dapat terbentuk kembali meskipun volume ekspor terancam terkoreksi. Namun, penurunan volume produksi tersebut berpotensi menempatkan skala produksi perusahaan di bawah skala keekonomian yang layak, sehingga berdampak pada kelayakan usaha dan kesinambutan operasional.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan bahwa pemerintah menilai bahwa permasalahan tersebut sudah menjadi perhatian khusus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Saat ini, pihaknya mendalami isu tersebut dan menyiapkan penanganan.
Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mengingatkan bahwa pemerintah menetapkan target produksi batu bara di dalam negeri tahun 2026 yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 3 tahunan. Hal ini menyebabkan potensi penurunan volume ekspor batu bara Indonesia.
Direktur Eksekutif APBI, Gita Mahyarani, menekankan bahwa meskipun saat ini kegiatan ekspor ke pasar Asia masih berjalan normal, tetapi kondisi tersebut bisa berubah dengan adanya dampak dari kebijakan pembatasan produksi yang berpotensi menekan volume suplai ke negara-negara tujuan ekspor utama Indonesia.
Kondisi pasar saat ini yang mengalami tren pelemahan harga meskipun Indonesia mulai mengerem laju produksi, sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor global seperti stok tinggi di negara pembeli dan produksi domestik yang meningkat di beberapa negara importir utama. Pelemahan harga batu bara saat ini juga dipengaruhi oleh sentimen pasar dan musiman.
Dengan adanya pemangkasan produksi di dalam negeri, keseimbangan pasar diharapkan dapat terbentuk kembali meskipun volume ekspor terancam terkoreksi. Namun, penurunan volume produksi tersebut berpotensi menempatkan skala produksi perusahaan di bawah skala keekonomian yang layak, sehingga berdampak pada kelayakan usaha dan kesinambutan operasional.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan bahwa pemerintah menilai bahwa permasalahan tersebut sudah menjadi perhatian khusus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Saat ini, pihaknya mendalami isu tersebut dan menyiapkan penanganan.