Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, mantan komisaris PT Pertamina (Persero), menyatakan bahwa bermain golf merupakan bagian dari praktik negosiasi yang ideal dalam industri internasional. Ahok menyatakan hal ini saat menjadi saksi kasus korupsi tata kelola minyak mentah di pengadilan tipikor Jakarta.
Mengenai pertanyaan jaksa tentang apakah Dewan Komisaris Pertamina mengawasi etika perilaku personal jajaran direksi, Ahok menjawab bahwa awalnya dirinya memang membenci bermain golf. Ia juga melarang anak buahnya untuk tidak bermain karena sudah memiliki tugas yang terlalu banyak.
Namun, Ahok menuturkan bahwa dirinya terpaksa belajar golf setelah bergabung dengan Pertamina. Terlebih, hampir seluruh pelaku industri dari perusahaan Amerika Serikat, sering mengajak bertemu di lapangan golf.
Akhos menilai, lapangan golf justru menjadi tempat negosiasi yang lebih sehat dan efisien dibandingkan lokasi lain. Dia membandingkan golf dengan pertemuan di tempat hiburan malam.
Ahok juga menepis anggapan bahwa aktivitas tersebut berkaitan dengan perjudian atau pelanggaran etika. Menurut Ahok, praktik isi-isian di lapangan golf hanya sebatas bentuk apresiasi yang lazim dilakukan.
"Dan bahkan kami di dalam lapangan golf itu suka isi-isian juga Pak apresiasi Pak. Apresiasi Pak, bukan judi Pak itu Pak. Jadi ini sesuatu yang di lapangan golf Bapak bisa cari yang mungkin agak bahaya saya masih ingat nasihat Pak Riva pada saya, dia ngomong begini, 'istri saya cuma pesan begini Pak kalau main golf, apa? jangan lihat papa kedi ya' katanya ya, 'nanti bahaya katanya', itu saja Pak kita joke-nya Pak yang bahaya Pak," jelas Ahok.
Terdakwa dalam sidang kali ini antara lain Riva Siahaan (RS), eks Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga; Sani Dinar Saifuddin (SDS), eks Direktur Feedstock dan Product Optimization PT Kilang Pertamina Internasional, serta beberapa pejabat lain yang terkait dengan industri Pertamina.
Mengenai pertanyaan jaksa tentang apakah Dewan Komisaris Pertamina mengawasi etika perilaku personal jajaran direksi, Ahok menjawab bahwa awalnya dirinya memang membenci bermain golf. Ia juga melarang anak buahnya untuk tidak bermain karena sudah memiliki tugas yang terlalu banyak.
Namun, Ahok menuturkan bahwa dirinya terpaksa belajar golf setelah bergabung dengan Pertamina. Terlebih, hampir seluruh pelaku industri dari perusahaan Amerika Serikat, sering mengajak bertemu di lapangan golf.
Akhos menilai, lapangan golf justru menjadi tempat negosiasi yang lebih sehat dan efisien dibandingkan lokasi lain. Dia membandingkan golf dengan pertemuan di tempat hiburan malam.
Ahok juga menepis anggapan bahwa aktivitas tersebut berkaitan dengan perjudian atau pelanggaran etika. Menurut Ahok, praktik isi-isian di lapangan golf hanya sebatas bentuk apresiasi yang lazim dilakukan.
"Dan bahkan kami di dalam lapangan golf itu suka isi-isian juga Pak apresiasi Pak. Apresiasi Pak, bukan judi Pak itu Pak. Jadi ini sesuatu yang di lapangan golf Bapak bisa cari yang mungkin agak bahaya saya masih ingat nasihat Pak Riva pada saya, dia ngomong begini, 'istri saya cuma pesan begini Pak kalau main golf, apa? jangan lihat papa kedi ya' katanya ya, 'nanti bahaya katanya', itu saja Pak kita joke-nya Pak yang bahaya Pak," jelas Ahok.
Terdakwa dalam sidang kali ini antara lain Riva Siahaan (RS), eks Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga; Sani Dinar Saifuddin (SDS), eks Direktur Feedstock dan Product Optimization PT Kilang Pertamina Internasional, serta beberapa pejabat lain yang terkait dengan industri Pertamina.