Pagi ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluncurkan proyek "New Gaza" dan "New Rafah" di pameran internasional di Davos, Swiss. Proyek ini bertujuan untuk membangun kembali wilayah Gaza yang hancur akibat serangan Israel.
Dalam acara tersebut, Jared Kushner, pengembang properti dan menantu Trump, memperkenalkan "master plan" pembangunan dengan nama New Gaza dan New Rafah. Rencana ini menekankan pembangunan kawasan tepi laut, gedung-gedung modern, serta fasilitas mewah yang diklaim akan mengubah Gaza menjadi kota baru yang menyerupai kawasan maju di Timur Tengah.
Kushner memperkenalkan apa yang disebut sebagai “master plan” untuk merekonstruksi wilayah Gaza yang hancur akibat serangan Israel. Rencana ini menekankan pembangunan kawasan tepi laut, gedung-gedung modern, serta fasilitas mewah yang diklaim akan mengubah Gaza menjadi kota baru yang menyerupai kawasan maju di Timur Tengah.
Dalam pemaparannya, Kushner menjelaskan bahwa pembangunan akan dilakukan secara bertahap dan dibagi ke dalam beberapa zona atau kota, yaitu: Rafah atau "kota 1"; Khan Younis atau "kota 2"; Kamp Pusat atau "kota 3"; dan Kota Gaza atau "kota 4". Setiap zona dirancang memiliki perumahan permanen dalam jumlah besar, fasilitas pendidikan, pusat budaya dan keagamaan, serta layanan kesehatan.
Salah satu bagian paling menonjol adalah konsep “coastal tourism”, yang menampilkan hotel, apartemen bertingkat tinggi, vila mewah, pusat data, dan kawasan industri modern di sepanjang pantai. Di "New Rafah" Kushner merencanakan akan ada lebih dari 100.000 unit perumahan permanen, 200 pusat pendidikan, 180 pusat budaya, keagamaan, dan kejuruan, serta 75 fasilitas medis.
Terdapat perasaan ketidakpastian di kalangan warga Palestina terhadap rencana ini. Mereka tidak optimistis terhadap proyek ini, kata Tareq Abu Azzoum dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Gaza pada Kamis. "Di kalangan warga Palestina ada perasaan mendalam bahwa mereka dibicarakan sebagai masalah yang harus dikelola, bukan sebagai manusia dengan hak-hak yang harus sepenuhnya dipenuhi," ujarnya.
Manal al-Qouqa, seorang ibu pengungsi di Gaza, mengatakan bahwa "dewan perdamaian itu tidak ada dalam kenyataan". "Setiap kali mereka mengumumkan sesuatu terkait rakyat Palestina, penderitaan kami justru semakin bertambah," ujarnya.
Dalam acara tersebut, Jared Kushner, pengembang properti dan menantu Trump, memperkenalkan "master plan" pembangunan dengan nama New Gaza dan New Rafah. Rencana ini menekankan pembangunan kawasan tepi laut, gedung-gedung modern, serta fasilitas mewah yang diklaim akan mengubah Gaza menjadi kota baru yang menyerupai kawasan maju di Timur Tengah.
Kushner memperkenalkan apa yang disebut sebagai “master plan” untuk merekonstruksi wilayah Gaza yang hancur akibat serangan Israel. Rencana ini menekankan pembangunan kawasan tepi laut, gedung-gedung modern, serta fasilitas mewah yang diklaim akan mengubah Gaza menjadi kota baru yang menyerupai kawasan maju di Timur Tengah.
Dalam pemaparannya, Kushner menjelaskan bahwa pembangunan akan dilakukan secara bertahap dan dibagi ke dalam beberapa zona atau kota, yaitu: Rafah atau "kota 1"; Khan Younis atau "kota 2"; Kamp Pusat atau "kota 3"; dan Kota Gaza atau "kota 4". Setiap zona dirancang memiliki perumahan permanen dalam jumlah besar, fasilitas pendidikan, pusat budaya dan keagamaan, serta layanan kesehatan.
Salah satu bagian paling menonjol adalah konsep “coastal tourism”, yang menampilkan hotel, apartemen bertingkat tinggi, vila mewah, pusat data, dan kawasan industri modern di sepanjang pantai. Di "New Rafah" Kushner merencanakan akan ada lebih dari 100.000 unit perumahan permanen, 200 pusat pendidikan, 180 pusat budaya, keagamaan, dan kejuruan, serta 75 fasilitas medis.
Terdapat perasaan ketidakpastian di kalangan warga Palestina terhadap rencana ini. Mereka tidak optimistis terhadap proyek ini, kata Tareq Abu Azzoum dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Gaza pada Kamis. "Di kalangan warga Palestina ada perasaan mendalam bahwa mereka dibicarakan sebagai masalah yang harus dikelola, bukan sebagai manusia dengan hak-hak yang harus sepenuhnya dipenuhi," ujarnya.
Manal al-Qouqa, seorang ibu pengungsi di Gaza, mengatakan bahwa "dewan perdamaian itu tidak ada dalam kenyataan". "Setiap kali mereka mengumumkan sesuatu terkait rakyat Palestina, penderitaan kami justru semakin bertambah," ujarnya.