Alarm Bahaya Pelemahan Rupiah, Apa Dampak ke Ekonomi Indonesia?

Pelembutan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam sepekan terakhir telah menimbulkan ketakutan di kalangan pembuat kebijakan. Tekanan ini tidak hanya menciptakan kekhawatiran di kalangan pemerintah, tetapi juga menghantam ekonom dan pelaku usaha. Menurut Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, pelembutan nilai tukar rupiah juga ditimpalkan oleh kekurangan modal asing yang keluar dari negeri ini.

Pelembutan nilai tukar rupiah sendiri merupakan gejala dari ketergantungan impor pangan dan energi Indonesia yang tinggi. Menurut ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet, dampak pelembutan nilai tukar rupiah sangat meresahkan di kalangan industri otomotif dan elektronik yang mengandalkan impor untuk memenuhi barang modal. Bahkan, pergerakan harga minyak global akan membuat beban subsidi pemerintah akan semakin sulit dikontrol.

Pelembutan nilai tukar rupiah juga terus menghantam kinerja keuangan negara. Menurut Bhima Yudhistira, ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS), jika pelembutan nilai tukar rupiah terus dijalankan maka defisit anggaran akan semakin membesar dan utang pemerintah akan semakin meningkat. Dalam 2025 saja, pembayaran bunga utang telah diperkirakan mencapai Rp514 triliun.

Namun, menurut Bhima, untuk mengatasinya ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah. Pertama, memulihkan kepercayaan investor dengan menjaga independensi Bank Indonesia. Kedua, mengurangi ketergantungan impor pangan dan energi, serta menghentikan program-program yang dianggap pemborosan anggaran. Ketiga, membuka pasar ekspor baru ke negara alternatif seperti Timur Tengah, Asia Selatan, dan Amerika Selatan.

Jika pelembutan nilai tukar rupiah terus berlanjut maka akan semakin memengaruhi keuangan negara. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk mengambil langkah yang tepat untuk mengatasinya.
 
Rupiah terus jatuh, biaya impor naik 10% lagi, ini bakanya masalahnya! Jika tidak ada solusi yang cepat maka kinerja negara akan sangat buruk, utang pemerintah sudah Rp514 triliun, ini belum dipikirkan sama sekali siapa yang akan membayar utang tersebut nanti? 🤑💸 Banyak kekhawatiran tentang industri otomotif dan elektronik, apakah mereka bisa bertahan berjalan? Jika tidak ada perubahan besar maka Indonesia akan jadi negara dengan utang yang sangat berat. 🤕
 
Pelembutan nilai rupiah kan bikin ekonomi Indonesia kenyang dan tidak stabil 😒. Kalau memang harus terjadi, maka pemerintah harus langsung mengambil tindakan. Memulihkan kepercayaan investor dan mengurangi ketergantungan impor pasti bisa membantu. Tapi, apa sih dengan program-program yang biro-biro anggaran itu? Kalau buatnya biro-biro, maka uang publik akan semakin banyak 🤑. Dan tentu saja, tidak boleh lupa mencari pasar ekspor baru, tapi bagaimana nih kalau kalau ada masalah seperti ini lagi terjadi? 🤔
 
Rupiah kayaknya kayak gitu aja, kalau tidak ada solusi, pasti beresiko banget... Kalau mau jadi independen lagi, harus mulai dari mengurangi impor, tapi bagaimana caranya sih? Membuat birokrasi lebih efisien aja, ya... Jika pemerintah mau ambil langkah ke depan, mereka harus buat rencana yang tepat dan jelas juga... Dan biar tidak terburu-buru, perlu buat survei terlebih dahulu... Tapi apa salahnya kita berdiskusi tentang ini, sih?
 
Aku pikir pelembutan nilai tukar rupiah ini pasti disebabkan oleh perubahan pola konsumsi masyarakat, tapi kita tetap saja tergantung pada impor. Kalau kita fokus banget pada pengembangan industri domestik, maka kita bisa mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan kepercayaan investor 🤔💼. Nah, saya pikir langkah-langkah yang diusulkan oleh Bhima terdengar masuk akal, tapi kita harus lakukan dengan segera ya! Kita tidak bisa menunggu sampai defisit anggaran kita meledak dan utang pemerintah semakin besar 😬💸.
 
kembali
Top