Amerika Serikat (AS) kembali mengerahkan armada besar ke Teluk, menurut Presiden AS Donald Trump. Armada ini termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln dan beberapa kapal perusak yang dilengkapi dengan peluru kendali. Pengiriman armada tersebut dilakukan untuk berjaga-jaga terkait situasi di Iran.
Trump sendiri menyatakan bahwa armada perang itu telah "mengawasi" Iran, menurut keterangannya sebelum kembali ke AS dari pertemuan di Davos, Swiss. Ia juga mengaku bahwa armada tersebut adalah tindakan berjaga-jaga dan tidak ada yang jelas apakah akan digunakan untuk apa.
Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berbeda pendapat. Dia menyatakan bahwa Iran siap membalas AS jika diserang dan bahwa peringatan tersebut bukanlah ancaman, tetapi "kenyataan" yang harus disampaikan secara eksplisit.
Sementara itu, Iran juga mengakui bahwa unjuk rasa nasional yang meluas di sana telah membuat Teheran melakukan pembatasan informasi dari dan ke dalam negara. Unjuk rasa tersebut telah menyebabkan kematian sekitar 4.500 orang, menurut Kantor Berita Aktivis HAM Iran di AS (HRANA).
Situasi di Teluk semakin kritis setelah Trump menarik ancamannya ke Iran dan kemudian menghilangkannya. Namun, pada Rabu lalu, Trump berbicara kepada CNBC bahwa ancaman tetap berlaku jika Teheran mengaktifkan kembali program nuklirnya.
Trump sendiri menyatakan bahwa armada perang itu telah "mengawasi" Iran, menurut keterangannya sebelum kembali ke AS dari pertemuan di Davos, Swiss. Ia juga mengaku bahwa armada tersebut adalah tindakan berjaga-jaga dan tidak ada yang jelas apakah akan digunakan untuk apa.
Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berbeda pendapat. Dia menyatakan bahwa Iran siap membalas AS jika diserang dan bahwa peringatan tersebut bukanlah ancaman, tetapi "kenyataan" yang harus disampaikan secara eksplisit.
Sementara itu, Iran juga mengakui bahwa unjuk rasa nasional yang meluas di sana telah membuat Teheran melakukan pembatasan informasi dari dan ke dalam negara. Unjuk rasa tersebut telah menyebabkan kematian sekitar 4.500 orang, menurut Kantor Berita Aktivis HAM Iran di AS (HRANA).
Situasi di Teluk semakin kritis setelah Trump menarik ancamannya ke Iran dan kemudian menghilangkannya. Namun, pada Rabu lalu, Trump berbicara kepada CNBC bahwa ancaman tetap berlaku jika Teheran mengaktifkan kembali program nuklirnya.