Amerika Serikat (AS) menghadapi cuaca ekstrem yang parah, berupa badai salju dan hujan es. Sampai Senin (26/1/2026), korban tewas akibat badai telah dikonfirmasi. Pusaran kutub merupakan angin barat yang kuat yang terbentuk di atas kawasan Arktik dan bergerak ke selatan, melewati Kanada dan AS.
Badai ini membuat suhu dingin ekstrem dan udara hangat mempertemukan. Hal ini membuat badai salju dan hujan es terbentuk. Badai ini membuat kawasan AS tak hanya mengalami hujan salju, tetapi juga hujan es dan penumpukan salju yang tebal.
Gubernur New York, Kathy Hochul, menyebut kondisi cuaca ini sebagai yang terdingin dalam beberapa tahun. Ia menyebut badai telah melanda banyak negara bagian AS lainnya.
"Badai musim dingin terdingin yang pernah kita lihat dalam beberapa tahun terakhir," kata Hochul pada Minggu (25/1).
Badai ini terjadi secara luas di AS. Ruang lingkup badai salju dan hujan es dilaporkan melanda hampir setengah dari total negara bagian AS.
Dampak cuaca ekstrem AS:
Korban tewas: Terdapat 7 korban tewas yang telah terkonfirmasi akibat badai. Ketujuh korban tersebut tersebar di Louisiana, Texas, Tennessee, dan Kansas. Mayoritas korban itu diidentifikasi tewas karena mengalami hipotermia.
Penutupan sekolah dan jalan raya: Badai musim dingin yang berlangsung secara ekstrem juga telah menyebabkan penutupan sekolah dan jalan raya di wilayah terdampak. Penutupan ini termasuk 11.000 penerbangan di Texas hingga New England yang dibatalkan.
Aliran listrik: Setidaknya, 800.000 rumah terdampak dan kini tak dialiri listrik.
Krisis iklim: Menurut sejumlah ahli klimatologi, parahnya badai dan dampak yang terjadi kemungkinan terpengaruh oleh krisis iklim. Perubahan pola pusaran kutub diduga turut disebabkan karena perubahan suhu permukaan laut dunia yang makin meningkat.
Badai ini membuat suhu dingin ekstrem dan udara hangat mempertemukan. Hal ini membuat badai salju dan hujan es terbentuk. Badai ini membuat kawasan AS tak hanya mengalami hujan salju, tetapi juga hujan es dan penumpukan salju yang tebal.
Gubernur New York, Kathy Hochul, menyebut kondisi cuaca ini sebagai yang terdingin dalam beberapa tahun. Ia menyebut badai telah melanda banyak negara bagian AS lainnya.
"Badai musim dingin terdingin yang pernah kita lihat dalam beberapa tahun terakhir," kata Hochul pada Minggu (25/1).
Badai ini terjadi secara luas di AS. Ruang lingkup badai salju dan hujan es dilaporkan melanda hampir setengah dari total negara bagian AS.
Dampak cuaca ekstrem AS:
Korban tewas: Terdapat 7 korban tewas yang telah terkonfirmasi akibat badai. Ketujuh korban tersebut tersebar di Louisiana, Texas, Tennessee, dan Kansas. Mayoritas korban itu diidentifikasi tewas karena mengalami hipotermia.
Penutupan sekolah dan jalan raya: Badai musim dingin yang berlangsung secara ekstrem juga telah menyebabkan penutupan sekolah dan jalan raya di wilayah terdampak. Penutupan ini termasuk 11.000 penerbangan di Texas hingga New England yang dibatalkan.
Aliran listrik: Setidaknya, 800.000 rumah terdampak dan kini tak dialiri listrik.
Krisis iklim: Menurut sejumlah ahli klimatologi, parahnya badai dan dampak yang terjadi kemungkinan terpengaruh oleh krisis iklim. Perubahan pola pusaran kutub diduga turut disebabkan karena perubahan suhu permukaan laut dunia yang makin meningkat.