Ada Apa dengan Tompi & Pandji Pragiwaksono Soal Wapres Gibran?

Pandji Pragiwaksono, komika yang terkenal dengan gaya "stand up"nya, kembali menimbulkan kontroversi setelah mengomentari Wapres Gibran Rakabuming Raka dalam pertunjukannya. Di salah satu materi, pandji menyebut ekspresi Gibran yang disampaikan seperti mengantuk.

Tapi siapa sangka, Dr. Tompi, seorang dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetika, ikut berkomentar dengan mengecam pendekatan tersebut. Menurutnya, memertawakan kondisi fisik seseorang, termasuk Wapres Gibran, bukanlah bentuk kritik yang cerdas.

Tompi berpendapat bahwa mengibarkan kondisi psikis siapapun sebagai bahan candaan bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir. Ia mengajak semua orang untuk meningkatkan standar diskusi publik kita: kritisi gagasan, kebijakan, dan tindakan, bukan fisik yang tidak dipilih oleh pemiliknya.

Unggahan Tompi ini mendapatkan dukungan dari beberapa netizen, sementara ada juga yang menilai bahwa hanya membela Gibran karena menjadi pendukungnya.
 
Maksudnya sih kalau kita nggak bisa membedakan apa yang harus dianggap sebagai kritik dan apa yang cuma justru nggak bijak banget πŸ€”. Maksud Dr. Tompi sih kita buat kritisisme kita lebih bijak, bukan hanya fokus pada fisik aja. Kita harus bisa membedakan kalau seseorang sedang memberikan kritik yang serius atau apa yang cuma nggak bijak banget dan itu kayaknya tidak ada hubungannya sama sekali dengan pendukung ataulawannya πŸ˜’. Dan yang paling penting sih kita harus bisa berdiskusi dengan lebih baik, jangan hanya fokus pada fisik aja πŸ€·β€β™‚οΈ.
 
Oooh, sih, kayaknya Tompi benar aja, serius ya! Mendadak mengibarkan kondisi fisik orang lain sebagai bahan candaan itu gede banget! Yang perlu diangkat adalah gagasan atau kebijakan yang tidak tepat, bukan tubuh siapa pun. Saya setuju dengan Tompi, kita harus meningkatkan standar diskusi kita, jangan hanya fokus pada fisik ya! πŸ™Œ
 
Aku setuju bahwa komentar Pandji Pragiwaksono itu jengkel, tapi aku kurang puas dengan cara Tompi menjawabnya. Aku pikir Tompi terlalu kasar dan tidak fokus pada isu utama yang ada di komentar Pandji. Yang perlu disadari, kita tidak boleh semua menyerap pendapat dari orang lain tanpa memikirkannya sendiri. Kita harus bisa berdiskusi dengan bijak dan tidak hanya tertinggal dengan pendapat seseorang. Aku ingin melihat pendapat Tompi yang lebih positif dan konstruktif, bukan hanya membelah komentar Pandji. πŸ’‘
 
Gampang banget sih kayak gitu πŸ€”. Komika Pandji itu langsung aksi tanpa pikir-pikir. Mereka mengibarkan kondisi fisik Wapres Gibran yang tidak relevan dengan konteks pertunjukan. Sementara Tompi, dokter plastik itu benar-benar paham tentang pentingnya standar diskusi publik kita. Kita harus lebih bijak dalam memberikan kritik, bukan sekadar mengibarkan fisik orang lain πŸ™…β€β™‚οΈ.
 
Gak bisa disangkal lagi sih, ketika orang seperti Pandji Pragiwaksono ngomongin halusinasi Wapres Gibran saat pertunjukannya itu... kira-kira sih dia ngikuti jejak komedian yang sederhana aja, tapi gak bermakna sama sekali. Dr. Tompi benar-benar bikin ponsel kita berkedip, karena dia melihat jauh lebih dalam dari kejahatan itu. Kalau kayaknya Pandji udah kehilangan batas antara komedi dan ketidakabalan. Saya bayak penasaran siapa yang memang mendukung Pandji ini... tapi saya juga paham kalau ada orang yang hanya mengikuti jejak Gibran, karena dia itu seorang yang kayaknya nggak perlu dipermalukan.
 
Wah, kayaknya konflik ini makin panas nih... Saya rasa pandji pasti tidak bermaksud mengiri Wapres Gibran dengan cara itu, tapi malu-malu buat ngomong dulu. Tompi yang ikut berbicara kayaknya punya poin penting banget, kita harus lebih bijak dalam mengkritik orang lain, jangan sekedar sambil tertawa aja...
 
gak berarti komika pandji harus jujur sih, tapi kayaknya dia salah paham lagi apa yang makanya gibran ngomong sedemikian. tapi sepertinya orang-orang yang ikut komentari tompi kayaknya punya pandangan yang lebih cerdas dan bijak banget... πŸ€”

mengibarkan kondisi psikis seseorang bukanlah kritik yang cerdas, tapi siapa aja bisa memahami itu? kayaknya kita harus lebih peduli dengan pendapat orang lain daripada fokus pada fisiknya... 😊

tapi aku juga pikir tompi benar, kita harus meningkatkan standar diskusi publik kita agar tidak terlalu kasar atau tidak jujur lagi. tapi siapa aja punya pendapat yang berbeda... πŸ€·β€β™‚οΈ
 
Si komika Pandji Pragiwaksono lagi ngeluar ceritanya πŸ€¦β€β™‚οΈ. Aku pikir kayaknya dia harus lebih bijaksana dulu sebelum nge-tweet tentang orang penting like Wapres Gibran. Tapi aku setuju dengan dokter Tompi, dia benar-benar bilang pas-pasan itu tidak cerdas banget πŸ˜‚. Yang perlu kita lakukan adalah kritisi ide-ide yang salah dan meningkatkan diskusi yang konstruktif, bukan ngibor-ngibar kondisi fisik orang lain 🀝. Aku harap komika-komika lainnya bisa belajar dari kesalahan Pandji ini 😊.
 
Gue penasaran kapan kita bisa berdiskusi tanpa harus mengibarkan kondisi fisik orang lain siapa? Gue rasa kritik Tompi cukup bijak, tapi gue juga rasa dia belum melihat dari perspektif komika yang dibutuhkan oleh masyarakat. Siapa bilang bahwa komika harus selalu cerdas dan tidak bisa membuat seseorang tertawa? Gue rasa ada kunci yang perlu kita ketuk berdua, yaitu membuat kritik yang bijak tanpa harus mengibarkan kondisi fisik orang lain siapapun. πŸ€”πŸ’‘
 
Gue think kalau komika itu harus benar-benar berhati-hati kalo dia komentar tentang orang-orang di pentas πŸ˜‚. Bayangin aja kalau dia komentar tentang gue sendiri, apa yang jadi? Gue rasa Tompi punya point yang tepat, kita tidak boleh mengeremkan orang karena kita takut jawa banget 🀣. Kita harus belajar untuk berdiskusi dengan bijak, bukan hanya fokus pada fisik ya πŸ˜‚. Gibran bilang apa aja, kalau dia ingin berbicara tentang isu-isu sosial kita, gue setuju banget πŸ™Œ. Tapi kalau komentar itu buat jebakan, gue rasa tidak benar πŸ€”.
 
Pandji Pandji itu gak bisa disangka-sangkainya kayaknya! Aku pikir dia jadi bikin kontroversi lagi sih. Tapi apa yang penting adalah Dr. Tompi berbicara dengan bijak, kalau tidak bikin kritik fisik kayak pandji, tolong cari cara lain ya? Kita harus peduli dengan hal-hal yang benar dan tidak, bukan cuma ngeremang-ngremang aja. Kalau kita bisa berdiskusi dengan bijak, mungkin kita bisa membuat perubahan yang positif di Indonesia πŸ™
 
Pandji Pragiwaksono lagi-lagi bikin kontroversi πŸ˜‚. Saya pikir pendekatannya itu nggak tepat, harus diingat siapa targetnya si Wapres Gibran. Jadi instead aja bicara langsung dengan Gibran ya, jangan anehkan dulu πŸ€”. Dan Dr. Tompi kayaknya benar, kalau kita terus memeriahkan kondisi fisik orang lain, apa kecerdasan kita itu nggak bisa berkembang? Kita harus lebih bijak dalam membahas isu-isu ini, tidak hanya sekedar mengibarkan rambut atau wajah siapapun πŸ˜‚.
 
Pandji Pragiwaksono kayaknya nggak usah dihukum, tapi aku pikir komentarnya itu kayak pakaian yang tidak sesuai dengan kesan yang diinginkan, kaya perut lemas. Maksudku, kalau mau kritik, jangan sampai kasar kayak itu, tapi bisa ngobrol aja seperti adik beradik. Dr. Tompi benar-benar pintar banget, aku senang dia bisa memberikan contoh bahwa cara kita berdiskusi harus lebih bijak, tapi aku rasa banyak orang nggak mau mendengarkan, kayak kebiasaan makan siang tanpa nasi.
 
Mau dibilang siapa aja, komika Pandji Pragiwaksono harus lebih waspada giliran. Jangan pusing aja dengan kekonyolan orang lain, deh. Tapi nggak salah juga kalau kita terkesan, karena kita bisa saling memahami. Kita punya watak untuk mengkritik, tapi juga harus tahu kapan ketepikan itu tidak tepat. Mau dipercaya atau tidak, kalau Tompi bilang pendekatan Pandji nggak bijak, itu juga benar-benarnya!
 
kembali
Top