Doomscrolling di kalangan anak-anak: Apakah kita bisa menghentikan kebiasaan yang merupuk bahaya bagi mental mereka?
Dahulu, orang tua sering memandang anak-anak sebagai pengguna media sosial dengan penuh harap. Namun, setelah berita-berita berkelalaian beredar di media sosial, orang tua mulai menyadari betapa cepat berubahnya keadaan itu. Kini anak-anak sering memandang media sosial sebagai tempat yang aman untuk mengisi waktu dan menghindar dari masalah-masalah nyata.
Tapi, apakah kita bisa yakin bahwa mereka tidak terkena dampak buruk dari kebiasaan tersebut? Dampaknya bisa sangat merugikan, seperti gangguan tidur, menurunnya kemampuan berkonsentrasi dan meningkatnya rasa cemas. Apakah kita boleh hanya menganggap anak-anak sebagai pengguna media sosial yang harus berhati-hati?
Dahulu, penulis berbicara tentang kebiasaan "doomscrolling" di kalangan anak-anak yang merupakan kecenderungan untuk terus menelusuri konten di media sosial tanpa henti. Kebiasaan ini dapat memicu kecemasan yang berulang dan mengganggu perkembangan mental mereka.
Anak-anak masih dalam tahap perkembangan emosi dan otak, sehingga mereka sangat rentan terhadap paparan informasi yang belum sesuai dengan usianya. Paparan ini bisa menciptakan rasa takut, sedih, dan stres yang berlangsung lama.
Dengan demikian, kita harus mengambil tindakan untuk mengatasi kebiasaan tersebut sejak dini. Orang tua dapat memantau aktivitas anak mereka dan memberikan pendampingan agar mereka tidak terjebak di dalam kebiasaan tersebut.
Dahulu, orang tua sering memandang anak-anak sebagai pengguna media sosial dengan penuh harap. Namun, setelah berita-berita berkelalaian beredar di media sosial, orang tua mulai menyadari betapa cepat berubahnya keadaan itu. Kini anak-anak sering memandang media sosial sebagai tempat yang aman untuk mengisi waktu dan menghindar dari masalah-masalah nyata.
Tapi, apakah kita bisa yakin bahwa mereka tidak terkena dampak buruk dari kebiasaan tersebut? Dampaknya bisa sangat merugikan, seperti gangguan tidur, menurunnya kemampuan berkonsentrasi dan meningkatnya rasa cemas. Apakah kita boleh hanya menganggap anak-anak sebagai pengguna media sosial yang harus berhati-hati?
Dahulu, penulis berbicara tentang kebiasaan "doomscrolling" di kalangan anak-anak yang merupakan kecenderungan untuk terus menelusuri konten di media sosial tanpa henti. Kebiasaan ini dapat memicu kecemasan yang berulang dan mengganggu perkembangan mental mereka.
Anak-anak masih dalam tahap perkembangan emosi dan otak, sehingga mereka sangat rentan terhadap paparan informasi yang belum sesuai dengan usianya. Paparan ini bisa menciptakan rasa takut, sedih, dan stres yang berlangsung lama.
Dengan demikian, kita harus mengambil tindakan untuk mengatasi kebiasaan tersebut sejak dini. Orang tua dapat memantau aktivitas anak mereka dan memberikan pendampingan agar mereka tidak terjebak di dalam kebiasaan tersebut.