Mengenai Ancaman Mikroplastik yang Tersembunyi dalam Air Daratan, Tim Riset UB Desak Pemerintah Perkuat Mitigasi
Penelitian baru-baru ini menemukan bahwa keberadaan mikroplastik mulai dari wilayah Malang Raya hingga muara Sungai Brantas di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Hasilnya, kandungan partikel mikroplastik di Malang Raya relatif rendah, berkisar 4-8 partikel per liter. Namun, di area pesisir, jumlah partikel mikroplastik meningkat secara signifikan, dengan rata-rata 40 hingga 45 partikel per liter.
Menurut Prof Andi, keberadaan mikroplastik di mata air dapat terjadi karena senyawa serupa juga ditemukan dalam air hujan. Ia menjelaskan bahwa ground water recharging (pengisian ulang air tanah) di puncak gunung kan dari hujan. Jika sudah ada partikel mikroplastik, maka sangat rasional apabila terdapat kandungan mikroplastik.
Faktor penyebab mikroplastik sangat beragam, mulai dari aktivitas manusia, limbah industri, hingga partikel nano yang terperangkap di atmosfer dan turun bersama hujan. Hal ini membuat mikroplastik masuk ke siklus air alami, termasuk ke dalam sumber air yang digunakan masyarakat sehari-hari.
Penelitian ini menjadi perhatian karena menunjukkan bahwa polusi mikroplastik tidak hanya ada di pesisir atau laut, tetapi sudah merambah sumber air daratan. Maka dari itu, tim riset UB desak pemerintah untuk memperkuat mitigasi akan keberadaan mikroplastik ini.
Penelitian baru-baru ini menemukan bahwa keberadaan mikroplastik mulai dari wilayah Malang Raya hingga muara Sungai Brantas di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Hasilnya, kandungan partikel mikroplastik di Malang Raya relatif rendah, berkisar 4-8 partikel per liter. Namun, di area pesisir, jumlah partikel mikroplastik meningkat secara signifikan, dengan rata-rata 40 hingga 45 partikel per liter.
Menurut Prof Andi, keberadaan mikroplastik di mata air dapat terjadi karena senyawa serupa juga ditemukan dalam air hujan. Ia menjelaskan bahwa ground water recharging (pengisian ulang air tanah) di puncak gunung kan dari hujan. Jika sudah ada partikel mikroplastik, maka sangat rasional apabila terdapat kandungan mikroplastik.
Faktor penyebab mikroplastik sangat beragam, mulai dari aktivitas manusia, limbah industri, hingga partikel nano yang terperangkap di atmosfer dan turun bersama hujan. Hal ini membuat mikroplastik masuk ke siklus air alami, termasuk ke dalam sumber air yang digunakan masyarakat sehari-hari.
Penelitian ini menjadi perhatian karena menunjukkan bahwa polusi mikroplastik tidak hanya ada di pesisir atau laut, tetapi sudah merambah sumber air daratan. Maka dari itu, tim riset UB desak pemerintah untuk memperkuat mitigasi akan keberadaan mikroplastik ini.