Operasi Rahasia di Indonesia: Kembali Kenangan 1950-an yang Mengingatkan Diri Kami
Di tahun-tahun kekacauan, terutama pada peristiwa gerakan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) di Sulawesi. Gerakan tersebut berangkat dari kekecewaan daerah terhadap pemerintah pusat yang dianggap sangat sentralis. Sayangnya, Jakarta melihat Permesta sebagai pemberontakan dan segera merespons dengan operasi militer besar-besaran.
Di tengah konflik, keterlibatan asing mulai ditekan. Sejak awal April 1958, sejumlah wilayah di Ambon dilaporkan dibom dari udara. TNI meningkatkan kewaspadaan terhadap setiap pesawat tempur yang melintas. Kecurigaan memuncak ketika pesawat B-26 terlihat menukik dan menyerang wilayah perairan Ambon.
Kapal-kapal TNI Angkatan Laut langsung membalas tembakan dan berhasil mengenai pesawat tersebut. Versi lain juga mengungkap bahwa pesawat itu juga ditembaki oleh pesawat milik TNI AU. Apapun versinya, B-26 itu terkena tembakan dan sempat terbang menjauh sebelum akhirnya terbakar di udara. Dua awak pesawat melompat dengan parasut dan selamat.
Salah satu awak tersebut adalah warga negara AS bernama Allen Lawrence Pope. Penangkapan Pope memicu kemarahan Presiden Soekarno, yang secara eksplisit menyatakan bahwa Pope adalah agen CIA. Puluhan tahun kemudian, arsip rahasia CIA diungkap ke publik, membuktikan bahwa AS merancang operasi tersebut dengan tujuan untuk melemahkan kekuasaan Soekarno.
CIA melihat pergolakan di Sulawesi dan Sumatra sebagai peluang strategis untuk melemahkan kekuasaan Soekarno. Mereka bahkan secara eksplisit menyebut gejolak daerah sebagai alat tekanan politik terhadap pusat kekuasaan di Jawa, yang bisa menjadi momentum tepat untuk melemahkan kekuasaan.
Atas dasar ini, AS membantu gerakan Permesta melalui pengiriman pesawat B-26. Namun, operasi rahasia tersebut gagal setelah prajurit TNI menembak jatuh pesawat tempur yang dipiloti Pope dan menangkapnya. Sejak saat itu, kita perlu mengingatkan diri kami tentang kembali Kenangan 1950-an ini yang selalu menyentuh perasaan kami.
Di tahun-tahun kekacauan, terutama pada peristiwa gerakan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) di Sulawesi. Gerakan tersebut berangkat dari kekecewaan daerah terhadap pemerintah pusat yang dianggap sangat sentralis. Sayangnya, Jakarta melihat Permesta sebagai pemberontakan dan segera merespons dengan operasi militer besar-besaran.
Di tengah konflik, keterlibatan asing mulai ditekan. Sejak awal April 1958, sejumlah wilayah di Ambon dilaporkan dibom dari udara. TNI meningkatkan kewaspadaan terhadap setiap pesawat tempur yang melintas. Kecurigaan memuncak ketika pesawat B-26 terlihat menukik dan menyerang wilayah perairan Ambon.
Kapal-kapal TNI Angkatan Laut langsung membalas tembakan dan berhasil mengenai pesawat tersebut. Versi lain juga mengungkap bahwa pesawat itu juga ditembaki oleh pesawat milik TNI AU. Apapun versinya, B-26 itu terkena tembakan dan sempat terbang menjauh sebelum akhirnya terbakar di udara. Dua awak pesawat melompat dengan parasut dan selamat.
Salah satu awak tersebut adalah warga negara AS bernama Allen Lawrence Pope. Penangkapan Pope memicu kemarahan Presiden Soekarno, yang secara eksplisit menyatakan bahwa Pope adalah agen CIA. Puluhan tahun kemudian, arsip rahasia CIA diungkap ke publik, membuktikan bahwa AS merancang operasi tersebut dengan tujuan untuk melemahkan kekuasaan Soekarno.
CIA melihat pergolakan di Sulawesi dan Sumatra sebagai peluang strategis untuk melemahkan kekuasaan Soekarno. Mereka bahkan secara eksplisit menyebut gejolak daerah sebagai alat tekanan politik terhadap pusat kekuasaan di Jawa, yang bisa menjadi momentum tepat untuk melemahkan kekuasaan.
Atas dasar ini, AS membantu gerakan Permesta melalui pengiriman pesawat B-26. Namun, operasi rahasia tersebut gagal setelah prajurit TNI menembak jatuh pesawat tempur yang dipiloti Pope dan menangkapnya. Sejak saat itu, kita perlu mengingatkan diri kami tentang kembali Kenangan 1950-an ini yang selalu menyentuh perasaan kami.