Kekerasan di Amerika, Awasan Pasar Uang
Pesan singkat dari Amerika Serikat menggelegar pasar uang. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya membuat gejolak di kawasan geopolitik. Trump menyatakan penangkapan tersebut berjalan sukses, tetapi masih terasa ketidakpastian. Kejadian ini berpotensi memicu adanya turbulensi di pasar merespon ketidakstabilan geopolitik.
Dari sisi domestik, Indonesia menantikan rilis inflasi dan neraca dagang yang akan diumumkan di awal tahun 2026. Pemerintah harapkan data tersebut memberikan gambaran yang jelas tentang keadaan ekonomi Indonesia.
Peningkatan ketegangan geopolitik di Amerika Serikat berpotensi mengerek harga minyak mentah dunia. Venezuela adalah produsen minyak mentah besar di kawasan Amerika Latin, sehingga akan dipengaruhi oleh ketidakstabilan politik di sana.
Inflasi Indonesia terjaga, daya beli aman
Data inflasi domestik yang akan diumumkan di awal tahun 2026 memberikan harapan bahwa inflasi akan melandai. Konsensus pasar memperkirakan inflasi tahunan akan melandai ke level 2,6%. Data terakhir menyampaikan bahwa inflasi tahunan Indonesia turun tipis menjadi 2,72% pada November 2025.
Penurunan inflasi ini didorong oleh melambatnya kenaikan harga pangan dan biaya perumahan. Namun, inflasi pada sektor pakaian, transportasi, dan kesehatan tercatat sedikit meningkat. Inflasi inti yang menjadi acuan daya beli masyarakat sebenarnya-bertahan stabil di angka 2,36%.
Cadangan Devisa Indonesia Menuntut Perhatian
Cadangan devisa Indonesia Desember diperkirakan akan diumumkan pada Kamis (8/1/2026). Pada November 2025, cadangan devisa naik menjadi US$150,1 miliar, meningkat dari US$149,9 miliar pada bulan sebelumnya. Level ini cukup untuk menutupi impor selama 6,2 bulan, atau 6,0 bulan jika memperhitungkan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Pesan singkat dari Amerika Serikat menggelegar pasar uang. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya membuat gejolak di kawasan geopolitik. Trump menyatakan penangkapan tersebut berjalan sukses, tetapi masih terasa ketidakpastian. Kejadian ini berpotensi memicu adanya turbulensi di pasar merespon ketidakstabilan geopolitik.
Dari sisi domestik, Indonesia menantikan rilis inflasi dan neraca dagang yang akan diumumkan di awal tahun 2026. Pemerintah harapkan data tersebut memberikan gambaran yang jelas tentang keadaan ekonomi Indonesia.
Peningkatan ketegangan geopolitik di Amerika Serikat berpotensi mengerek harga minyak mentah dunia. Venezuela adalah produsen minyak mentah besar di kawasan Amerika Latin, sehingga akan dipengaruhi oleh ketidakstabilan politik di sana.
Inflasi Indonesia terjaga, daya beli aman
Data inflasi domestik yang akan diumumkan di awal tahun 2026 memberikan harapan bahwa inflasi akan melandai. Konsensus pasar memperkirakan inflasi tahunan akan melandai ke level 2,6%. Data terakhir menyampaikan bahwa inflasi tahunan Indonesia turun tipis menjadi 2,72% pada November 2025.
Penurunan inflasi ini didorong oleh melambatnya kenaikan harga pangan dan biaya perumahan. Namun, inflasi pada sektor pakaian, transportasi, dan kesehatan tercatat sedikit meningkat. Inflasi inti yang menjadi acuan daya beli masyarakat sebenarnya-bertahan stabil di angka 2,36%.
Cadangan Devisa Indonesia Menuntut Perhatian
Cadangan devisa Indonesia Desember diperkirakan akan diumumkan pada Kamis (8/1/2026). Pada November 2025, cadangan devisa naik menjadi US$150,1 miliar, meningkat dari US$149,9 miliar pada bulan sebelumnya. Level ini cukup untuk menutupi impor selama 6,2 bulan, atau 6,0 bulan jika memperhitungkan pembayaran utang luar negeri pemerintah.