Amerika Serikat (AS) mengalami cuaca ekstrem berupa badai salju yang dilanda oleh pusaran kutub. Cuaca ini menyebabkan lebih dari 800 ribu rumah di AS tidak memiliki aliran listrik. Gubernur negara bagian New York, Kathy Hochul, menyatakan bahwa kondisi cuaca ini sangat dingin dan merupakan salah satu cuaca terdingin yang pernah dirasakan dalam beberapa tahun terakhir.
Cuaca ekstrem ini menyebabkan 7 korban tewas yang telah dikonfirmasi. Korban-korban tersebut meninggal karena mengalami hipotermia. Di Kansas, seorang wanita ditemukan meninggal di tumpukan salju. Di New York City, setidaknya lima orang meninggal pada Sabtu lalu, tetapi penyebab kematian mereka belum dikonfirmasi.
Selain itu, badai musim dingin yang berlangsung secara ekstrem juga menyebabkan penutupan sekolah dan jalan raya di wilayah terdampak. Penutupan ini termasuk 11.000 penerbangan yang dibatalkan. Transportasi menjadi lumpuh karena terputusnya aliran listrik secara luas, sehingga setidaknya 800 ribu rumah tidak memiliki akses ke listrik.
Para ahli cuaca memperingatkan bahwa dampak langsung dari badai musim dingin ini adalah risiko tinggi pohon tumbang, robohnya saluran listrik, dan jalan raya yang sulit dilintasi. Puncak badai dapat bertahan selama beberapa hari, bahkan suhu dingin yang ekstrem diperkirakan bakal tetap bertahan hingga awal Februari.
Kini, hampir setengah negara bagian AS telah menyatakan keadaan darurat karena cuaca ekstrem. Senat AS juga telah membatalkan agenda pemungutan suara yang semula dijadwalkan terjadi pada Senin ini. Menurut sejumlah ahli klimatologi, parahnya badai dan dampak yang terjadi kemungkinan terpengaruh oleh krisis iklim. Perubahan pola pusaran kutub diduga turut disebabkan karena perubahan suhu permukaan laut dunia yang makin meningkat.
Kemungkinan peringatan cuaca ini semakin penting, karena kondisi cuaca ekstrem seperti ini dapat menyebabkan kerusakan besar dan bahaya bagi masyarakat.
Cuaca ekstrem ini menyebabkan 7 korban tewas yang telah dikonfirmasi. Korban-korban tersebut meninggal karena mengalami hipotermia. Di Kansas, seorang wanita ditemukan meninggal di tumpukan salju. Di New York City, setidaknya lima orang meninggal pada Sabtu lalu, tetapi penyebab kematian mereka belum dikonfirmasi.
Selain itu, badai musim dingin yang berlangsung secara ekstrem juga menyebabkan penutupan sekolah dan jalan raya di wilayah terdampak. Penutupan ini termasuk 11.000 penerbangan yang dibatalkan. Transportasi menjadi lumpuh karena terputusnya aliran listrik secara luas, sehingga setidaknya 800 ribu rumah tidak memiliki akses ke listrik.
Para ahli cuaca memperingatkan bahwa dampak langsung dari badai musim dingin ini adalah risiko tinggi pohon tumbang, robohnya saluran listrik, dan jalan raya yang sulit dilintasi. Puncak badai dapat bertahan selama beberapa hari, bahkan suhu dingin yang ekstrem diperkirakan bakal tetap bertahan hingga awal Februari.
Kini, hampir setengah negara bagian AS telah menyatakan keadaan darurat karena cuaca ekstrem. Senat AS juga telah membatalkan agenda pemungutan suara yang semula dijadwalkan terjadi pada Senin ini. Menurut sejumlah ahli klimatologi, parahnya badai dan dampak yang terjadi kemungkinan terpengaruh oleh krisis iklim. Perubahan pola pusaran kutub diduga turut disebabkan karena perubahan suhu permukaan laut dunia yang makin meningkat.
Kemungkinan peringatan cuaca ini semakin penting, karena kondisi cuaca ekstrem seperti ini dapat menyebabkan kerusakan besar dan bahaya bagi masyarakat.