Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Venezuela akan menyerahkan sebanyak 30 sampai 50 juta barel minyak ke negaranya, dan AS akan mengelolanya sepenuhnya. Minyak ini akan dijual dengan harga pasar dan uang itu akan dikendalikan oleh Trump sendiri.
Pengumuman ini dilakukan sebagai bagian dari sanksi terhadap Venezuela. Negara tersebut berusaha menghindari pengurangan produksi secara signifikan di tengah blokade ekspor yang diberlakukan AS sejak pertengahan Desember lalu.
Venezuela memiliki jutaan barel minyak di kapal tanker dan tangki penyimpanan milik negaranya yang belum dapat dikirimkan akibat blokade ekspor AS. Minyak ini masih tertahan sampai akhirnya Presiden Nicolas Maduro ditangkap AS dalam operasi militer.
Trump mengatakan bahwa minyak tersebut nantinya diangkut menggunakan kapal penyimpanan dan selanjutnya dibawa langsung menuju dermaga bongkar muat yang berada di AS. "Saya telah meminta Menteri Energi Chris Wright untuk segera melaksanakan rencana ini," kata Trump.
Pemerintah Venezuela dan Washington telah bertemu untuk membahas ekspor minyak mentah dari Venezuela ke berbagai kilang minyak di AS. Cina, yang menjadi pembeli utama minyak Venezuela dalam dekade terakhir, akan kena imbasnya karena kedua pihak tersebut juga sepakat melakukan pengalihan pasokan bagi Cina agar perusahaan minyak milik Venezuela, PDVSA, terhindar dari kebijakan pengurangan produksi lebih besar.
AS juga meminta pemutusan kerja sama ekonomi dengan negara-negara seperti China, Rusia, Iran, dan Kuba terkait minyak. Selain itu, AS ingin menjadi mitra eksklusif dalam produksi minyak dan negara Amerika Latin ini harus mengutamakan penjualan minyak mentah kepada negara Paman Sam tersebut.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan bahwa ia yakin AS bisa memaksa Venezuela dalam hal minyak karena kapal tanker minyak yang ada di negara tersebut saat ini sudah penuh. Venezuela terancam kebangkrutan ekonomi jika tidak ada penjualan minyak.
Pengumuman ini dilakukan sebagai bagian dari sanksi terhadap Venezuela. Negara tersebut berusaha menghindari pengurangan produksi secara signifikan di tengah blokade ekspor yang diberlakukan AS sejak pertengahan Desember lalu.
Venezuela memiliki jutaan barel minyak di kapal tanker dan tangki penyimpanan milik negaranya yang belum dapat dikirimkan akibat blokade ekspor AS. Minyak ini masih tertahan sampai akhirnya Presiden Nicolas Maduro ditangkap AS dalam operasi militer.
Trump mengatakan bahwa minyak tersebut nantinya diangkut menggunakan kapal penyimpanan dan selanjutnya dibawa langsung menuju dermaga bongkar muat yang berada di AS. "Saya telah meminta Menteri Energi Chris Wright untuk segera melaksanakan rencana ini," kata Trump.
Pemerintah Venezuela dan Washington telah bertemu untuk membahas ekspor minyak mentah dari Venezuela ke berbagai kilang minyak di AS. Cina, yang menjadi pembeli utama minyak Venezuela dalam dekade terakhir, akan kena imbasnya karena kedua pihak tersebut juga sepakat melakukan pengalihan pasokan bagi Cina agar perusahaan minyak milik Venezuela, PDVSA, terhindar dari kebijakan pengurangan produksi lebih besar.
AS juga meminta pemutusan kerja sama ekonomi dengan negara-negara seperti China, Rusia, Iran, dan Kuba terkait minyak. Selain itu, AS ingin menjadi mitra eksklusif dalam produksi minyak dan negara Amerika Latin ini harus mengutamakan penjualan minyak mentah kepada negara Paman Sam tersebut.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan bahwa ia yakin AS bisa memaksa Venezuela dalam hal minyak karena kapal tanker minyak yang ada di negara tersebut saat ini sudah penuh. Venezuela terancam kebangkrutan ekonomi jika tidak ada penjualan minyak.