Iran Menghadapi Buku Tebal Sanksi dari Uni Eropa, Setelah Dinyatakan Kelompok Teroris
Uni Eropa memutuskan untuk mengategorikan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai kelompok teroris. Keputusan ini berlaku sejak pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels, Kamis 29 Januari 2026. Menurut diplomat Uni Eropa, Kaja Kallas, keputusan ini membuat IRGC dianggap setara dengan Al Qaeda, ISIS, dan Hamas.
Ternyata, Italia adalah negara yang memimpin penetapan IRGC sebagai organisasi teroris. Setelah itu, negara-negara lain mulai menyetujuinya, termasuk Prancis. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menyatakan bahwa Garda Revolusi Iran telah terlibat dalam "represi paling kejam dalam sejarah modern" negara tersebut.
Barrot juga mengatakan bahwa tidak ada impunitas untuk kejahatan yang dilakukan oleh IRGC. Langkah Uni Eropa ini mengikuti Australia, Kanada, dan Amerika Serikat (AS) yang sudah lebih dulu menetapkan Garda Revolusi Iran sebagai kelompok teroris.
IRGC kini dikenai sanksi seperti larangan perjalanan dan pembekuan aset. Oleh karena itu, mereka tidak dapat bergerak bebas di luar negeri. Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran merespons keputusan itu dengan kecaman. Mereka mengatakan bahwa keputusan ini "tidak logis, tidak bertanggung jawab, dan dengki".
Garda Revolusi Iran dibentuk pada 1979, seiring dengan terjadinya revolusi yang dipimpin oleh Ayatollah Ali Khamenei di Negeri Para Mullah tersebut. IRGC beroperasi secara terpisah dari angkatan bersenjata Iran. Akan tetapi, meskipun terpisah dari angkatan bersenjata Iran, IRGC merupakan struktur militer terkuat Iran.
IRGC memiliki 150.000 hingga 190.000 personel tentara, termasuk unit ekspedisi elite yang dikenal sebagai Pasukan Quds. Pasukan elite Garda Revolusi Iran telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh AS sejak 2007.
Uni Eropa memutuskan untuk mengategorikan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai kelompok teroris. Keputusan ini berlaku sejak pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels, Kamis 29 Januari 2026. Menurut diplomat Uni Eropa, Kaja Kallas, keputusan ini membuat IRGC dianggap setara dengan Al Qaeda, ISIS, dan Hamas.
Ternyata, Italia adalah negara yang memimpin penetapan IRGC sebagai organisasi teroris. Setelah itu, negara-negara lain mulai menyetujuinya, termasuk Prancis. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menyatakan bahwa Garda Revolusi Iran telah terlibat dalam "represi paling kejam dalam sejarah modern" negara tersebut.
Barrot juga mengatakan bahwa tidak ada impunitas untuk kejahatan yang dilakukan oleh IRGC. Langkah Uni Eropa ini mengikuti Australia, Kanada, dan Amerika Serikat (AS) yang sudah lebih dulu menetapkan Garda Revolusi Iran sebagai kelompok teroris.
IRGC kini dikenai sanksi seperti larangan perjalanan dan pembekuan aset. Oleh karena itu, mereka tidak dapat bergerak bebas di luar negeri. Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran merespons keputusan itu dengan kecaman. Mereka mengatakan bahwa keputusan ini "tidak logis, tidak bertanggung jawab, dan dengki".
Garda Revolusi Iran dibentuk pada 1979, seiring dengan terjadinya revolusi yang dipimpin oleh Ayatollah Ali Khamenei di Negeri Para Mullah tersebut. IRGC beroperasi secara terpisah dari angkatan bersenjata Iran. Akan tetapi, meskipun terpisah dari angkatan bersenjata Iran, IRGC merupakan struktur militer terkuat Iran.
IRGC memiliki 150.000 hingga 190.000 personel tentara, termasuk unit ekspedisi elite yang dikenal sebagai Pasukan Quds. Pasukan elite Garda Revolusi Iran telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh AS sejak 2007.