Analis Bank Jateng Akui Kredit Sritex Cair Tanpa Audit Berlapis

Proses pengajuan kredit ratusan miliar rupiah Bank Jateng (BJJ) ke PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) terungkap minim verifikasi. Analis kredit BJJ, Tri Santoso, mengakui timnya tidak melakukan pengecekan data secara berlapis.

Pada 2019 Sritex sempat mengajukan kredit Rp250 miliar. Tim analis sudah menyusun draf memorandum analisa kredit, tetapi pengajuan itu tidak diproses karena dokumen tidak ditandatangani direksi perusahaan. Permohonan berikutnya datang dalam waktu berdekatan. Sritex mengajukan kredit Rp75 miliar dan Rp175 miliar, masing-masing disertai analisa kredit terpisah.

Menurut Tri, tim analis diminta segera menyelesaikan kajian kredit kedua setelah kredit pertama dianggap berjalan lancar. Dalam perhitungan awal, Sritex bahkan dinilai layak memperoleh fasilitas kredit hingga sekitar Rp700 miliar.

Skema kredit yang digunakan adalah supply chain financing (SCF), yang secara prinsip berbasis pengambilalihan tagihan pemasok. Namun, Tri mengakui tim analis hanya menggunakan data yang disampaikan Sritex serta laporan keuangan yang tersedia di laman resmi perusahaan.

Tidak ada verifikasi lanjutan ke pemasok maupun pihak ketiga lainnya. "Kami akui tidak cek ulang ke supplier," ujar Tri di hadapan majelis hakim Pengadilan Tipikor Semarang.

Saksi lain yang juga analis kredit BJJ, Wahyu Kusumanto, juga memberi kesaksian serupa. Ia menguatkan pernyataan Tri soal sistem verifikasi dalam proses penyusunan kajian analisis.

Kredit Sritex diberikan tanpa jaminan atau clean basis. Menurutnya, skema kredit tanpa agunan bukan permintaan Sritex, melainkan kebijakan internal bank berdasarkan pertimbangan tertentu.

Namun, kemudian Bank Jateng mengubah skema kredit menjadi berbasis agunan setelah ada kewajiban yang jatuh tempo dan belum dibayar. Setelah itu, borok Sritex mulai ketahuan. Ada gugatan PKPU hingga kepailitan di Pengadilan Niaga Semarang sebelum akhirnya perusahaan tekstil tersebut dinyatakan bangkrut.

Dua pegawai bank tersebut bersaksi untuk kasus dugaan korupsi kredit Sritex khusus klaster Bank Jateng. Korupsi kredit Sritex terdiri dari tiga klaster yang merugikan negara Rp1,3 triliun.
 
Udah jelas deh siapa yang ngerasa tidak jujur sama BJJ ini. Kalau diawali dengan skema kredit tanpa agunan, kayaknya itu kan cara korupsi? Dan apa yang terjadi setelah itu? Ada konsekuensi ya, tapi BJJ gak mau ngakui kalau ada kesalahan. Saya pikir kalau BJJ harus dihukum lebih keras, bukan cuma sekedar dinyatakan bangkrut saja...
 
Pagi, aku senang sekali informasi ini muncul. Maksudnya sih, kalau tidak ada verifikasi yang memadai, berapa lagi kita bisa percaya pada bank-bank di Indonesia nih? 🙄 Semua orang tahu, jika ada kemungkinan korupsi, semua orang akan langsung mengatakan "oh, itu gampang banget" atau "gak apa-apa". Tapi yang penting, kalau sistemnya tidak tepat, kita harus bertanya-tanya apakah benar-benar kita ingat. Lalu, siapa nih yang diuntungkan dengan skema kredit tanpa jaminan? 🤑
 
Maksudnya sih kapan Bank Jateng itu kayak aja ngerasa suka main-main dengan proses verifikasi kredit ya 🤦‍♂️! Sritex aja duduk santai, tidak perlu khawatir, kan? Mereka hanya minta kredit Rp700 miliar, tapi Bank Jateng itu hanya cek data yang disampaikan Sritex aja, tanpa ada verifikasi lanjutan ya 📝. Ini bikin banyak kemungkinan untuk kegagalan atau korupsi, sih...
 
Dulu aja gini, kalau ada kekurangan dalam proses pengajuan kredit siapa pun mau terkesan ngeluh deh 😒. Tapi, sekarang udah semakin jelas, bank dan perusahaan memang tidak menyediakan verifikasi yang cukup untuk memastikan keabsahan data. Mereka hanya mengandalkan data yang disampaikan oleh Sritex sendiri. Apalagi skema kredit yang digunakan sih supply chain financing (SCF), yang seharusnya berbasis pengambilalihan tagihan pemasok, tapi ternyata tidak ada verifikasi lanjutan. Itu nggak jelas banget 🤔. Mungkin jika punya sistem monitoring yang lebih baik, ini bisa mencegah terjadinya skandal seperti ini di masa depan.
 
Pokoknya biar nggak aja makin lelucon si Tri dan Wahyu tuh, mereka udah salah lho banget! Mereka bisa nggak ngecek data kredit gampang-gampang aja, asal Sritex ngasih informasi saja. Kaya-kaya seperti permainan main duniadunia! 🤔🤑

Dan si apa sih skema kredit SCF itu? Sepertinya lebih mirip dengan sistem pinjaman uang kaki lima aja, tapi dengan nama-nama teknis yang serius sekali. Tapi, ternyata gak ada verifikasi lanjutan, jadi siapa tahu apa yang benar-benar terjadi di balik skema ini? 🤷‍♂️

Dan lho, Sritex bisa mendapatkan kredit hingga Rp700 miliar tanpa agunan? Gak sabar banget sih untuk tahu bagaimana cara kerjanya! Tapi, ternyata kredit itu berubah menjadi kredit dengan agunan setelah ada masalah, dan siapa yang bilang itu tidak jujur? 🤑

Pokoknya perlu dipertimbangkan agar jangan terjadi lagi kasus seperti ini. Karena jika begitu, orang-orang yang terkena dampak bisa sangat berpengaruh... 😳
 
Saya pikir ini salah juga lagi dari BJJ 🤦‍♂️. Dulu mereka katakan bahwa uang bermanfaat bagi masyarakat, tapi ternyata justru banyak korupsi dan tidak ada verifikasi yang sebenarnya. Saya bayangkan jika tim analis memang hanya mengutamakan data yang dibawa oleh Sritex, itu seperti membaca teks di samping jalan aja 📚. Mereka harus lebih serius dalam melakukan pengecekan untuk memastikan kebenaran data. Saya rasa ini perlu diperhatikan agar tidak ada lagi korupsi yang terjadi dalam bentuk apa pun 😔.
 
kembali
Top