Inflasi Harga Konsumen China Mencapai Tertinggi dalam Tiga Tahun, Tetapi Deflasi Masih Mengancam.
Data Biro Statistik Nasional China (NBS) menunjukkan bahwa indeks harga konsumen (CPI) mencatatkan level tertinggi dalam hampir tiga tahun pada Desember lalu, naik 0,8% secara tahunan. Namun, meskipun inflasi konsumen menguat, tekanan deflasi di tingkat produsen masih berlanjut.
Pengukuran indeks harga produsen (PPI) tercatat turun 1,9% secara tahunan pada Desember, menandai lebih dari tiga tahun berturut-turut berada di zona deflasi. Meski lebih baik dibandingkan penurunan 2,2% pada November. Sepanjang 2025, PPI tercatat menyusut 2,6%.
Kondisi ini mencerminkan ketidakseimbangan struktural dalam ekonomi China, di mana konsumsi domestik masih tertahan meskipun pertumbuhan ekonomi diperkirakan sejalan dengan target pemerintah sekitar 5% pada 2025. Tekanan eksternal juga memperparah situasi, seperti ketegangan perdagangan global dan krisis properti berkepanjangan.
Meski inflasi menunjukkan tanda pemulihan, levelnya masih relatif rendah dan tidak akan menghalangi pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut. Ekonom Capital Economics, Zichun Huang, menilai kenaikan CPI belum mencerminkan perbaikan fundamental.
Ke depan, pelaku pasar menantikan langkah stimulus tambahan pada 2026. Pemerintah pusat China telah mengalokasikan 62,5 miliar yuan atau sekitar Rp137,5 triliun dari penerbitan obligasi pemerintah khusus untuk melanjutkan program tukar tambah barang konsumsi.
Beijing juga menegaskan komitmennya menggunakan instrumen kebijakan moneter secara fleksibel, termasuk pemangkasan suku bunga dan rasio cadangan wajib bank, guna menjaga likuiditas dan menopang pertumbuhan di tengah risiko deflasi yang belum sepenuhnya sirna.
Data Biro Statistik Nasional China (NBS) menunjukkan bahwa indeks harga konsumen (CPI) mencatatkan level tertinggi dalam hampir tiga tahun pada Desember lalu, naik 0,8% secara tahunan. Namun, meskipun inflasi konsumen menguat, tekanan deflasi di tingkat produsen masih berlanjut.
Pengukuran indeks harga produsen (PPI) tercatat turun 1,9% secara tahunan pada Desember, menandai lebih dari tiga tahun berturut-turut berada di zona deflasi. Meski lebih baik dibandingkan penurunan 2,2% pada November. Sepanjang 2025, PPI tercatat menyusut 2,6%.
Kondisi ini mencerminkan ketidakseimbangan struktural dalam ekonomi China, di mana konsumsi domestik masih tertahan meskipun pertumbuhan ekonomi diperkirakan sejalan dengan target pemerintah sekitar 5% pada 2025. Tekanan eksternal juga memperparah situasi, seperti ketegangan perdagangan global dan krisis properti berkepanjangan.
Meski inflasi menunjukkan tanda pemulihan, levelnya masih relatif rendah dan tidak akan menghalangi pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut. Ekonom Capital Economics, Zichun Huang, menilai kenaikan CPI belum mencerminkan perbaikan fundamental.
Ke depan, pelaku pasar menantikan langkah stimulus tambahan pada 2026. Pemerintah pusat China telah mengalokasikan 62,5 miliar yuan atau sekitar Rp137,5 triliun dari penerbitan obligasi pemerintah khusus untuk melanjutkan program tukar tambah barang konsumsi.
Beijing juga menegaskan komitmennya menggunakan instrumen kebijakan moneter secara fleksibel, termasuk pemangkasan suku bunga dan rasio cadangan wajib bank, guna menjaga likuiditas dan menopang pertumbuhan di tengah risiko deflasi yang belum sepenuhnya sirna.