Tirto.id - Apakah minyak goreng harus selalu dari sawit? Sebenarnya tidak ada jawaban pasti, karena terdapat beberapa jenis minyak yang bisa menjadi alternatif dengan manfaat dan kelebihan masing-masing. Kita mulai dari hal ini.
Terdapat beberapa perbedaan antara minyak goreng dan sawit baik pada komposisi maupun sifat fisiknya. Perbedaan ini memang juga mengubah proses penggunaan terhadap dua jenis minyak tersebut. Mulai dari penggorengan hingga masakan dalam suhu tinggi, kita perlu ketahuan apa saja yang harus diperhatikan.
Minyak sawit dihasilkan dari beberapa tahapan mulai dari pemetikan sawit, perebusan untuk melepaskan minyak sawit dari buahnya, pemisahan minyak, pemurnian hingga pengemasan. Minyak ini memiliki komposisi asam lemak yang seimbang dan stabil sehingga titik asapnya relatif tinggi.
Minyak goreng ini sangat cocok untuk memasak dengan suhu tinggi seperti menumis atau menggoreng. Namun, sebenarnya ada banyak alternatif minyak nabati lainnya seperti minyak kelapa, minyak zaitun, minyak jagung, hingga minyak kanola.
Pertanyaannya adalah apakah minyak sawit menjadi satu-satunya jenis minyak yang cocok untuk menggoreng? Jika tidak, adakah alternatif minyak goreng lain yang cocok untuk memasak?
Produktivitas tinggi per hektar pun menjadi faktor penting. Kelapa sawit menghasilkan minyak dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan tanaman penghasil minyak selain sawit.
Berdasarkan laporan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Palm Oil Strategic Agribusiness Strategic Policy Instutue, sawit sendiri memiliki beberapa kelebihan. Menurut situs PASPI, komposisi asam lemak pada minyak sawit tergolong seimbang dan stabil sehingga titik asapnya relatif tinggi.
Dengan demikian, hal ini membuat minyak sawit sangat cocok untuk memasak dengan suhu tinggi seperti menumis atau menggoreng. Namun, bukan berarti kita harus selalu menggunakan minyak sawit dalam proses memasak.
Hal yang perlu dipertimbangkan adalah kandungan lemak pada minyak dan cara penggunaan. Meskipun ada banyak alternatif minyak nabati lainnya, tetap saja tidak semua bisa digunakan untuk menggoreng atau memasak dalam suhu tinggi.
Selain itu, masih ada beberapa jenis minyak yang harus diperhatikan saat menggunakan sebagai pengganti sawit seperti minyak jagung dan bunga matahari. Keduanya kaya akan lemak tak jenuh ganda yang dapat membentuk senyawa tak diinginkan jika dipanaskan pada suhu tinggi.
Jika Anda ingin mencoba menggunakan alternatif minyak goreng lain, ada beberapa pilihan seperti minyak alpukat, minyak kelapa, tallow (lemak hewani), mentega, dan ghee. Namun, perlu diperhatikan bahwa proses penggunaan terhadap dua jenis minyak ini berbeda.
Tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa minyak sawit adalah penyebab utama penyakit kardiovaskular, meskipun konsumsi lemak trans dapat meningkatkan risiko. Hasil penelitian praklinis oleh IOPRI menunjukkan bahwa konsumsi minyak sawit tidak meningkatkan kadar kolesterol jahat.
Dalam penelitian lain yang disebut sebagai Palm Oil Consumption Increases LDL Cholesterol Compared with Vegetable Oils Low in Saturated Fat in a Meta-Analysis of Clinical Trials, terdapat bukti dari studi yang menunjukkan bahwa konsumsi minyak sawit justru meningkatkan kadar kolesterol LDL dibandingkan dengan minyak nabati lain yang rendah lemak jenuh.
Dalam penelitian tersebut, ada beberapa alternatif minyak goreng lain seperti minyak zaitun, minyak kanola, dan minyak alpukat. Namun, perlu diperhatikan bahwa pola konsumsi serta cara pengolahan sangat berpengaruh.
Berikut adalah beberapa sumber minyak goreng lain yang dapat digunakan sebagai alternatif kepada sawit, yaitu:
1. Minyak zaitun: Minyak zaitun merupakan pilihan populer untuk menggoreng makanan pada umumnya. Kandungan antioksidan dalam minyak ini sangat baik dan dapat membantu menjaga kesehatan.
2. Minyak kanola: Minyak kanola adalah salah satu alternatif yang populer untuk penggunaan sebagai minyak goreng di rumah. Minyak ini memiliki kelebihan dari minyak sawit, yaitu rendah kalori dan kaya akan omega-3.
3. Minyak alpukat: Minyak alpukat merupakan minyak yang sangat baik untuk memasak karena kandungan lemaknya relatif rendah sehingga tidak terlalu berat pada perut. Selain itu, minyak ini juga kaya akan antioksidan dan vitamin E.
4. Tallow (lemak hewani): Tallow adalah jenis lemak yang diperoleh dari sapi atau kerbau yang kemudian diolah menjadi minyak goreng. Minyak tallow memiliki komposisi asam lemak yang seimbang, sehingga dapat digunakan untuk memasak dengan suhu tinggi.
5. Mentega dan ghee: Mentega dan ghee adalah jenis minyak goreng yang diperoleh dari lemak sapi atau kerbau. Keduanya memiliki sifat yang sama dan dapat dijadikan alternatif bagi pengguna.
Perlu diingat bahwa proses menggunakan minyak goreng tersebut juga perlu disesuaikan dengan cara memasak, seperti suhu dan waktu menggoreng, sehingga tidak terjadi penyerapan lemak berlebihan pada tubuh.
Terdapat beberapa perbedaan antara minyak goreng dan sawit baik pada komposisi maupun sifat fisiknya. Perbedaan ini memang juga mengubah proses penggunaan terhadap dua jenis minyak tersebut. Mulai dari penggorengan hingga masakan dalam suhu tinggi, kita perlu ketahuan apa saja yang harus diperhatikan.
Minyak sawit dihasilkan dari beberapa tahapan mulai dari pemetikan sawit, perebusan untuk melepaskan minyak sawit dari buahnya, pemisahan minyak, pemurnian hingga pengemasan. Minyak ini memiliki komposisi asam lemak yang seimbang dan stabil sehingga titik asapnya relatif tinggi.
Minyak goreng ini sangat cocok untuk memasak dengan suhu tinggi seperti menumis atau menggoreng. Namun, sebenarnya ada banyak alternatif minyak nabati lainnya seperti minyak kelapa, minyak zaitun, minyak jagung, hingga minyak kanola.
Pertanyaannya adalah apakah minyak sawit menjadi satu-satunya jenis minyak yang cocok untuk menggoreng? Jika tidak, adakah alternatif minyak goreng lain yang cocok untuk memasak?
Produktivitas tinggi per hektar pun menjadi faktor penting. Kelapa sawit menghasilkan minyak dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan tanaman penghasil minyak selain sawit.
Berdasarkan laporan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Palm Oil Strategic Agribusiness Strategic Policy Instutue, sawit sendiri memiliki beberapa kelebihan. Menurut situs PASPI, komposisi asam lemak pada minyak sawit tergolong seimbang dan stabil sehingga titik asapnya relatif tinggi.
Dengan demikian, hal ini membuat minyak sawit sangat cocok untuk memasak dengan suhu tinggi seperti menumis atau menggoreng. Namun, bukan berarti kita harus selalu menggunakan minyak sawit dalam proses memasak.
Hal yang perlu dipertimbangkan adalah kandungan lemak pada minyak dan cara penggunaan. Meskipun ada banyak alternatif minyak nabati lainnya, tetap saja tidak semua bisa digunakan untuk menggoreng atau memasak dalam suhu tinggi.
Selain itu, masih ada beberapa jenis minyak yang harus diperhatikan saat menggunakan sebagai pengganti sawit seperti minyak jagung dan bunga matahari. Keduanya kaya akan lemak tak jenuh ganda yang dapat membentuk senyawa tak diinginkan jika dipanaskan pada suhu tinggi.
Jika Anda ingin mencoba menggunakan alternatif minyak goreng lain, ada beberapa pilihan seperti minyak alpukat, minyak kelapa, tallow (lemak hewani), mentega, dan ghee. Namun, perlu diperhatikan bahwa proses penggunaan terhadap dua jenis minyak ini berbeda.
Tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa minyak sawit adalah penyebab utama penyakit kardiovaskular, meskipun konsumsi lemak trans dapat meningkatkan risiko. Hasil penelitian praklinis oleh IOPRI menunjukkan bahwa konsumsi minyak sawit tidak meningkatkan kadar kolesterol jahat.
Dalam penelitian lain yang disebut sebagai Palm Oil Consumption Increases LDL Cholesterol Compared with Vegetable Oils Low in Saturated Fat in a Meta-Analysis of Clinical Trials, terdapat bukti dari studi yang menunjukkan bahwa konsumsi minyak sawit justru meningkatkan kadar kolesterol LDL dibandingkan dengan minyak nabati lain yang rendah lemak jenuh.
Dalam penelitian tersebut, ada beberapa alternatif minyak goreng lain seperti minyak zaitun, minyak kanola, dan minyak alpukat. Namun, perlu diperhatikan bahwa pola konsumsi serta cara pengolahan sangat berpengaruh.
Berikut adalah beberapa sumber minyak goreng lain yang dapat digunakan sebagai alternatif kepada sawit, yaitu:
1. Minyak zaitun: Minyak zaitun merupakan pilihan populer untuk menggoreng makanan pada umumnya. Kandungan antioksidan dalam minyak ini sangat baik dan dapat membantu menjaga kesehatan.
2. Minyak kanola: Minyak kanola adalah salah satu alternatif yang populer untuk penggunaan sebagai minyak goreng di rumah. Minyak ini memiliki kelebihan dari minyak sawit, yaitu rendah kalori dan kaya akan omega-3.
3. Minyak alpukat: Minyak alpukat merupakan minyak yang sangat baik untuk memasak karena kandungan lemaknya relatif rendah sehingga tidak terlalu berat pada perut. Selain itu, minyak ini juga kaya akan antioksidan dan vitamin E.
4. Tallow (lemak hewani): Tallow adalah jenis lemak yang diperoleh dari sapi atau kerbau yang kemudian diolah menjadi minyak goreng. Minyak tallow memiliki komposisi asam lemak yang seimbang, sehingga dapat digunakan untuk memasak dengan suhu tinggi.
5. Mentega dan ghee: Mentega dan ghee adalah jenis minyak goreng yang diperoleh dari lemak sapi atau kerbau. Keduanya memiliki sifat yang sama dan dapat dijadikan alternatif bagi pengguna.
Perlu diingat bahwa proses menggunakan minyak goreng tersebut juga perlu disesuaikan dengan cara memasak, seperti suhu dan waktu menggoreng, sehingga tidak terjadi penyerapan lemak berlebihan pada tubuh.