Pada abad ke-20, Aline Sitoe Diatta menantang imperium kolonial Prancis di Afrika Barat. Ia lahir sekitar 1920 dan menjadi yatim piatu setelah pamannya ditangkap oleh otoritas kolonial karena pajak atau perselisihan administratif. Meskipun mengalami cacat fisik, Aline meninggalkan desanya di Kabrousse untuk bekerja di Ziguinchor sebagai buruh pelabuhan pengangkut karung kacang tanah.
Setelah beberapa tahun berada di Dakar, ibu kota kolonial, Aline menikah dengan Alou Gaye Diatta dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga bagi keluarga Prancis. Ia kemudian menyaksikan erosi budaya Afrika dan penderitaan masyarakat lokal yang semakin parah pada saat pecahnya Perang Dunia II.
Pada tahun 1941, Aline mulai mendengar suara-suara yang mengidentifikasi diri sebagai Emitai, dewa pencipta dan penguasa hujan dalam agama tradisional Jola. Ia memerintah agar kembali ke Casamance untuk menyelamatkan rakyat dan menghentikan kekeringan dengan memulihkan jalan leluhur.
Aline menyerukan warga untuk menolak membayar pajak, tidak menanam kacang tanah, dan tidak membantu administrasi kolonial lainnya. Ia mendirikan kuil dan memerintahkan desa-desa harus mengorbankan sapi hitam, lalu mengadakan perjamuan bersama.
Kekerasan sporadis muncul ketika pasukan kolonial menyerbu Kabrousse pada 8 Mei 1943. Aline keluar dengan tenang dan ditangkap bersama suami dan para pembantunya. Ia tetap berpegang pada narasi teologis dan dideportasi ke Gambia, Kayes, dan Timbuktu.
Aline meninggal dunia di Timbuktu pada tahun 1944. Namanya sebelumnya dirahasiakan, ia kemudian memasuki “kehidupan kedua” sebagai sosok yang terus diperebutkan oleh kepentingan politik. Setelah kemerdekaan Senegal pada tahun 1960, namanya mulai muncul di luar Casamance.
Sejak konflik separatis meletus di Casamance pada tahun 1980-an, Aline diberi gelar sebagai simbol persatuan dan dipromosikan sebagai “Pahlawan Nasional Senegal”.
Setelah beberapa tahun berada di Dakar, ibu kota kolonial, Aline menikah dengan Alou Gaye Diatta dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga bagi keluarga Prancis. Ia kemudian menyaksikan erosi budaya Afrika dan penderitaan masyarakat lokal yang semakin parah pada saat pecahnya Perang Dunia II.
Pada tahun 1941, Aline mulai mendengar suara-suara yang mengidentifikasi diri sebagai Emitai, dewa pencipta dan penguasa hujan dalam agama tradisional Jola. Ia memerintah agar kembali ke Casamance untuk menyelamatkan rakyat dan menghentikan kekeringan dengan memulihkan jalan leluhur.
Aline menyerukan warga untuk menolak membayar pajak, tidak menanam kacang tanah, dan tidak membantu administrasi kolonial lainnya. Ia mendirikan kuil dan memerintahkan desa-desa harus mengorbankan sapi hitam, lalu mengadakan perjamuan bersama.
Kekerasan sporadis muncul ketika pasukan kolonial menyerbu Kabrousse pada 8 Mei 1943. Aline keluar dengan tenang dan ditangkap bersama suami dan para pembantunya. Ia tetap berpegang pada narasi teologis dan dideportasi ke Gambia, Kayes, dan Timbuktu.
Aline meninggal dunia di Timbuktu pada tahun 1944. Namanya sebelumnya dirahasiakan, ia kemudian memasuki “kehidupan kedua” sebagai sosok yang terus diperebutkan oleh kepentingan politik. Setelah kemerdekaan Senegal pada tahun 1960, namanya mulai muncul di luar Casamance.
Sejak konflik separatis meletus di Casamance pada tahun 1980-an, Aline diberi gelar sebagai simbol persatuan dan dipromosikan sebagai “Pahlawan Nasional Senegal”.